‘Banjaran Jogja Istimewa’ Kisahkan Peran Pak Harto di SO 1 Maret

Editor: Mahadeva WS

YOGYAKARTA – Wayang Republik memeriahkan pesta rakyat memperingati Serangan Umum 1 Maret 1949 di komplek Memorial Jenderal Besar HM Soeharto di Dusun Kemusuk, Argomulyo, Sedayu, Bantul, Jumat (3/3/2018) malam. Wayang kreasi ini bercerita tentang sejarah perjuangan RI di era 1945-1949.

Dalang Wayang Republik Ki Catur Kuncoro, mengemukakan, lakon ‘Banjaran  Jogja Istimewa’ yang dimainkannya pada peringatan SO 1 Maret 1949 ini mengisahkan tentang peran Kota Yogyakarta dalam upaya meraih kemerdekaan. Dari era kemerdekaan 1945 hingga 1949, ketika ibu kota negara berpindah ke Yogyakarta dan kembali lagi ke Jakarta.

“Dalam kisah itu, ada sepenggal sejarah penting yang bisa dikatakan paling menentukan nasib bangsa ini, yaitu peran Soeharto dalam Serangan Umum 1 Maret 1949”, kata Ki Catur Kuncoro.

Ki Catur Kuncoro saat menerima tokoh wayang Soeharto dari Sisti Hediati Haryadi, Titiek Soeharto – Foto Koko Triarko

Menurutnya, SO 1 Maret 1949 menjadi salah satu tonggak sejarah penting kemerdekaan RI. Karena setelah itu, muncul perundingan-perundingan yang mengukuhkan kembali eksistensi Republik Indonesia, yang saat itu diklaim oleh Belanda sudah tidak ada.

Wayang Republik dimainkan selama 1,5 hingga dua jam, oleh 12 wiyaga yang dua di antaranya merupakan sinden. Ada pun tokoh pewayangan dalam wayang kreasi ini terdiri dari 25 tokoh pejuang, seperti Bung Karno, Pak Harto, Sudirman dan lainnya.

Ki Catur Kuncoro mengatakan, Wayang Republik ini  diciptakan sejak 2010, ketika masyarakat Yogyakarta tengah memperjuangkan keistimewaan DIY. Untuk menunjukkan keistimewan itu, Ki Catur Kuncoro menciptakan Wayang Republik dengan kisah-kisah perjuangan, yang menunjukkan pentingnya peran Yogyakarta di masa lalu, dan karenanya layak disebut istimewa.

Antusiasme warga menyaksikan Wayang Republik di Memorial Jenderal Besar HM Soeharto, Sabtu (3-3-2018)- Foto Koko Triarko

Selain Wayang Republik, Ki Catur Kuncoro yang memiliki basic wayang tradisi juga menciptakan Wayang Hip Hop dan Wayang Diponegoro. Ia mengaku menyukai sejarah perang kemerdekaan, dan menyatakan, jika Soeharto adalah seorang negarawan, yang mampu menyatukan keberagaman suku dan bahasa.

Lihat juga...