Kesadaran Warga Kurang, Sungai Lokasi Favorit Buang Sampah
Editor: Satmoko
LAMPUNG – Berbagai imbauan larangan membuang sampah sembarangan di tepi jalan dan sungai di beberapa tempat di wilayah Lampung Selatan masih kerap diabaikan oleh masyarakat.
Berdasarkan pantauan Cendana News sejumlah sungai besar di Lamsel di antaranya sungai Way Pisang, Way Sekampung, Way Tuba Mati, sungai Sumbermuli masih menjadi lokasi membuang sampah. Mirisnya lokasi pembuangan sampah justru berada di dekat tanda imbauan larangan membuang sampah.
Hasan (40) warga Desa Pasuruan Kecamatan Penengahan menyebut, tepi sungai Way Tuba Mati terutama di dekat jembatan merupakan lokasi favorit masyarakat membuang sampah.
Berbagai jenis sampah plastik dan sampah buangan sebagian sengaja dibuang di lokasi yang sejatinya bukan tempat pembuangan akhir (TPA) tersebut. Ia bahkan menyebut, kerap melihat warga sengaja membuang sampah mempergunakan kendaraan roda dua dan roda empat saat malam hari.
“Para pelaku pembuang sampah kerap membuang sampah saat kondisi sepi sehingga volume sampah terus bertambah bahkan menimbulkan bau tak sedap serta mengganggu kesehatan warga yang tinggal di bagian bawah aliran sungai,” terang Hasan, salah satu warga Desa Pasuruan Kecamatan Penengahan, yang enggan diambil gambarnya terkait kegiatan pembuangan sampah di sungai Way Tuba Mati Kecamatan Penengahan, Jumat (16/2/2018).

Petugas perencanaan dan pengawasan jalan nasional juga telah membersihkan area jembatan Way Tuba Mati dari sampah yang menumpuk. Selain bisa menyumbat aliran sungai, sebagian pondasi jembatan bahkan sudah longsor tergerus aliran sungai.
Hasan berharap, pasca-dilakukan perbaikan pada bagian jembatan, lokasi tersebut tidak digunakan warga untuk membuang sampah. Selain berada di tepi jalan nasional sampah yang terbawa aliran air sungai membuat air sungai tercemar. Sebagian sampah menutup saluran irigasi areal persawahan yang ada di Desa Banjarmasin dan Desa Klaten.
Selain di Sungai Way Tuba Mati, Soleh, salah satu warga Dusun Karangindah Desa Totoharjo Kecamatan Bakauheni mengaku, kegiatan membuang sampah di sungai masih belum bisa dihentikan. Saat banjir sebagian sampah tersebut tersangkut di selang dan pipa air untuk mengalirkan air bersih dari Gunung Rajabasa. Sebagian sampah bahkan tersebar di sepanjang halaman belakang rumah warga pasca-banjir melanda.
“Sampah plastik dan sampah limbah pertanian yang terbawa arus sungai membuat air sungai tidak bisa dimanfaatkan karena kotor dan tercemar,” terang Soleh.
Ia menyebut, belasan tahun sebelumnya saat kondisi sungai bersih warga masih bisa memanfaatkan sungai untuk mandi dan mencuci. Namun akibat sampah yang mulai dibuang ke aliran sungai membuat warga enggan mempergunakan air sungai. Sebagian warga bahkan rela mengeluarkan biaya membeli selang dan pipa pvc mengalirkan air bersih untuk minum, mandi dan mencuci.
Belum adanya kesadaran masyarakat dan larangan mengikat membuat warga memilih membuang sampah di tepi sungai. Selain warga yang tinggal di dekat sungai sebagian berasal dari wilayah lain yang memanfaatkan sungai untuk membuang sampah.
Inal, salah satu pencari barang bekas menyebut, kerap mendapatkan sampah bernilai jual di sejumlah sungai. Warga Desa Ruang Tengah Kecamatan Penengahan tersebut kerap mencari barang bekas bernilai jual pascabanjir. Botol air mineral dan sampah plastik bernilai jual kerap ditemuinya di pintu air bendungan Way Asahan. Selain itu juga di sejumlah saluran air yang berada di pemukiman warga.
“Bagi saya ini merupakan rejeki namun tentunya sangat mengganggu kebersihan apalagi sampah botol kaca bisa membahayakan,” beber Inal.

“Sampah yang sudah dipilah-pilah bisa menghasilkan uang dan tidak mengotori lingkungan,” bebernya.
Meski kerap ikut membantu memilah sampah di sejumlah tempat pembuangan akhir, Inal menyebut, dirinya juga bisa mendapatkan ratusan ribu per pekan. Selain membersihkan sampah Inal juga mengajak warga memanfaatkan barang bekas daur ulang yang bisa menghasilkan uang.