Selama 2017, Dua Warga Binaan Meninggal di Rutan Maumere
MAUMERE —- Selama 2017 tercatat dua warga binaan Rumah Tahanan (Rutan) Maumere yang meninggal dunia saat masih menjalani hukuman. Penyebab kematian akibat penyakit yang dialami dan seorang warga binaan meninggal gantung diri di pohon mangga di dalam Kompleks Rutan.
“Warga binaan pemasyarakatan yang meninggal di Rutan Maumere selama 2017 sebanyak dua orang. Sementara anggota keluarga warga binaan yang meninggal sebanyak 12 orang,” ujar Kepala Rutan Maumere Parman Seran, SH, Senin (1/1/2017).
Menurut Parman jumlah anggota keluarga warga binaan yang lahir sepanjang 2017 sebanyak 6 orang. Jumlah anggota keluarga yang menerima komuni pertama sebanyak 17 orang. Keluarga yang lulus sekolah dari tingkat Sekolah Dasar (SD) sampai dengan perguruan tinggi 13 orang dan yang tidak lulus 1 orang.
“Keluarga warga binaan yang menikah 6 orang, pegawai Rutan yang pensiun 4 orang, keluarga warga binaan yang pensiun 2 orang dan yang terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) ada 7 orang,” terangnya.
Berdasarkan keputusan pengadilan lanjut Parman,hukuman paling ringan yang diterima warga binaan yakni 2 bulan dan tertinggi 18 tahun. Satu orang mendapat perubahan hukuman dari hukuman mati menjadi hukuman seumur hidup atas nama Herman Jumad Masan.
Beny Johanis Kara, Kepala Sub Seksi Pelayanan Tahanan Rutan Maumere kepada Cendana News menambahkan, warga binaan yang masuk pada 2017 sebanyak 140 orang. Sementara yang bebas 65 orang sehingga terjadi kelebihan kapasitas.
“Yang dimutasi atau dipindah ke Rutan Ende sebanyak 25 orang dan 2 orang ke Lapas Kupang. Jumlah warga binaan hingga 31 Desember 2017 sebanyak 136 orang,” terangnya.
Sebanyak 140 warga binaan yang masuk,beber Beny sapaannya, sekitar 70 orang akibat kasus pelecehan seksual. Sementara sisanya akibat kasus pencurian, penipuan, pembunuhan dan kasus korupsi.
“Kita selalu sibuk kuantitas dan pencegahannya tidak terlalu diperhatikan, sehingga kasus pelecehan seksual dengan korban terbanyak anak di bawah umur terus meningkat di masyarakat,” sesaalnya.
Meningkatnya kasus pelecehan seksual lanjut Beny sangat berdampak sekali terhadap melonjaknya penghuni Rutan Maumere dan menyebabkan kelebihan kapasitas. Rutan Maumere pun terpaksa memindahkan warga binaan ke Rutan di kabupaten tetangga yang masih kekurangan daya tampung seperti ke Rutan Ende.
“Akibat kelebihan kapasitas,rentan terjadi gesekan antara nara pidana karena ruang gerak mereka terbatas dan ruangan semakin pengap dan sempit sehingga ini juga secara psikologis sangat berpengaruh,” pungkasnya.
