Dampak JTTS Warga Penengahan Kesulitan Dapatkan Pasokan Air

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

LAMPUNG — Proses pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) ruas Bakauheni-Terbanggibesar masih terus dilakukan khususnya di paket I Bakauheni-Sidomulyo meski sudah dapat dilalui. Sepanjang 8,9 kilometer segmen Pelabuhan Bakauheni-Simpang Susun Bakauheni dengan keberadaan gerbang tol Bakauheni Selatan dan gerbang tol Bakauheni Utara. Namun dampak pembangunan tersebut yang dialami warga sekitar di antaranya kekurangan air bersih sekaligus bagi lahan pertanian.

Berdasarkan pantauan Cendana News, sebagian warga Desa Kelawi Kecamatan Bakauheni harus kesulitan memperoleh air bersih meski akhirnya memperoleh bantuan sumur bor dari pelaksana proyek JTTS sebanyak tiga titik. Tiga titik sumur bor tersebut terdapat di Dusun Kubang Gajah, Dusun Serungku dan Dusun Kepayang. Hal yang sama juga dialami warga di Dusun Perkumpulan Keluarga Sulawesi (PKS) Desa Penengahan.

“Sumber mata air yang selama ini kami gunakan tepat berada di poros utama jalan tol di bukit yang kini diratakan sehingga sumber mata air bersih sudah tidak bisa dinikmati terpaksa harus membeli,” terang Hasbudiman salah satu warga Dusun Perkumpulan Keluarga Sulawesi saat ditemui Cendana News, Sabtu (3/2/2018).

Disebutkan, dampak langsung justru dirasakan oleh warga yang tinggal tak jauh dari lokasi pembangunan. Selain mengalami kekurangan pasokan air sebagian warga bahkan harus direlokasi akibat tinggal di dekat terowongan jalan tol dan saluran pembuangan air yang kerap meluap ke perumahan warga saat musim hujan.

Dikatakan, bantuan dari pelaksana proyek jalan tol berupa instalasi air bersih termasuk sumur bor disalurkan melalui pipa pvc besar dan dibuat keran khusus agar bisa dialirkan ke perumahan warga yang membutuhkan.

“Hingga kini masih disalurkan secara manual dengan proses penggunaan selang tanpa ada meteran,” terang Hasbudiman.

Meski sedikit membantu namun Hasbudiman menyebut lokasi sumur bor yang berada di daerah bertanah kapur membuat warga memilih menggunakannya hanya untuk keperluan mandi dan mencuci sementara untuk memasak dan minum warga terpaksa memilih membeli air galon.

Lahan pertanian sawah di Desa Klaten Kecamatan Penengahan tepat berada di dekat JTTS [Foto: Henk Widi]
Selain kesulitan air, warga Dusun PKS juga terkena imbas debu dan kebisingan termasuk keretakan rumah namun belum mendapatkan kompensasi. Warga bahkan terpaksa menutup pintu rumah dan jendela menghindari debu masuk ke dalam rumah sekaligus suara bising kendaraan proyek pengerjaan jalan tol.

Kekurangan air untuk pengairan lahan pertanian juga dialami oleh petani di Desa Klaten Kecamatan Penengahan yang sebagian kekeringan akibat perubahan saluran air irigasi paska pembangunan Jalan Tol.

Usman, salah satu petani di Desa Klaten menyebut perubahan saluran air akibat adanya terowongan jalan tol membuat sawah miliknya kekeringan dan justru mengalami kebanjiran saat hujan.

“Beberapa waktu lalu sedang dilakukan perubahan saluran air namun masih belum selesai sementara aliran air masih kerap meluap ke lahan pertanian tapi justru kering saat kemarau,” terang Usman.

Perubahan beberapa saluran irigasi di wilayah tersebut diakui sejumlah petani bahkan sudah dikoordinasikan dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang serta pemerintah desa setempat. Sebelum ada perbaikan dengan perubahan ukuran gorong gorong petani penanam padi dan jagung kerap mengalami kebanjiran dan justru mengalami kekeringan.

Lihat juga...