Yordania, Yunani, Siprus Serukan Bantuan Bagi Penampung Imigran
NIKOSIA – Yunani, Yordania dan Siprus pada Selasa (16/1/2018) meminta bantuan untuk negara yang berada di garis depan penampungan imigran pengungsi dari Timur Tengah. Ketiga negara berjanji siap melakukan kerja sama untuk penanganan sejumlah masalah dalam penanganan imigran mulai dari pengelolaan air hingga perlindungan artefak.
Perdana Menteri Yunani Alexis Tsipras menyebut, tantangan besar negaranya adalah pada bencana pengungsi. Dan penanganan persoalan gelombang pergerakan imigran tersebut membutuhkan perhatian masyarakat internasional.
“Membutuhkan peran secara aktif dan efektif untuk mendukung negara penampung sejumlah besar pengungsi itu,” kata Tsipras usai bertemu dengan Raja Yordania Abdullah dan Presiden Siprus Nicos Anastasiades di Nikosia, Selasa (16/1/2018).
Yordania menampung lebih dari 1,3 juta pengungsi Suriah, sementara ribuan pengungsi dan pendatang terjebak di Yunani. Banyak imigran terjebal di Yunani setelah negara tetangga di Balkan menutup jalur yang digunakan oleh lebih dari satu juta orang imigran pada 2015 dan awal 2016 untuk sampai ke negara-negara Eropa lain.
“Ini perkara internasional dan negara tuan rumah, seperti Yordania, membutuhkan dukungan dunia. Kami menanggung beban pengungsi yang sangat besar dan tidak dapat ditinggalkan sendirian saat kami melakukan tanggung jawab kemanusiaan ini atas nama dunia,” kata Raja Abdullah dalam kesempatan yang sama.
Pada pekan ini, pihak berwenang di Libya bagian timur mengatakan, telah menangkap dan akan memulangkan 81 pendatang dari Eritrea, Ethiopia dan Somalia. Mereka yang ditangkap sebelumnya telah melarikan diri setelah gagal menyelundupkan manusia ke Eropa.
Keberadaan para pendatang tersebut dilaporkan ke pihak berwenang oleh seorang imam masjid di kota pantai selatan Benghazi. Libya diketahui menjadi titik keberangkatan utama para migran yang berusaha mencapai Eropa melalui laut. Hampir 120 ribu orang melintasi negara Mediterania tengah tersebut tahun lalu.
Pada awal pekan ini, kapal penjaga pantai Libya mengevakuasi sekitar 300 pengungsi dari tiga kapal, di lepas pantai Afrika Utara. Tercatat salah satu kapal tenggelam dan petugas penjaga pantai hanya menemukan 16 orang yang selamat.
Menurut perkiraan Organisasi Migrasi Internasional (IOM), 2.832 pengungsi tewas pada tahun lalu saat mencoba mencapai Italia dari Afrika Utara. Angka tersebut menurun jika dibandingkan dengan kejadian di 2016, yang jumlah korbannya mencapai 4.581 orang. (Ant)