Deputi KPPPA: Peran Ayah Sangat Penting Untuk Cegah Stunting
Redaktur: ME. Bijo Dirajo
MALANG — Saat ini Indonesia menempati peringkat ke lima negara dengan angka Stunting tertinggi di dunia. Peringkatan tersebut mengacu pada bahwa 1 dari 3 anak Indonesia di bawah usia lima tahun mengalami pertumbuhan fisik dan kondisi anak kurang optimal akibat kekurangan gizi sejak dalam kandungan hingga usia dua tahun.
Menindaklanjuti permasalahan tersebut, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPP dan PA) bekerjasama dengan Millennium Challenge Account (MCA) Indonesia berupaya menyusun sekaligus menyebarluaskan sebuah modul mengenai pelibatan peran Ayah.
Deputi KPP dan PA bidang tumbuh kembang anak, Dra. Lenny N. Rosalin. MSc. M. Fin, menjelaskan bahwa stunting disebabkan faktor multidimensi di antaranya praktik pengasuhan yang tidak baik, terbatasnya pelayanan kesehatan, kurangnya akses ke makanan bergizi dan kurangnya akses ke air bersih dan sanitasi.
Praktik pengasuhan yang kurang baik dapat memberikan kontribusi pada stunting. Oleh sebab itu pelatihan pola asuh yang baik mengenai nutrisi anak serta pengetahuan tentang nutrisi ibu hamil sangat penting untuk dilakukan terutama dengan melibatkan Ayah yang memiliki peran yang setara dengan ibu dalam pengasuhan anak.
Dikatakan Lenny, selama ini peran Ayah dinilai belum optimal karena masih banyak Ayah yang lebih mementingkan menggunakan uangnya untuk membeli rokok daripada membeli makanan yang bergizi untuk anak atau istrinya yang sedang hamil.
“Istrinya lagi hamil mestinya uangnya harus banyak digunakan untuk memenuhi nutrisi dari ibu hamil, ini justru buat beli rokok,” ungkapnya, Rabu (7/3/2018).
Padahal dengan semakin banyak ayah-ayah yang berperan maka akan semakin positif dampak yang akan diterima oleh sang anak. Sehingga hal ini juga bisa memberikan dampak positif juga terhadap upaya-upaya penanganan gizi termasuk masalah stunting, imbuhnya.
“Jangan hanya menjagakan ibu dalam pola pengasuhan, tapi harus dilakukan berdua dengan Ayah,” katanya.
Lebih lanjut Lenny mengatakan, kurangnya pengetahuan tentang kesehatan dan gizi dari para orang tua juga sebagai penyebab stunting. Kebanyakan dari para orang tua berfikir bahwa makanan bergizi itu harus mahal, padahal anggapan itu tidak benar.
“Makanan bergizi tidak harus mahal. Mereka bisa menanam sendiri sayuran, kemudian diolah secara bergizi dan juga membuat variasi makanan yang sehat. Hal-hal sederhana seperti ini yang juga harus dipahami di tingkat keluarga,” terangnya.
Tidak hanya orang miskin yang bisa menderita stunting, tapi ada juga orang kaya yang stunting karena kurangnya pengetahuan tentang gizi.
“Jadi sebenarnya penyebabnya stunting sangat kompleks sekali tapi minimal empat faktor tadi,”ujarnya.
Untuk itu Lenny kembali menegaskan, peran ayah sebagai pengambil keputusan dapat membantu upaya pencegahan stunting karena dengan adanya peran Ayah akan membuat keluarga lebih berkualitas.
Sementara itu disebutkan Lenny, setelah modul pelibatan ayah dalam pencegahan stunting selesai disusun, pihaknya akan segera melakukan penyebaran informasi ke semua pihak secara merata dari sabang sampai merauke.
“Penyebaran modul ini nantinya akan disebarkan ke 65 juta keluarga melalui Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspa), kabupaten dan kota layak anak, satgas perlindungan perempuan dan anak dan keluarga pelopor,” pungkasnya.