Indef: Industri Indonesia Kehilangan Momentum
Editor: Irvan Syafari
JAKARTA — Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Andry Satrio Nugroho mengatakan, pertumbuhan ekonomi berkualitas adalah ketika perekonomian mampu menciptakan lapangan pekerjaan, mengurangi kemiskinan, dan ketimpangan pendapatan.
“Yang bisa mengatasinya adalah industri. Pasalnya, Industri merupakan penopang ekonomi Indonesia,” kata Andry pada diskusi bertajuk “Alarm Stagnansi Pertumbuhan Ekonomi” di Warung Daun, Jakarta, Rabu (7/2/2018).
Menurutnya, untuk mencapai pertumbuhan ekonomi berkualitas perlu adanya usaha dalam menciptakan industri yang berkualitas. Industri memiliki multiplier effect dan nilai tambah yang lebih besar jika dibandingkan dua sektor lainnya. Yakni, penciptaan lapangan pekerjaan lebih tinggi dari sektor lainnya.
Saat ini, sebut dia, Indonesia belum menjadikan industri manufaktur sebagai prioritas yang perlu dibenahi. Celakanya, lagi industri manufaktur yang lemah justru menghasilkan deindustrisasi.
Adapun lanjut dia, kontribusi industri terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2017, paling besar adalah industri pengolahan sebesar 20,16 persen. Dari segi presentase, industri jenis ini jauh lebih besar dibandingkan sektor-sektor lainnya, seperti pertanian, kehutanan, dan perikanan bertengker pada angka 13,14 persen.
Disusul dengan industri perdagangan dan eceran 13,01 persen, industri konstruksi sebesar 10,37 persen, serta pertambangan dan pengalian kisaran 7,57 persen.
Anehnya tegas dia, justru industri ini yang tidak bisa berlari kencang. Industri ini justru kalah dengan sektor-sektor lainnya, seperti jasa transportasi dan komunikasi.
“Industri manufaktur ini justru pada 2017 laju pertumbuhannya 4, 27 persen baik migas maupun non migas,” jelasnya.
Pertumbuhan industri manufaktur di bawah pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan jasa. Maka kata dia, konsekunsinya adalah konstribusi yang dihasilkan oleh PDB akan semakin berkurang.
“Industri kita kehilangan momentum. Sejak 1987, ekspor kita cenderung tidak ada perbaikan,” kata Andry.
Adapun sebut dia, momen paling terbaik untuk konstribusi industri pada 2001 sebesar 29 persen. Kemudian tahun 2008 kisaran 27,81 persen. Dan 2017 sampai hari ini jatuh di angka 20,16 persen.
Jadi sebetulnya menurut Andry, pertumbuhan ekonomi Indonesia itu mengalami pertumbuhan yang lambat karena gizi dan lingkungan tidak memadai.
Gizinya jelas dia, adalah intensif terhadap industri entah itu tidak berkecukupan atau tidak tepat sasaran. Lingkungannya, banyak produk impor masuk ke Indonesia.
“Industri kita alih-alih bisa tumbuh meroket justru berjalan di tempat karena dampak gizi dan lingkungan tersebut,” tukas Andry.
Lebih lanjut dijelaskan, sektor tradable justru menghasilkan barang untuk diperdagangkan. Contohnya, sektor pertanian, pertambangan dan industri pengolahan manufaktur.
Pertumbuhan sektor tradable ini berada dibawah pertumbuhan ekonomi. Bahkan, sejak awal reformasi sektor ini selau berada di bawah pertumbuhan ekonomi.
ITB dan ITK Turun
Begitu juga dengan Index Tendensi Bisnis (ITB) 2017 menurun. Menurutnya, indeks ini gambaran dari optimisme pelaku-pelaku bisnis yang terlihat pada kuartal IV dari 113, 39 persen turun menjadi 111, 02 persen. Diprediksi akan turun lagi sebesar 108, 6 persen.
Ini salah satu momentum optimisme pembisnis cukup meningkat, tetapi kata dia, kekhawatirannya adalah tahun politik dimana para pembisnis akan wait and see. “Mereka terlalu risi untuk melakukan ekspansi bisnis pada tahun politik 2018,” ujarnya.
Menurutnya, komponen pembentuknya adalah penggunaan usaha, penggunaan kapasitas usaha, dan rata-rata jumlah jam kerja. Terlihat kapasitas usaha dan rata-rata jam kerja ini turun.
Hal ini mencerminkan perusahan-perusahaan yang ada di Indonesia mulai memikirkan bagaimana mengurangi karyawannya. Begitu pula dengan penggunaan kapasitas usaha mereka akan mencoba mengifisiensi bisnis.
Index Tendensi Konsumen (ITK) justru setelah triwulan II 2017 ini turun. Dikatakan Andry, berbeda dari tahun sebelumnya yang dari triwulan I naik dan triwulan IV langsung turun. Ini menurutnya, menandakan isu 2017 daya beli turun itu memang sudah terjadi.
Menurut Andry, yang paling krusial menurunnya ITK adalah pendapatan. Pesimisme terhadap kenaikan pendapatan itu akan tinggi pada 2018. Meskipun volume konsumennya meningkat.
Nah, tegas dia, ini justru bahaya karena ketika pendapatannya tidak meningkat tetapi volume konsumenya cenderung meningkat. Maka mereka akan mencari yang mana yang murah bisa dikonsumsi. “Itu biasanya barang-barang impor,” ujar Andry.
Disampaikan dia, kecenderungan konsumen cenderung membeli barang tahan lama dan rekreasi di tahun 2018 kemungkinan menurun.
Tak Punya Visi Industri
Lalu solusi untuk mengatasi kinerja industri bermasalah ini? “Kita berikan alarm dan coba berikan solusi. Ekspor dari makanan dan minuman itu konstribusinya sangat tinggi,” ucap Andry.
Namun yang dikhawatirkan, kata dia, ketika produk makanan minuman itu kandungannya minyak kelapa. Ini berbahaya sekali justru nanti harga mengikuti standar international atau ada embargo dari yang ekspor.
Industri pengolahan akan turun karena salah satu mesin penggerak industri pengolahan manufaktur adalah industri makanan minuman. “Jadi solusinya adalah coba untuk tidak mengandalkan makanan minuman,” katanya.
Industri ini menurutnya, bukan permasalahan yang harus ditangani oleh menteri perindustrian saja. Tapi ini permasalah bersama kementerian lainnya di bawah ekonomi seperti Kementerian Perdagangan (Kemendag) terkait ekspor dan impor, juga Kementerian ESDM terkait masalah harga energi yang masih mahal sampai sekarang.
Namun demikian, Andry menyayangkan mengingat salah satu kekurangan Indonesia itu tidak mempunyai misi industri. “Kita tidak punya tujuan apa-apa. Ini masalah juga. Visi industri Indonesia sampai sekarang tidak ada yang mengembangkan, tidak ada tujuan yang akan dicapai,” pungkasnya.