Akar Kolong Rindu, Kenangan Para Pendaki Puncak Rajabasa
Redaktur: ME. Bijo Dirajo
LAMPUNG — Gunung Rajabasa menjadi salah satu gunung favorit pendakian di Provinsi Lampung. Selain lokasi yang dekat dengan Kalianda ibukota Lampung Selatan, gunung yang berhadapan dengan Selat Sunda pemisah Pulau Sumatera dan Pulau Jawa tersebut memiliki ketinggian 1.302 meter di atas permukaan laut. Keindahan dan trek yang cukup mudah membuat jalur pendakian Gunung Rajabasa menjadi sarana latihan para pecinta alam di Lampung.
Sumianto menyebutkan, puncak Rajabasa kalau dalam kondisi cuaca bagus bisa melihat pemandangan ke arah Kalianda dengan laut yang biru membentang.
“Pendaki serta penghobi wisata alam pegunungan akan semakin lengkap jika telah mendaki puncak Rajabasa terutamana dalam kondisi cuaca bagus,” terang Sumianto salah satu pecinta alam sekaligus pemandu wisata saat berbincang dengan Cendana News baru baru ini.
Sumianto menyebut sebelum melakukan pendakian Gunung Rajabasa hal yang harus diperhatikan adalah membawa beberapa peralatan pendukung pendakian, bekal makanan dan minuman, meminta izin kepada pihak penjaga di titik awal jalur pendakian sekaligus lokasi menitipkan kendaraan tepatnya di Desa Sumur Kumbang Kecamatan Kalianda. Faktor keamanan dengan melakukan perjalanan menggunakan pemandu agar tidak tersesat juga menjadi syarat wajib para pendaki.
“Jika tanpa pemandu dikuatirkan akan tersesat karena ada banyak jalan kecil serupa yang arahnya ke kebun milik warga atau jalur jalur yang dipergunakan warga mencari buah durian apalagi saat ini musim durian,” beber Sumianto.

Basecamp pertama sebelum menuju puncak diakui Sumianto setelah melaporkan kepada petugas beberapa shelter dari shelter 1 hingga 5 harus dilalui. Perjalanan pada malam hari dengan adanya pemandu akan lebih mudah sekaligus jalur jalur pendakian yang sudah diberi tanda khusus dengan total perjalanan mencapai 4 hingga 5 jam tergantung stamina para pendaki dan waktu istirahat di setiap shelter.
“Kalau perjalanan malam hari yang bisa dilihat hanya cahaya lampu kapal kapal di pesisir serta kilauan cahaya dari kota Kalianda sementara saat perjalanan siang pemandangan bisa lebih indah,” terang Sumianto.
Bagi pendaki perjalanan dari shelter ke shelter sebelum menuju puncak Rajabasa lokasi yang sangat tepat untuk mendirikan tenda berada di shelter 3 menuju shelter 4 meski bagi Sumianto dan kawan kawannya langsung melewati shelter tersebut untuk mempersingkat waktu. Namun bagi sejumlah pecinta alam yang melakukan perjalanan bertahap kerap melakukan pendirian tenda di shelter 3 menuju 4 sekaligus memulihkan tenaga.
Setelah melewati shelter 4 salah satu jalur menantang diakui Sumianto berada di jalur ini karena selain mulai menanjak sekaligus ada jalur menurun dengan melewati beberapa akar pohon berusia ratusan tahun dengan lumut hijau yang memenuhi akar pepohonan tersebut. Salah satu spot di jalur ini dikenal dengan sebutan akar lorong rindu, berupa sebuah akar napas yang membentuk lorong yang harus wajib dilalui sebagai akes satu satunya menuju puncak.
“Bagi pendaki akar lorong rindu ini merupakan sebuah harapan dan kenangan karena setelah melewati lorong ini puncak semakin dekat dan kenangan melewati lorong ini selalu akan diperoleh para pendaki,” beber Sumianto.
Akar kolong rindu pada masa kini bahkan menjadi spot swa foto sebagai kenangan dan bukti bahwa pendaki sudah pernah mendaki di puncak Rajabasa. Pada jalur ini hingga menuju puncak pendaki diakui Sumianto harus mulai menyiapkan alat pelindung diri berupa cairan daun sirih serta melindungi kaki agar tidak diserang oleh pacet penghisap darah. Selain daun sirih Sumianto bahkan menganjurkan rokok yang memiliki tembakau bisa dipergunakan untuk melindungi kaki dari gigitan pacet.
Setelah melewati shelter 5 perjalanan menuju puncak Rajabasa akan menjadi jalur terakhir dengan waktu perjalanan hampir lima jam sampai di puncak masih dalam kondisi malam hari.

Tanpa mendirikan tenda Sumianto mengaku masih bisa menikmati malam meski kondisi berawan tidak bisa leluasa melihat bintang bintang bahkan hingga pagi kabut yang masih menghalangi membuat pemandangan ke segala arah tidak bisa terlihat dengan sempurna. Meski demikian ia menyebut sebagian pendaki akan merasa puas bisa menaklukkan salah satu puncak gunung di Pulau Sumatera tersebut sekaligus merasakan udara dingin yang menusuk.
Sesampainya di puncak tertinggi di Lampung Selatan tersebut, Toheri, salah satu pendaki asal Muara Bungo Jambi mengaku sangat bersyukur. Selain bisa merasakan jalur yang menantang ia bisa mencapai puncak tersebut dengan kondisi cuaca bersahabat meski kabut tebal menutupi. Perjalanan pulang yang dilakukan setelah beristirahat selama dua jam lebih sekaigus memulihkan tenaga diakuinya menjadi pengalaman yang berkesan.
“Bisa mengabadikan momen perjalanan menggunakan kamera video dan swa foto di trek yang menantang bahkan saat berada di akar lorong rindu,” terang Toheri.
Meski membawa bekal makanan dan minuman menggunakan bahan plastik, sesuai dengan arahan pemandu semua barang yang berpotensi menimbulkan sampah harus dibawa turun ke basecamp meski diakui Toheri tetap masih ada tangan tangan tak bertanggungjawab membuang sampah sembarangan di sepanjang jalur pendakian.