Afghanistan Buka Peluang Perundingan Dengan Taliban
KABUL – Presiden Afghanistan Ashraf Ghani membuka peluang untuk melakukan pembicaraan dengan gerilyawan Taliban. Peluang tersebut diberikan kepada gerilyawan yang siap menerima perdamaian.
Namun peluang tersebut secara tegas disebutkan, tidak akan diberikan kepada mereka yang menyebabkan tragedi sejumlah serangan di ibu kota Kabul baru;-baru ini. Serangan di hotel Intercontinental di Kabul pada 20 Januari dan bom bunuh diri di jalan ramai seminggu kemudian memicu kemarahan umum dan meningkatkan tekanan pada pemerintah, yang didukung Ghani untuk memperbaiki keamanan.
Serangan tersebut, menewaskan lebih dari 130 orang dan diaku oleh Taliban. Akibagt serangan tersebut, muncul keraguan tentang usaha lama untuk memulai pembicaraan perdamaian dengan pemberontak. Kantor presiden mengatakan, petempur melewati telah garis merah dan perdamaian harus direbut di medan perang. Namun, Ghani mengangkat kemungkinan rekonsiliasi dengan beberapa militan dalam sebuah pidato kepada ulama Islam di Kabul.
“Mereka yang bertanggung jawab atas tragedi ini dan tidak menginginkan perdamaian, pintu perdamaian tertutup bagi mereka. Mereka yang menerima kedamaian, mereka akan menyaksikan bahwa bangsa akan memeluk mereka. Tapi ada perbedaan yang jelas, komitmen kita untuk membawa perdamaian tidak berarti kita akan duduk diam dan tidak akan melakukan pembalasan,” tegas Ghani.
Pemerintah Afghanistan selama bertahun-tahun telah mengupayakan dialog, tapi pemberontakan nampak semakin bertahan. Upaya perdamaian telah dilakukan dan dimulai tapi tanpa kemajuan.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump tampaknya membuang harapan untuk upaya perdamaian saat dia mengecam Taliban atas pembunuhan di Kabul dan menolak gagasan pembicaraan. Trump tahun lalu memerintahkan peningkatan jumlah pasukan AS, serangan udara dan bantuan lainnya kepada pasukan Afghanistan, untuk memaksa Taliban bernegosiasi.
Wakil Menteri Luar Negeri AS John Sullivan mengatakan, bahwa strategi AS tidak berubah dan tujuannya adalah masih harus menekan Taliban secara militer. Hal itu untuk meyakinkan para gerilyawan bahwa mereka harus bernegosiasi.
Afghanistan telah lama menuduh negara tetangganya, Pakistan, gagal bertindak melawan Taliban yang merencanakan kekerasan dari markas mereka di sisi perbatasan Pakistan. Dihadapan warganya, Ghani menuduh Pakistan sebagai pusat Taliban dan mengatakan bahwa Dia sedang menunggu tindakan Pakistan terhadap Taliban. (Baca: https://www.cendananews.com/2018/02/afghanistan-desak-pakistan-menindak-taliban.html).
Pakistan membantah membantu Taliban dan seorang anggota delegasi Pakistan yang dipimpin oleh Menteri Luar Negeri Tehmina Janjua mengunjungi Kabul dengan tujuan membina kerja sama. Janjua menyeru kedua belah pihak menghentikan permainan saling menyalahkan tersebut.
Amerika Serikat pada bulan lalu mengatakan akan mengurangi bantuan keamanan ke Pakistan, mengeluh bahwa negara itu tidak bertindak cukup banyak untuk melawan petempur, yang berlindung di sana. (Ant)