Kembangkan Varietas Pisang Tahan Penyakit, Produksi Petani Rimau Balak Belimpah

Editor: Irvan Syafari

LAMPUNG — Serangan hama penyakit layu fusarium berimbas layu dan matinya pohon pisang di sejumlah wilayah kecamatan di Lampung Selatan, justru tidak menimpa tanaman pisang warga di Pulau Rimau Balak dan Pulau Kandang Balak.

Menurut Suhadi (40), salah satu warga Pulau Rimau Balak tanaman pisang di wilayah tersebut justru aman dari serangan hama layu fusarium. Ia masih memanen pisang tanduk, kepok, raja nangka dan ambon yang ditanamnya.

Selain mendapat hasil panen dari kebun miliknya, dia menjadi pelaku bisnis jual beli pisang antar pulau. Menurut dia kualitas pisang di kedua pulau tersebut lebih baik.

“Selain jauh dari sumber persebaran penyakit layu fusarium jenis pisang yang ditanam di Pulau Rimau Balak dan Pulau Kandang Balak merupakan jenis varietas pisang tahan penyakit,” beber Suhadi saat ditemui Cendana News tengah melakukan proses bongkar muat komoditas pisang di Dermaga Muara Piluk Bakauheni, Senin (12/2/2018)

Harga pisang di Pulau Rimau Balak dan Kandang Balak disebutnya masih cukup murah dengan pembelian sistem tandan. Pisang yang dibeli dari petani di antaranya dibeli berdasarkan kelas rames,sedang hingga super.

Jenis pisang rames atau asalan jenis kepok dibeli dengan harga Rp3.000 per tandan, kelas sedang seharga Rp5.000 dan kelas super seharga Rp8.000 per tandan.

Jenis pisang tanduk kelas rames dibeli dengan harga Rp4.000, kelas sedang Rp7.000 dan kelas super Rp10.000 pertandan. Jenis pisang ambon dan raja nangka dibeli dengan harga kelas rames seharga Rp3.000 kelas sedang Rp5.000 dan kelas super Rp8.000 pertandan.

“Harga lebih murah karena biaya distribusi pisang dari pulau pulau kecil membutuhkan dua kali pengangkutan ke Pulau Sumatera lalu ke Pulau Jawa,” paparnya.

Biaya operasional yang tinggi tidak dipersoalkan oleh pebisnis jual beli pisang, karena pasokan cukup stabil dibanding kondisi di daratan Sumatera akibat penyakit layu fusarium.

Panen setiap 25 hari sekali bahkan menjadi sumber penghasilan berkelanjutan bagi petani penanam pisang di kedua pulau tersebut.

Hasil tanaman pisang sekaligus menjadi penghasilan sampingan warga yang sehari hari berprofesi sebagai nelayan tangkap di Selat Sunda.

Melimpahnya hasil panen komoditas pisang dari Pulau Rimau Balak dan Pulau Kandang Balak juga diakui Hasan (40), salah satu pelaku jual beli pisang.

Ia mengaku sebagai pemasok kebutuhan pisang ke daerah Tangerang dan Serang hasil panen dari Pulau Rimau Balak dan Kandang Balak cukup membantu saat tanaman pisang lain diserang hama.

“Sebulan terakhir sejumlah petani pisang mengalami penurunan produksi karena serangan hama layu fusarium di wilayah Lampung Selatan,” papar Hasan.

Selain tidak menyebar ke pulau akibat jarak yang jauh penggunaan alat tebang berupa golok yang bersih tidak membuat tanaman pisang di pulau tertular.

Pisang hasil panen warga Pulau Rimau Balak dan Kandang Balak /Foto: Henk Widi.

Sesuai dengan jumlah tandan yang dihasilkan dengan menggunakan empat perahu, ia menampung sekitar 400 tandan atau sebanyak 2 ton pisang asal Pulau Rimau Balak dan sisanya sebanyak 400 tandan hasil petani dari Pulau Kandang Balak.

Lihat juga...