Benyamin Biang Kerok, Sajian Gado-gado Genre

Editor: Satmoko

Adegan Film Benyamin Biang Kerok (Foto Istimewa/ Dok PH Falcon Pictures)

JAKARTA – Apa yang harus diperjuangkan jika sudah punya harta melimpah?

Pengki adalah anak konglomerat yang dimanjakan berbagai fasilitas kemudahan yang penuh kemewahan. Sampai Pengki kemudian jatuh cinta pada Aida yang membuatnya tersadar, bahwa hidup bukan hanya mengandalkan harta semata-mata, tapi juga perlu perhatian dan cinta kasih sayang.

Demikian yang mengemuka dari ‘Benyamin Biang Kerok’. Kebiangkerokan Pengki yang tampak mencoba anti-kemapanan.

Film ini diawali dengan Tora Sudiro seperti James Bond menyusup ke sebuah casino. Aksi spionase Tora ini tentu tak sendiri, tapi dibantu Somad (Adjis Doa Ibu) dari rumah dengan pantauan peralatan canggih untuk bisa masuk casino yang begitu sangat ketat penjagaan. Memakai teknologi canggih sebagaimana dalam film-film science fiction. Tora yang sulit diatur membuat Somad harus ekstra keras memantau keadaan agar aksinya aman.

Sampailah Tora masuk ke casino dan kemudian berhasil duduk di meja judi berhadapan dengan Hengki (Hamka Siregar), seorang preman dengan didampingi asisten Melaney Ricardo dan Said (H. Qomar), bos mafia yang ditengarai licik dan sangat berbahaya yang selalu didampingi robot cantiknya.

Tora dapat menang banyak tapi kemudian asisten Hengki memergoki kecurangannya, hingga tiba-tiba casino ilegal milik Said itu digerebek polisi.

Begitu digerebek polisi, casino chaos dan seluruh pengunjung berlarian masing-masing menyelamatkan diri. Hengki secepatnya pergi. Sedangkan, Said begitu tenang diselamatkan anak buahnya. Adapun, Tora langsung masuk ke toilet untuk mengakhiri penyamaran dengan membuang kulit wajah Tora berganti wajah Pengki (Reza Rahadian) yang kemudian menampakkan gaya gokil Benyamin, meski kurang berhasil.

Setelah itu adegan berganti di pagi hari, pada sebuah kamar mewah yang dilengkapi teknologi canggih, tv layar datar, bukan saja menyiarkan berita tapi juga sebagai panduan kegiatan kamar.

Lalu tampak Pengki dengan mendengkur bergaya gokil Benyamin yang ternyata bisa pula nyaris mirip. Pengki begitu malas bangun tapi begitu diteriaki ibunya (Meriam Bellina) langsung bangun dan serta-merta pergi kamar mandi.

Selanjutnya, adegan brutal sekelompok genk mengobrak-abrik perkampungan. Orang-orang kampung tampak saling menyelamatkan diri masing-masing. Tapi kemudian Lydia Kandou bersama kedua anaknya, Somad dan Achie (Aci Resti), berani menghadapi genk brutal itu. Lydia memukul ketua genknya sampai tubuhnya terlempar membumbung tinggi menubruk pesawat, mengingatkan kita pada film Shaolin Soccer.

Tak lama Pengki datang menyelamatkan kampung itu dengan tas berisi uang. Gaya Pengki yang borju karena anak mami yang konglomerat tentu membuat sekelompok genk itu pergi. Dalam penggusuran kampung itu, kekerasan tampaknya tak bisa dihadapi dengan kekerasan. Masih ada lagi yang berkuasa atas hukum rimba. Ternyata, uang yang paling berkuasa dan memenangkan hukum rimba, uang seperti menjadi satu-satunya solusi.

Sebagai anak orang kaya, Pengki dianggap sebagai anak manja, yang hanya menghamburkan uang orang tuanya. Suatu hari, Juki, anak kampung yang dibina Pengki tidak datang dalam permainan sepakbola karena kecelakaan. Pengki pun langsung ke tempat kecelakaan dan mendapati Juki bersama Aida (Delia Husein), seorang biduan ternama ibu kota. Begitu melihat Aida, Pengki langsung jatuh cinta.

Pengki selama ini dianggap lelaki tak berguna. Maminya selalu menganggap Pengki hanya sebatas anak manja yang menghambur-hamburkan uang ibunya. Cintanya kepada Aida rupanya mampu mengubah sifat Pengki yang kemudian jadi punya cita-cita.

Yaitu memiliki sekolah yang bisa menampung anak-anak miskin. Karena itu Aida benar-benar jadi harapan Pengki. Sayangnya, Said memergoki hubungan Pengki dan Aida, sekaligus berhasil membongkar kedoknya, saat dia mendatangi casino miliknya.

Di tengah situasi yang pelik itu, Hengki datang dan mengajak Pengki, Somad dan Achie untuk bekerjasama. Hengki menaruh dendam pada Said karena jam tangan berharganya tersandera Said saat kalah di meja judi casino. Hengki meminta Pengki untuk mengambil jam tangan miliknya, sekalian mengambil seluruh kontrak hutang piutang orang tua Aida kepada Said. Dengan begitu Pengki bebas bisa mengambil Aida.

Pengki, Somad dan Achie menggunakan perlengkapan canggih untuk membobol rumah Said. Berhasilkah mereka membobol rumah bos mafia itu? Bagaimana hubungan Pengki dan Aida selanjutnya?

Film semi-musikal ini cukup menghibur. Hanung Bramantyo tampak menggarap film ini dalam banyak genre, atau istilah lain gado-gado genre karena memasukkan banyak genre, kecuali genre horor. Skenario film ini ditulis oleh tiga orang, yaitu Bagus Bramanti, Seno Aji Julius dan Hilman Mutasi,  seperti banyak pikiran dan keinginan yang mau ditampilkan dalam film.

Reza Rahadian tampil kurang maksimal. Tak gampang memang menirukan Benyamin dengan gaya bicara, lawakan dan ekspresi yang Betawi banget. Reza tampaknya kurang mampu menampung “roh Benyamin”, masih sebatas jasad. Sesekali ia mirip Benyamin tapi hanya sebentar, setelah itu gagal.

Begitu juga Delia Husein yang kalau dibandingkan dengan Ida Royani tampak berbeda jauh. Delia belum tampak kebintangannya. Dalam film ini masih sekedar tempelan saja. Ia memang dicintai Pengki.

Untung film ini didukung aktor-aktris kawakan sehingga menyelamatkan film ini. Seperti di antaranya, Rano Karno yang meski tampak sekelebat tapi mampu mengobati kerinduan kita pada sosok Benyamin. Karena sosok Rano memang dekat dengan Benyamin.

Meriam Bellina meski tampil tidak terlalu banyak, tapi begitu menyentak dan menenggelamkan Reza Rahadian yang berusaha keras menjadi Pengki.

Qomar pas dengan karakter penjahat. Meski ia pelawak, tapi kalau berakting serius bisa seperti penjahat yang berdarah dingin.

Menonton film ini, seperti makan gado-gado, tapi tak ada satu pun yang mengena maupun hinggap di ingatan kita. Usaha keras Reza Rahadian ingin menjadi Benyamin, meski kurang berhasil, tapi tetap penting diapresiasi. Karena Reza berani. Nilai plusnya hanya ini. Sebenarnya Reza dikenal aktor yang total, tapi kemampuan ada batasnya.

Begitu juga me-remake sebuah film ada batasnya. Ada yang hilang dari film ini dibanding dengan film sebelumnya pada tahun 1972, yaitu tentang keuletan, kerja keras dan semangat untuk menghibur, sekaligus memberikan renungan.

Lihat juga...