UNICEF: Polusi Udara Ancam Kesehatan Warga Mongolia

Peta Mongolia/Google Map.

ULAN BATOR — Kabut asap Ulan Bator, ibu kota Mongolia, menyebabkan krisis kesehatan, terutama pada anak-anak, dengan biaya pengobatan yang cenderung membuat negara kekurangan dana tunai tersebut meningkat, demikian Dana Anak-anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF).

Pemerintah perlu mengambil tindakan mendesak untuk membatasi masalah kesehatan akibat asap, demikian UNICEF dan Pusat Kesehatan Masyarakat Nasional Mongolia dalam sebuah penelitian.

Ditambahkan bahwa kegagalan untuk bertindak dapat mendorong biaya pengobatan hingga sepertiga pada 2025, yang selanjutnya akan berjumlah 4,8 miliar tugrik (2 juta dolar Amerika Serikat) per tahun di ibu kota.

“Polusi udara telah menjadi krisis kesehatan anak di Ulan Bator, membuat setiap anak dan ibu hamil berada dalam risiko,” ujar Perwakilan UNICEF Mongolia Alex Heikens dalam sebuah siaran pers, Jumat (23/2)

“Risikonya termasuk lahir mati, kelahiran prematur, bayi lahir dengan berat badan rendah, pneumonia, bronkitis, asma, menghambat perkembangan otak dan kematian,” katanya.

Tingkat polusi di Ulan Bator telah menjadi lebih buruk dibandingkan di kota-kota seperti Beijing dan New Delhi, demikian dalam laporan UNICEF dan badan kesehatan publik tersebut, yang dirilis pada Kamis.

Konsentrasi partikel udara untuk bernapas yang dikenal sebagai PM2.5 mencapai 3.320 mikrogram per meter kubik di satu stasiun pemantau pada 30 Januari, menurut mereka.

Rata-rata pembacaan PM2.5 untuk Januari mencapai sekitar 206 mikrogram di Ulan Bator.  Namun hal itu berdasarkan data pemerintah yang tidak lengkap.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan rata-rata konsentrasi PM2.5 tahunan tidak lebih dari 10 mikrogram. PM2.5 di Beijing mencapai 34 mikrogram pada Januari, turun 70,7 persen dari tahun sebelumnya.

Mongolia tengah berjuang menghadapi polusi di ibu kotanya, tempat arus pengangguran suku penggembala bermigrasi dari pedesaan telah menyebabkan populasi tersebut berlipat ganda dalam waktu kurang dari dua dekade.

Pemerintah telah menawarkan subsidi untuk tungku pembakaran kayu dan batu bara yang lebih efisien dan juga menyediakan listrik gratis pada malam hari di beberapa distrik.

Namun, kabut asap meningkat di musim dingin, terutama di lingkungan buruk “ger,” lingkungan dengan tenda-tenda yang didirikan banyak migran untuk tinggal.

Banyak rumah tangga “ger” membakar batu bara atau bahkan sampah agar tetap hangat, dan asap yang mereka hasilkan menyebabkan lonjakan penyakit pernafasan dan jantung serta memicu kemarahan dan protes.

“Mengurangi tingkat polusi udara adalah satu-satunya solusi berkelanjutan jangka panjang untuk melindungi kesehatan anak-anak,” kata Heikens.

“Sementara itu, ribuan anak akan terus menderita, kecuali jika tindakan segera dilakukan,” tegasnya (Ant).

Lihat juga...