Warga Desa Ruguk Jadikan Penambangan Pasir sebagai Sumber Penghasilan
Editor: Irvan Syafari
LAMPUNG — Hujan deras yang melanda di wilayah Kecamatan Palas, Ketapang di Lampung Selatan memberi dampak negatif bagi sejumlah warga di Desa Pulau Tengah dan Desa Mekarmulya, Kecamatan Palas, serta Desa Ruguk dan Desa Lugundi, Kecamatan Ketapang.
Sekalipun hujan menyebabkan terendamnya lahan pertanian, tetapi juga memberikan dampak positif bagi warga di sekitar bantaran Sungai Kelala, dekat Desa Ruguk. Mata pencaharian sebagai penambang pasir tradisional memberikan penghasilan bagi warga.
Pasir yang ditambang warga menjadi kebutuhan bahan bangunan untuk pembangunan Jalan tol Trans sumatera (JTTS). Menurut Umar (50), salah satu pencari pasir di Sungai Kelala, volume pasir di sungai tersebut kerap selalu bertambah seusai hujan dan banjir. Lokasi penggalian dengan desa berjarak 350 meter. Warga mencari pasir dengan peralatan seadanya.
“Kami mempergunakan peralatan seadanya berupa pelampung dari ban dalam bekas, pelampung jerigen hingga pelampung bekas kincir air tambak untuk membawa pasir ke lokasi pengumpulan,” terang Umar saat ditemui Cendana News, Selasa (27/2/2018)
Pasir yang diangkat dari dasar sungai dengan cara mengeruk mempergunakan ember dan peralatan lain, dicari dalam kondisi basah.
Selanjutnya pasir akan dikeringkan sebelum diangkat ke lokasi pengepulan sembari menunggu kendaraan roda empat pengangkut. Dalam sehari Umar mendapat setengah kubik pasir dan bisa dijual setelah sepekan dalam kondisi kering.
Kualitas pasir hitam didapat warga sangat bagus untuk bangunan dan proyek jalan tol, diorder dalam jumlah besar. Satu kubik pasir dijual dengan harga sekitar Rp200.000, sehingga dalam satu dum truk kecil dengan muatan tiga kubik pasir dirinya bisa memperoleh penghasilan sekitar Rp600 ribu per pekan.
Terdapat sekitar 30 pencari pasir di wilayah tersebut. Samini (40), pencari pasir lainnya menyebut, kaum wanita di Desa Ruguk dan desa lain memanfaatkan waktu luang mencari pasir.
“Saat tidak ada pekerjaan lain, mencari pair menjadi pekerjaan yang mudah tanpa membutuhkan modal banyak hasilnya lumayan,” ujar Samini.
Penambangan pasir secara tradisional ikut membantu kelancaran arus air. Jika tidak ditambang pendangkalan sungai mengakibatkan meluapnya sungai ke perkampungan penduduk.
Sumini yang dibantu sang anak mengaku bisa mendapatkan uang sebesar Rp400 ribu perpekan dari mencari pasir. Pekerjaan mencari pasir bagi Sumini merupakan pekerjaan sampingan di sela pekerjaan utama dirinya sebagai buruh tani.
Kendaraan truk setiap hari membeli pasir secara bergiliran dari penambang pasir yang dikelola oleh warga desa. Menurut Sumini setiap kendaraan yang mengangkut pasir akan menyerahkan nota, yang bisa dicairkan ke pengepul sesuai perjanjian untuk proyek jalan tol.
Sementara untuk pembeli perseorangan, ia kerap memperoleh uang pembelian dari para perantara jual beli pasir. Hasil mencari pasir tersebut membuat Sumini bisa menguliahkan anaknya.
Agus, salah satu pengemudi kendaraan pencari pasir mengaku kerap melayani permintaan pencari pasir untuk bangunan. Pasir yang diangkut dengan kendaraan L300 dan truk tersebut dikumpulkan ke sejumlah pengepul dan langsung dibawa ke konsumen dengan harga Rp500 ribu hingga Rp800 ribu, tergantung jarak tempuh.
Menurut Agus kualitas pasir yang ditambang penduduk disukai oleh pembuat batako, paving blok dan bangunan perumahan. Permintaan yang tinggi akan pasir juga seiring dengan larangan penambangan pasir di Lampung Timur dengan sistem mesin sedot.
“Saat ini mesin sedot pasir dilarang, sehingga pasokan pasir dari Lampung Timur sulit dan tambang pasir sungai di Sungai Kelala melimpah,” beber Agus.
Selama masih ada penambang pasir para pengepul masih akan mendapat pasokan pasir dan perputaran ekonomi di Sungai Kelala tetap berjalan.