Bibit Ganda Putri Indonesia Tak Sebanyak Putra
JAKARTA – Kepala pelatih tim ganda putri Pemusatan Latihan Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) Eng Hian menyebut, bibit potensial di nomor ganda putri tidak sebanyak sektor putra. Hal tersebutlah yang menyebabkan di nomor ganda putri terkesan minim prestasi.
Kendati minim potensi, Eng Hian menyebut nomor ganda putri Indonesia tidak minim prestasi. “Ganda putri Indonesia bukan tidak memiliki peluang berprestasi, namun memang tidak sebanyak ganda putra, karena potensinya juga minim, kita punya satu saja yang kuat, itu luar biasa,” kata Eng Hian, Sabtu (24/2/2018).
Secara teknis, Eng Hian menyatakan ingin lebih banyak lagi memiliki pasangan-pasangan ganda putri berkualitas. Namun hal tersebut bukanlah pekerjaan mudah untuk dilakukan di tengah terbatasnya potensi yang ada. Potensi yang dimiliki belum mampu untuk mencetak pasangan kuat baru.
Diibaratkannya, ganda putri Indonesia seperti motor kelas 125 cc yang harus berlomba di kelas 250 cc. Untuk bisa bersaing dipastikannya harus membongkar mesin, sementara kendala yang dihadapi suku cadang tidak tersedia. “Nah kapasitas kita seperti motor tadi, jalan keluarnya kita akali itu kan, korek-korek mesin, berharap bisa menyalip di tikungan dan tinggal cari joki yang bagus,” ucapnya.
Kondisi tersebut disebutnya, tidak terlepas dari aktivitas pembinaan di level klub. Pembinaan masih harus lebih diperhatikan dan diberi parameter untuk menciptakan pemain level dunia sejak dini. Pemain lebih banyak menghabiskan waktu di klub sehingga pembinaan harus fokus dilakukan dari level tersebut.
“Jadi bukan pelatnas yang jadi pabriknya, karena misalnya masuk pelatnas umur 19 atau 20 tahun, dalam perjalanannya tak mungkin atlet dinaikan lagi, apalagi di atas 30 tahun. Di pelatnas waktunya satu pemain mencari puncak penampilan, dan gaya bermainnya seperti apa, bukan menjadi pembinaan utama lagi,” tandasnya.
Dewasa ini, di nomor ganda putri, baru pasangan senior dan junior Greysia Polii/Apriyani Rahayu yang sepertinya mampu menjawab pertanyaan prestasi nomor tersebut dari publik bulu tangkis. Pasangan tersebut berhasil meraih satu gelar level Grand Prix Gold (2017), satu gelar Super Series (2017), satu gelar BWF World Tour Super 500 (2018) dan runner-up BWF World Tour Super 500 (2018).
Bahkan dari catatan pertandingannya, pasangan ini sudah memberikan kekalahan bagi sebagian besar pasangan-pasangan lainnya di urutan 10 besar dunia, terkecuali pasangan Jepang Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi. “Keduanya memang menjadi pilar saat ini, karena mereka memiliki komitmen dan tujuan yang sama, yaitu menjadi yang terbaik, ini yang jadi modal utama mereka sekaligus sulit untuk diciptakan pelatih seperti saya,” kata Eng Hian.
Melihat pencapaian pasangan yang baru disandingkan sejak 2017 lalu, diharapkan keberadaanya menjadi momentum baik untuk memotivasi ganda putri bisa berprestasi lebih lagi. “Harus cemburu, tapi positif, jika cemburunya negatif, itu artinya sudah tidak memiliki mental juara,” pungkasnya. (Ant)