Ambor Buas Merci Kamboe, Ritual Menyambut Tamu Suku Bajo di Sikka

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

MAUMERE — Tamu kerhormatan yang hadir di kampung Wuring kelurahan Wolomarang kecamatan Alok Barat selalu mendapat penghargaan yang tinggi dari masyarakat setempat. Sebelum sampai tamu disambut dengan sapaan adat dan ritual adat Ambor Buas Merci Kamboe.

“Dalam adat suku Bajo bilamana kedatangan tamu baru di kampung kita maka mereka harus disambut dengan sapaan adat dan diperciki air kelapa muda dan disirami dengan beras,” tutur Muhammad Kasim tokoh masyarakat Wuring, Minggu (11/2/2018).

“Selain mengucapkan terima kasih dan salam selamat datang sebab sudah berkenan berkunjung ke sini, juga mendoakan agar para tamu yang datang diberikan keselamatan dan kesehatan,” tambahnya.

Setelah sapaan adat, lanjut Kasim, para tamu diperciki dengan air kelapa muda yang berasal dari kelapa Bali sebagai tanda mendinginkan, membersihkan diri dan melindungi para tamu yang datang berkunjung dengan membawa niat baik.

“Para tamu juga diperciki dengan beras sebagai simbol kehidupan, kesuburan dan diberikan rezeki. Juga dilakukan pengalungan selendang sebagai penghormatan, kenang-kenangan buat para tamu,” terangnya.

Moat Lamong tokoh masyarakat suku Bajo di Wuring menambahkan, dalam menyambut tamu tokoh adat dan tokoh masyarakat mengenakan pakaian adat simbol suku Bajo yang merupakan suku pelaut.

“Pakaian yang kami pakai menandakan karakter orang Bajo karena konon sejarahnya orang Bajo itu selalu menjaga perairan-perairan manakala selalu didatangi musuh atau orang jahat,” sebutnya.

Orang Bajo ucap Lamong, selalu menghadang terlebih dahulu bahkan sering membunuh orang yang akan masuk ke kampung orang Bajo melalui laut dan ingin melakukan kejahatan di kampung Bajo.

“Kampung Bajo masyarakatnya biasa tinggal di perahu, di atas permukaan laut atau kalau ke darat biasa menetap di pesisir pantai dengan membuat rumah-rumah panggung,” paparnya.

Ambor Buas
Kampung nelayan Wuring di kelurahan Wolomarang kecamatan Alok Barat yang berasal dari suku Bajo yang membangun pemukiman di atas permukaan laut. Foto : Ebed de Rosary

Kampung Wuring sejarah terbentuknya jelas Lamong, setelah masyarakat Bajo menetap dan mendapat persetujuan raja Sikka maka bersama-sama dengan raja Sikka dicarilah nama untuk kampung ini.

Lalu disepakati dilakukan adu ayam antara ayam Meran (merah) dan ayam Bureh (Lurik) dan yang menang ayam Bureh sehingga kampung ini dinamakan Bureh.

“Namun setelah dijadikan kelurahan maka dinamakan kelurahan Wuring,” pungkasnya.

Lihat juga...