SEKAMI Katolik Pusatkan Peringatan HAM di Stasi Ferdinando Kalianda

LAMPUNG — Ratusan anak anak yang tergabung dalam Serikat Kepausan Anak dan Remaja Misioner (SEKAMI) Gereja Katolik di unit pastoral Bakauheni Keuskupan Sufragan Tanjungkarang memusatkan Peringatan Hari Anak Misioner (HAM) di stasi Ferdinando Kalianda Lampung Selatan dengan perayaan ekaristi kudus.

Wolfram Safari, Pr, pastor di unit Pastoral Bakauheni menyebutkan, kegiatan Hari Anak Misioner menjadi sarana mempertemukan anak anak di berbagai stasi setelah perayaan Natal di wilayah gerejawi tingkat paroki tersebut.

Pastor Wolfram yang merayakan Ekaristi bersama konselebran Pastor Bernardus Budi Widiatno, Pr mengungkapkan, perayaan sengaja digelar bertepatan dengan perayaan 174 tahun SEKAMI yang didirikan di Perancis oleh uskup De Forbin Janson pada tahun 1843.
Gerakan pendampingan iman anak dan remaja Katolik tersebut saat ini mulai dikenal dengan kegiatan Bina Iman Anak (BIA) dan Bina Iman Remaja (BIR) atau dikenal dengan Pendampingan Iman Anak dan Remaja.

“Pentingnya pendampingan iman anak dan remaja sejak dini membuat gereja Katolik bahkan resmi menetapkan kegiatan SEKAMI sebagai serikat tingkat kepausan dengan mengajarkan anak memiliki semangat derma, kurban dan kesaksian atas dukungan dari para orangtua dan promotor panggilan,” terang Pastor Wolfram Safari,Pr di gereja Stasi Santo Ferdinando Kalianda Lampung Selatan, Minggu (7/1/2018).

Pastor Wolfram Safari,Pr pastor unit pastoral Bakauheni seusai memimpin perayaan Ekaristi Minggu Misi [Foto: Henk Widi]
Ratusan anak anak dengan pendampingan orangtua dan pembimbing BIA dan BIR tersebut menurut Pastor Wolfram, Pr berasal dari sejumlah stasi diantaranya stasi Kalianda, Bakauheni, Tridharmayoga ,Sumberagung, Palas, Sukabakti dan Pasuruan.

Selain itu ia menyebut anak dan remaja merupakan generasi penerus masa depan bagi agama dan bangsa sehingga perhatian harus diberikan secara khusus sejak dini.

Selain perayaan, setiap stasi juga menampilkan perwakilan anak anak anggota SEKAMI dengan mengenakan baju adat dari beberapa wilayah di Indonesia seperti baju adat khas Lampung, Jawa Tengah bahkan Timur Tengah sebagai simbol tempat kelahiran Yesus Kristus.

Penggunaan baju adat sekaligus penampilan tarian tradisional Indonesia disebutnya merupakan bentuk ungkapan rasa syukur dan semangat iman Gereja Katolik untuk menjadi 100 persen Katolik dan 100 persen Indonesia dengan semangat Kebhinekaan Tunggal Ika.

Anak anak misioner unit pastoral Bakauheni mengenakan pakaian adat daerah di Indonesia dan sebagian dari Timur Tengah [Foto: Henk Widi]
Selain diikuti oleh sebanyak 356 anak anak dari beberapa stasi di unit pastoral Bakauheni hari anak misi tersebut juga melibatkan para bruder, pastor dan biarawan yang aktif dalam promosi panggilan terutama dalam gereja Katolik ada pilihan hidup bhakti menjadi biarawan dan biarawati.

Ia berharap setelah kegiatan tersebut anak anak memiliki semangat anak misioner diantaranya sembyan 2D dan 2 K yakni Doa, Derma, Kurban, Kesaksian sekaligus semboyan anak anak membantu anak anak.

Lihat juga...