Bahayakan Pengguna Jalan, Jembatan Way Tuba Mati Diperbaiki
Editor: Satmoko
LAMPUNG – Tonase kendaraan yang melintas di Jalan Lintas Sumatera dari pelabuhan Bakauheni menuju sejumlah kota di Sumatera ikut menyumbang kerusakan jalan dan jembatan.
Menurut Jupri, pengawas proyek Perencanaan dan Pengawasan Jalan Nasional Wilayah II Provinsi Lampung Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, beberapa titik jalan dan jembatan bahkan mengalami kerusakan. Kerusakan di antaranya terjadi pada jembatan sungai Way Kuripan, jembatan sungai Way Tuba Mati, keduanya di Kecamatan Penengahan Lampung Selatan.
Sebelumnya, perbaikan infrastruktur jembatan dilakukan pasca-bagian jembatan berlubang dan bagian plat besi terlihat akibat aspal mengelupas. Perbaikan pada bagian badan jembatan disebutnya meminimalisir angka kecelakaan serta kerusakan semakin parah pada jembatan dengan proses pembongkaran aspal dan mengganti dengan konstruksi aspal baru. Perbaikan tersebut, diakuinya, dikerjakan oleh P2JN Wilyah II Provinsi Lampung Kementerian PUPR.
“Beberapa hari ini perbaikan juga akan dilakukan pada bagian konstruksi talud jembatan yang ambrol dampak tonase kendaraan dan juga banjir di sungai Way Tuba Mati yang bersumber dari Gunung Rajabasa,” terang Jupri, selaku pengawas rehabilitasi jembatan Way Tuba Mati dari P2JN Wilayah II Provinsi Lampung Kementerian PUPR saat ditemui Cendana News, Selasa (13/2/2018).

Kerusakan talud penahan selebar tiga meter dan panjang hampir empat meter tersebut disebutnya terjadi akibat gerusan air sungai Way Tuba Mati saat musim penghujan.
Selama ini longsoran dan amblasnya konstruksi talud jembatan sungai Way Tuba Mati tidak terlihat karena puluhan ton sampah dari masyarakat sengaja dibuang di lokasi bawah jembatan. Ketebalan sampah yang berhasil dibersihkan oleh petugas disebut Jupri mencapai lima meter di sisi Timur dengan panjang lebih dari delapan meter belum termasuk jembatan di sisi Barat.
“Kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah di jembatan dan sungai memang rendah. Terbukti saat kami sedang membersihkan area jembatan masih ada yang nekat membuang sampah di jembatan,” beber Jupri.
Beberapa pekerja, diakui Jupri, bahkan menyebut di bawah jembatan Way Tuba
Mati terdapat beragam sampah hasil buangan masyarakat berupa sisa keramik, besi, kayu hingga sampah plastik yang tidak bisa membusuk. Butuh waktu sekitar enam jam membersihkan sampah di area tersebut sehingga bisa ditemukan dasar tanah yang akan dijadikan pondasi.
Jembatan way Tuba Mati yang memiliki nomor registrasi 17.020.006 dibangun sejak tahun 1980 dengan panjang sekitar 10 meter dan lebar sekitar 8 meter sekaligus menjadi batas desa antara Desa Banjarmasin dan Desa Pasuruan di Kecamatan Penengahan Kabupaten Lampung Selatan. Sungai yang kerap banjir saat musim hujan diduga ikut menyumbang kerusakan bagian dasar jembatan berusia lebih dari 30 tahun tersebut.
Jupri menyebut, rehabilitasi bagian dasar jembatan termasuk penguatan talud diharapkan akan menjadikan jembatan tersebut lebih kuat dan bersih dari sebelumnya. Ia juga berharap masyarakat mengindahkan imbauan larangan membuang sampah di sekitar jembatan yang berimbas sungai tersumbat dan menimbulkan longsor susulan.
“Analisa kami talud jembatan semakin bertambah lebar longsornya akibat sampah menyumbat di bagian bawah, lalu air naik ke dasar jembatan menggerus konstruksi talud,” terang Jupri.
Selain jembatan Way Tuba Mati, sejumlah jembatan yang menjadi perhatian di antaranya jembatan Desa Gayam, Jembatan Way Pisang Desa Sukabaru Kecamatan Penengahan yang masih kerap menjadi lokasi pembuangan sampah. Penguatan konstruksi jembatan selain pemeriksaan bagian talud pemeliharaan juga dilakukan dengan membuat rigid beton pada bahu jembatan agar tidak mudah amblas.