Warga Sidoluhur Galakkan Tanaman Konservasi di Lahan Miring
LAMPUNG – Tinggal di dekat kawasan perbukitan yang menyatu dengan wilayah kawasan hutan Register II Pematang Taman Balai Pengelolaan Kawasan Hutan XX Bandarlampung, membuat warga Desa Sidoluhur Kecamatan Ketapang Kabupaten Lampung Selatan, masih melestarikan hutan.
Menurut Mianto (50) sebagian besar warga disebutnya merupakan warga pendatang yang memanfaatkan area di lahan lahan perbukitan sebagian pada lahan miring dengan kemiringan mencapai 40 derajat dan berpotensi longsor.
Salah satu titik yang pernah mengalami longsor diakui Mianto terletak di Dusun Penegolan Desa Hatta yang berbatasan dengan Desa Sidoluhur, akibat sebagian tanaman kayu keras di wilayah tersebut rusak bahkan ditebangi.

Beberapa jenis tanaman kayu disebutnya merupakan kayu keras menahun di antaranya medang, jati, randu, bayur serta berbagai jenis tanaman kayu-kayuan dan tanaman produktif jenis multy purposes species tree (MPTS) berupa durian, rambutan, sukun, pala, petai serta berbagai jenis tanaman lain. Selain sebagai tanaman konsevasi penahan longsor, sebagian tanaman bahkan memberi nilai ekonomis dengan menjual buah.
“Sebagian tanaman kayu sengaja ditanam dengan pemanfaatan sebagai bahan bangunan meski pola penebangan dilakukan secara tebang pilih dan diregenerasi menggunakan tanaman baru,” terang Mianto, salah satu warga Desa Sidoluhur Kecamatan Ketapang, saat ditemui Cendana News, Rabu (31/1/2018).
Sebagian besar tanaman kayu, disebut Mianto, ditanam dengan pola terasering atau penanaman berundak-undak untuk memudahkan proses perawatan. Hasilnya selain dimanfaatkan sebagai investasi tahunan pada lahan miring tersebut, dirinya juga menanam berbagai jenis rumput sumber pakan ternak di antaranya tumbuh secara liar. Lahan pakan ternak tersebut membuat Mianto bisa memelihara sebanyak delapan ekor kambing dan dua ekor sapi.

Satu pohon durian lokal jenis kemuning yang ditanamnya pada musim tahun ini, dibeli oleh pembeli sekitar Rp1 juta dengan buah durian yang dihasilkan berkisar 50 hingga 80 buah bahkan lebih setiap pohonnya. Selain sebanyak 50 pohon durian, puluhan pohon rambutan juga menjadi sumber penghasilan setelah dibeli pedagang buah.
Selain Mianto, warga setempat yang memanfaatkan lahan miring untuk menanam kayu-kayuan dan berbagai tanaman produktif lain di antaranya Hasan (30) yang sengaja menanam ratusan pohon sengon, medang dan jati. Ia menyebut, memiliki lahan tepat di cekungan sehingga sulit dijadikan lahan pertanian dan perkebunan. Oleh sebab itu memutuskan menanam berbagai jenis tanaman kayu.
Pada lereng lahan miliknya, puluhan rumpun bambu apus dan bambu hitam, sengaja dipertahankan dan ditanam pasca terjadi abrasi di sepanjang aliran sungai pada tahun 2013 silam. Keberadaan pohon bambu dan jenis pohon gondang bahkan menjadi sumber mata air bagi warga yang selanjutnya dibuat belik untuk keperluan mengambil air bersih.
“Mata air tetap lancar karena pepohonan tetap dipertahankan. Bahkan sengaja dihutankan oleh masyarakat. Maka muncul larangan menebang jenis pohon tertentu di wilayah kami,” beber Hasan.
Adanya kearifan lokal warga mempertahankan jenis pohon tertentu yang di antaranya berumur ratusan tahun, membuat kawasan yang berada di lahan miring tersebut tidak pernah kekurangan air. Saat kemarau panjang mencapai lebih dari empat bulan dan pernah melanda wilayah tersebut, Hasan menyebut, sumber air masih bisa memenuhi kebutuhan air bersih warga tanpa harus membeli.

Mudahnya perolehan bibit dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melalui Persemaian Permanen membuat warga mudah melakukan penanaman pohon kayu-kayuan dan MPTS sebagai tanaman konservasi dan produksi.
