Bintangi Film Agus Salim, Ina Marika Jadi Hargai Sejarah
Editor: Irvan Syafari
JAKARTA —- Film tak hanya hiburan belaka, tapi juga membawa pesan, bahkan memberikan penyadaran. Apalagi film berlatar sejarah Moonrise Over Egypt yang mengisahkan tentang perjuangan Haji Agus Salim di Mesir pada 1947. Film ini mengungkap diplomasi pertama Indonesia yang sangat penting agar kedaulatan kemerdekaan Indonesia diterima di dunia internasional.
Artis Ina Marika yang turut membintangi film tersebut membuatnya kini menjadi lebih menghargai sejarah. Lewat film tersebut ia juga menjadi lebih mengerti sejarah daripada lewat buku pelajaran sekolah.
“Saya senang dunia akting karena saya bisa coba semuanya,” kata artis Ina Marika kepada Cendana News, di daerah Petogogan, Jakarta Selatan, beberapa waktu yang lalu.
Lebih lanjut, dara kelahiran Jakarta, 6 Januari 1989, itu menerangkan ketertarikannya dengan dunia akting, ia bisa menjadi karakter ini, karakter itu.
“Saya bisa tahu kemampuan akting saya sampai mana. Saya juga bisa ketemu orang banyak dan bisa mengambil pelajaran dari mereka, “ terangnya.
Menurut Ina, sebelum membintangi film tersebut ia tidak tahu banyak tentang Pahlawan Nasional Agus Salim. Dulu sewaktu SMA, ia mengambil jurusan IPA, sehingga ia tidak mempelajari sejarah tidak mendalam.
“Setelah mendapat peran dalam film ini, saya merasa sejarah lebih menarik yang saya pikirkan. Karena film ini, saya jadi lebih banyak nonton film Sang Pencerah tentang kisah pendiri Muhammadiyah, Ahmad Dahlan, film Soekarno, Sang Kiai tentang pendiri Nahdatul Ulama, KH Hasyim Asyari, Guru Bangsa: Tjokroaminoto yang dibintangi Reza Rahadian,” ungkapnya.
Ina mengaku sejak membintangi film ini, ia jadi lebih menghargai sejarah.
“Karena lewat film jadi saya lebih mengerti sejarah daripada lewat buku pelajaran sekolah, “ bebernya.
Dalam film produksi PT Tiga Visi Selaras (TVS) ini, ia berperan sebagai Zahra, seorang mahasiswa Malaysia yang belajar di Kairo.
“Nah, di Kairo itulah Zahra bertemu dengan Agus Salim yang menjadi pemimpin delegasi Indonesia. Kunjungan Agus Salim ini menjadi diplomasi pertama Indonesia, yang sangat penting agar kedaulatan kemerdekaan Indonesia diterima di dunia internasional, “ tegasnya.
Selain Agus Salim, ada juga Abdurrahman Baswedan (Wakil Menteri Penerangan), Mohammad Rasjidi (Sekjen Departemen Agama), dan Nazir Datuk Sutan Pamuntjak (Pejabat Departemen Luar Negeri).
“Keempat tokoh tersebut dikirim oleh Presiden Soekarno pada 1947 ke Mesir untuk memperoleh pengakuan kedaulatan atas Republik Indonesia dari Mesir dan negara-negara Timur Tengah lainnya, “ tandasnya.