Pemberdayaan Masyarakat dan Goro Kunci Kesejahteraan Warga Desa Titiwangi

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

LAMPUNG — Pemberdayaan masyarakat desa melalui berbagai cara terus dilakukan oleh pemerintah Desa Titiwangi Kecamatan Candipuro Lampung Selatan. Menurut Sumari, Kepala Desa Titiwangi, dengan semangat menjadi desa siaga beberapa potensi terus dikembangkan di antaranya pembinaan dan pemberdayaan pemuda, prinsip gotong royong (Goro) dan program unggulan.

Sumari menjelaskan, semula Desa Titiwangi merupakan salah satu desa tertinggal di Kecamatan Candipuro namun berkat kerja keras warga dan pemerintah berbagai pembenahan dilakukan. Prinsip Goro bahkan menjadi dasar dalam pengembangan desa tersebut dengan semua pelaksanaan pembangunan berbasis masyarakat. Prinsip tersebut diadopsi dari semangat Presiden Soeharto yang selalu menekankan gotong royong dalam hidup bermasyarakat.

“Prinsip Goro bukan sekedar jargon tetapi menjadi semangat dalam peningkatan ekonomi masyarakat, sosial, budaya, agama dan lingkungan melibatkan semua unsur dalam masyarakat bekerjasama dengan pemerintah desa,” terang Sumari saat dikonfirmasi Cendana News, Sabtu (10/2/2018).

Prinsip Goro disebut Sumari bahkan sudah diwariskan secara turun temurun di desa tersebut dalam kehidupan bermasyarakat yang mayoritas memiliki pekerjaan sebagai petani dan juga para wiraswasta. Memiliki luas wilayah 750 hektar, penduduk sebanyak 6.190 jiwa dari sebanyak 1.616 kepala keluarga Desa Titiwangi disebutnya memiliki lokasi strategis penghubung Kabupaten Lampung Selatan ke Lampung Timur dan sebaliknya.

Pemberdayaan masyarakat Goro diakui Sumari diterapkan oleh desa tersebut dengan beberapa program melibatkan anak-anak hingga usia dewasa. Goro dini dimulai dengan gerakan seribu rupiah (Gasebu) oleh anak anak siswa SD pada Jumat bersih untuk mengumpulkan donasi Rp1.000. Uang donasi hasil gotong royong dini tersebut dipergunakan untuk membantu teman sekolah agar memiliki jamban sehat.

“Setelah goro dini dilakukan melalui sekolah hasilnya dipergunakan untuk melakukan bedah jamban keluarga siswa yang belum memiliki jamban sehat,” terang Sumari.

Pemberdayaan lain di antaranya Goro Paten merupakan sebuah sebuah gotong royong bantuan permanen perseorangan bagi pemerintah desa. Goro paten di antaranya dilakukan melalui hibah tanah seluas 4.600 meter persegi untuk pembangunan masjid Sabilil Mustaqim serta hibah tanah seluas 2.500 M2 untuk masjid At Taqwa.

Goro lain yang dikembangkan oleh desa di antaranya Goro Spontan yang merupakan kegiatan membantu warga kurang mampu. Di antaranya diwujudkan melalui pembangunan rumah warga kurang mampu atau bedah rumah, serta pembuatan jamban sehat. Upaya spontanitas warga tersebut ikut membantu masyarakat kurang mampu memperoleh rumah layak huni dan sanitasi yang baik.

Selain itu Goro rutin dilakukan dengan pemeliharan jalan lingkungan, membuat jalan tembus dan santunan bagi yatim piatu. Pemberdayaan masyarakat melalui pelaksanaan goro dilakukan juga dengan Goro jimpit yang dilakukan sekitar 10 tahun silam telah menghasilkan uang Rp32 juta dengan sistem jimpitan dilakukan petugas ronda malam sembari mengontrol keamanan.

“Pemberdayaan sistem goro telah ikut meringankan beban warga dan telah memajukan desa kami,” beber Sumari.

Selain pemberdayaan sistem Goro upaya meningkatkan ekonomi desa juga dilakukan dengan memaksimalkan potensi pasar desa. Pasar desa dengan jumlah 592 tempat berupa los, bedak, kios dan toko menyumbang pendapatan asli desa Rp120 juta per tahun dipergunakan untuk pembangunan, pembinaan, pemberdayaan dan administrasi perkantoran.

Selain itu keberadaan Badan Usaha Milik Desa berupa KUD Sepakat menjadi tempat pemasaran industri rumahan, produk usaha peningkatan pendapatan keluarga sejahtera serta produk oleh kaum wanita. Bumdes Wira Usaha Sanitasi bernama Bumdes Titian Mandiri juga dipergunakan sebagai tempat menghasilkan beberapa fasilitas sanitasi di antaranya closet, cetakan closet dan cetakan septiktank.

“Hasil penjualan closet dan proses pembuatan jamban murah difasilitasi oleh Bumdes yang ikut mengentaskan desa kami dari buang air besar sembarangan,” beber Sumari.

Desa Titiwangi
Sumari, Kepala Desa Titiwangi di depan kantor balai desa juga perpustakaan seru Titian Ilmu dan sekolah swasembada WC Indonesia [Foto: Henk Widi]
Selain pemberdayaan masyarakat melalui goro dan Bumdes Desa Titiwangi juga memiliki program unggulan berupa bank darah desa dalam bidang sosial dan kesehatan. Bank darah desa merupakan program mencatat data warga usia produktif dengan golongan darah yang tercatat sehingga bisa menjadi pendonor yang bekerjasama dengan PMI, RSUD dan Yayasan Talasemia Lampung Selatan.

Kegiatan kampanye kesehatan dengan adanya posyandu Balita, lansia, pemberian makanan tambahan dan sosialisasi penyakit tidak menular bahkan ikut meningkatkan derajat kesehatan. Kegiatan sanitasi total berbasis masyarakat, gerakan peduli lingkungan, jamban sehat bahkan ikut didukung oleh keberadaan Perpuseru dan sekolah swasembada WC Indonesia (SSWCI).

“Perpuseru menjadi sanggar belajar selain sebagai perpustakaan tapi tempat belajar membuat sabun, kerajinan bernilai jual,” terang Sumari.

Lokasi Perpuseru yang persis dekat dengan SSWCI sekaligus menjadi lokasi untuk kegiatan belajar dan advokasi. Kegiatan advokasi bidang ekonomi, pendidikan dan kesehatan tersebut diakui Sumari ikut mendorong kemajuan desa termasuk dalam bidang ekonomi.

Fasilitas internet di Perpuseru Titian Ilmu sekaligus menjadi tempat belajar dan memasarkan produk secara online. Hasilnya pemberdayaan masyarakat generasi muda bisa ikut menyumbang kemajuan bagi desa dalam berbagai bidang.

Lihat juga...