Penuhi Kebutuhan Sendiri, Warga Kelawi Manfaatkan Lahan Terbatas
Editor: Satmoko
LAMPUNG – Lahan terbatas tidak menyurutkan animo warga Desa Kelawi untuk memenuhi kebutuhan buah dan sayuran.
Sri Muryati (40) bahkan memanfaatkan lahan terbatas untuk mendapatkan sayuran dan buah tanpa membeli. Bemodalkan barang bekas kemasan plastik minyak goreng, bungkus seman dan polybag, ia menanam berbagai jenis sayuran di antaranya sawi, daun bawang dan buah stroberi. Tanaman bumbu juga ditanam di pekarangan memanfaatkan pohon kayu sebagai rambatan.
Sri Muryati menyebut, pemanfaatan lahan terbatas diakuinya selain sayuran dan buah juga tanaman obat keluarga (Toga). Jenis tanaman berupa kencur, kunyit, jahe, cabai biasa dan cabai jawa untuk bumbu dan obat bahkan ditanam dalam pot barang bekas. Semua jenis tanaman tersebut diakuinya bisa menghemat pengeluaran tanpa harus membeli sayuran dan bumbu sehingga uang bisa dipergunakan untuk keperluan lain.
“Awalnya dari hobi saya menanam terus dilanjutkan dengan memanfaatkan bungkus plastik sebagai pot, pekarangan sebagai tempat menanam berbagai jenis sayuran, hasilnya lumayan banyak warga lain mencontoh memanfaatkan pekarangan terbatas,” terang Sri Muryati, warga Desa Kelawi Kecamatan Bakauheni, saat ditemui Cendana News, Kamis (15/2/2018).

Pekarangan yang masih kosong dimanfaatkan oleh Sri Muryati sebagai tempat menanam sayuran jenis kecipir dan kacang panjang. Jenis kacang panjang diakuinya bisa ditanam sebagai pagar halaman menggunakan tonggak bambu atau ajir sekaligus memperindah halaman. Beberapa jenis sayuran lain sengaja ditanam di pekarangan bersama jenis bunga lain yang ditanam dalam pot.
“Kendalanya saat musim kemarau harus rajin melakukan penyiraman dan pemberian pupuk organik,” terang Sri Muryati.
Selain pupuk organik dari kompos pupuk kandang, jenis sayuran dan buah miliknya dipelihara tanpa mempergunakan zat kimia. Hasilnya sejumlah tanaman bisa dikonsumsi tanpa khawatir terkontaminasi residu pestisida kimia pada sayuran. Penggunaan pupuk organik disebutnya sekaligus memanfaatkan hasil limbah kotoran ternak milik warga lain.
Selain Sri Muryati, warga Kelawi pemilik lahan terbatas juga mulai meniru langkah penanaman sayur dan buah di lahan terbatas. Berdasarkan kalkulasi kebutuhan harian akan sayuran, Sri Muryati menyebut, rata-rata membeli sayuran Rp10.000 sehari sehingga dalam sebulan bisa menghemat pengeluaran Rp300 ribu. Kebutuhan sayuran tersebut bisa dipenuhi dari pekarangan melalui penanaman di lahan terbatas.
“Saya menularkan penanaman di lahan terbatas kepada ibu rumah tangga lain dan mulai diterapkan,” beber Sri Muryati.

Selain penanaman dengan rak kayu, bambu secara vertikal, pemanfaatan bambu juga digunakan sebagai lanjaran. Lanjaran yang disusun untuk penanaman jenis kecipir, pare dan kacang panjang, sekaligus berfungsi sebagai peneduh tanah.
Kemudahan mencari berbagai jenis bibit sayuran di toko pertanian disebut Sri Muryati memudahkan warga bercocok tanam. Selain itu pemanfaatan lahan terbatas membantu ekonomi keluarga dari penyediaan sayuran, buah dan obat tradisional tanpa harus membeli.