Banjarmasin Gandeng Ritel Modern Kembangkan Pasar Produk Lokal
Redaktur: ME. Bijo Dirajo
BANJARMASIN — Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Banjarmasin terus mendorong berbagai produk lokal bisa naik kelas. Salah satu caranya dengan menjalin kerja sama pemasaran produk lokal dengan ritel modern.
“Sudah sejak tahun lalu tahun lalu kita jalin kerjasama ini. Jadi produk-produk lokal yang potensial kita arahkan untuk bisa dijual di ritel modern yang ada di Kota Banjarmasin,” jelas Kepala Disperindag Kota Banjarmasin, Khairil Anwar, Jumat (9/3/2018).
Dikatakan Khairil, dengan pola kerjasama tersebut sejauh ini sudah ada beberapa produk lokal yang dijual di ritel modern. Pihaknya pun berharap di 2018 akan semakin banyak lagi produk lokal yang bisa dipajang di estalase ritel modern yang kini jumlahnya di Banjarmasin mencapai 110 outlet.
“Bagi produk yang kita lihat potensial biasanya pengusahanya kita panggil. Lalu kita arahkan untuk melengkapi berbagai persyaratan yang diminta ritel modern. Kalau semuanya sudah terpenuhi baru kita pertemukan dengan pihak ritel modern untuk diseleksi,” tambahnya.
Bahkan tambah Khairil, produk lokal yang belum potensial pun, pihaknya rangkul untuk diberikan pelatihan terlebih dahulu agar bisa memenuhi persyaratan masuk ke ritel modern.
Dengan makin banyaknya produk lokal yang dijual di ritel modern, diharapkan Khairil dapat mendorong pengembangan pemasaran produk lokal. Ujungnya omset bisa naik dan usaha yang mereka rintis menjadi tambah maju.
“Kalau tambah maju kan tentunya sebagian pendapatan mereka bisa dipungut oleh negara. Selain itu juga pasti juga penyerapan tenaga kerja di sektor informal bisa tambah baik,” tuturnya.
Sebelumnya, Ketua Dewan Pembina Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Kota Banjarmasin Ali Hasni mengapresiasi mulai banyaknya produk lokal yang dijual di ritel modern.
Walau begitu ia berharap ritel modern konsisten melakukan pembayaran secara tepat waktu dengan tempo yang tidak terlalu lama. Hal itu mengingat keterbatasan modal yang dimiliki oleh pengusaha lokal.
“Jangan sampai berbulan-bulan baru dibayar tagihannya, kasihan pengusaha lokal tidak berputar modalnya. Kalau seperti itu artinya pengusaha kecil yang mensubsidi pengusaha besar, harusnya sebaliknya,” pungkasnya.