Perpuseru Titian Ilmu Lamsel Latih Masyarakat Berwirausaha

Editor: Irvan Syafari

LAMPUNG — Konsep perpustakaan sebagai media belajar masyarakat terus dikembangkan oleh perpustakaan seru (Perpuseru) Titian Ilmu Desa Titiwangi Kecamatan Candipuro Kabupaten Lampung Selatan.

Menurut Kepala Desa Titiwangi Sumari program pemberdayaan berbasis masyarakat untuk peningkatan ekonomi menjadi salah satu misi desa tersebut. Pengembangan potensi desa tersebut bertujuan untuk meningkatkan pendapatan asli desa (PAD) dari sektor ekonomi kerakyatan.

Keberadaan Perpuseru Titiwangi yang dikelola oleh pengurus dengan berbagai peranan, salah satunya dalam pemberian pelatihan kepada masyarakat dan generasi muda.

Saat tahap awal proses pembentukan Perpuseru dengan koleksi buku yang minim ia bahkan menyebut proses pembelian buku tambahan dilakukan dengan menjual es yang dipergunakan untuk melengkapi koleksi buku.

“Jiwa wirausaha sudah ditanamkan pada generasi muda dengan melihat potensi usaha kecil yang bisa meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat,” terang Sumari Kepala Desa Titiwangi Kecamatan Candipuro saat dikonfirmasi Cendana News baru baru ini.

Seiring perjalanan waktu dengan adanya dedikasi pengurus, Perpuseru yang dikepalai oleh Nur Salim tersebut mulai melakukan inovasi pemberdayaan dalam pengembangan sumber daya manusia terutama generasi muda.

Salah satu program yang diberikan diantaranya berupa pelatihan kursus komputer bagi anak anak usia sekolah dasar dengan mengetik sepuluh jari, program komputer serta pemanfaatan komputer untuk desain grafis.

Bantuan komputer sebanyak empat unit dari Corporate Social Responsibility (CSR) Coca Cola Foundation Indonesia (CCFI) ikut mendorong pengembangan perpustakaan tersebut.

Selain itu alokasi penggunaan dana desa pada anggaran tahun 2017 untuk pengembangan perpustakaan ikut memajukan Perpuseru Titian Ilmu sebagai tempat belajar masyarakat di antaranya dalam penyediaan fasilitas jaringan internet.

“Jaringan internet digunakan secara maksimal untuk pemasaran produk unggulan desa secara online termasuk hasil kerajinan Perpuseru Titian Ilmu,” terang Sumari.

Keberadaan Perpuseru sebagai pusat kegiatan masyarakat disebut Sumari juga terintegrasi dengan badan usaha milik desa (Bumdes) Wira Usaha Sanitasi dan koperasi unit desa (KUD) Sepakat.

Promosi produk Bumdes berupa closet serta jamban murah disebutnya ikut memberi pendapatan asli desa melalui penjualan closet bagi masyarakat.

Setiyo Untoro selaku program koordinator Perpuseru CCFI menyebut keberadaan Perpuseru Titian Ilmu telah mendorong masyarakat untuk mengembangkan usaha selain perpustakaan sebagai tempat membaca buku.

Kondisi tersebut sesuai dengan misi keberadaan perpustakaan sebagai tempat belajar masyarakat dengan adanya fasilitas internet. Sumber pelajaran pembuatan produk disebutnya bisa diakses melalui internet dan diaplikasikan untuk memberi nilai tambah ekonomi.

“Tujuan pemberian fasilitas komputer dan dilanjutkan dengan dukungan internet dari desa sekaligus memberi kesempatan wirausahawan desa memasarkan produknya,” terang Setiyo Untoro.

Sebagai tempat belajar masyarakat Perpuseru Titian Ilmu bahkan telah ikut menjadi marketing home industry masyarakat setempat. Salah satu produk yang dihasilkan dan bernilai jual di antaranya kerajinan manik manik, sabun cair dan memberi sumber pemasukan bagi masyarakat.

Pemasaran hasil Bumdes Wira Usaha Sanitasi di antaranya closet, cetakan closet dan cetakan septic tank bahkan memanfaatkan media sosial berbasis internet yang bisa diakses di Perpuseru.

Meri Pujiyati selaku salah satu pengurus Perpuseru menyebut telah memberi pelatihan kepada anak muda desa dalam pembuatan kerajinan manik manik.

Kerajinan fungsional tersebut di antaranya tas, vas bunga, suvenir, tempat tisu, kap lampu bernilai jual. Produksi kerajinan dengan harga jual Rp50.000 hingga ratusan ribu rupiah tersebut terus dikembangkan sebagai bagian usaha Perpuseru.

“Kita beri pelatihan kepada para anak muda untuk memanfaatkan bahan yang ada dan bernilai jual termasuk pembuatan sabun cair,” terang Meri Pujiati.

Selain pelatihan pembuatan manik manik,sabun cair, Rosid Ridho selaku pengurus Perpuseru Titian Ilmu juga menyebut teknologi informasi telah ikut membantu mengembangkan ide para pemuda di desa tersebut. Melalui pelatihan desain grafis dalam waktu dekat para pemuda juga akan dilatih membuat desain kaos, desain banner yang bisa dijual.

Ia mengungkapkan sebagai pusat belajar Perpuseru yang memiliki fasilitas internet gratis tersebut diakuinya sekaligus menjadi tempat pemasaran produk terutama hasil usaha kecil masyarakat.

Beberapa pelatihan untuk membekali para anak muda di desa tersebut di antaranya berupa pengelolaan website dan blog untuk pemasaran produk.

 

Lihat juga...