Petani Candipuro Keluarkan Biaya Tambahan untuk Pengairan Lahan Pertanian

LAMPUNG — Sejumlah petani di Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lampung Selatan terpaksa mengeluarkan biaya ekstra untuk melakukan proses pengolahan hingga perawatan tanaman padi yang berada jauh dari aliran Sungai Way Sekampung dan Way Gelam.

Suripto (30), salah satu petani padi di Desa Way Gelam menyebut belum lancarnya hujan di wilayah tersebut membuat sebagian petani harus memanfaatkan dari sumur bor yang dimiliki. Sementara sebagian lagi harus memanfaatkan air dari Sungai Way Gelam dengan selang yang panjang.

Suripto yang melakukan pengolahan lahan sawah sejak Desember 2017, mengaku sudah mengalami kesulitan air sejak masa pengolahan tanah dengan proses pencetakan sawah, proses penanaman hingga umur dua bulan.

Saat proses pengolahan lahan dirinya menyebut harus mengeluarkan biaya penyewaan mesin pompa air dengan penyewaan Rp100 ribu sekali pakai belum termasuk pembelian bahan bakar minyak.

“Karena sebagian petani belum memiliki mesin pompa air terpaksa kami menyewa dari pemilik mesin untuk pengairan lahan sawah bahkan nanti hingga menjelang masa padi berisi kami tetap masih harus menyewa mesin pompa,” kata Suripto saat ditemui Cendana News di lahan sawah miliknya tengah menyiapkan selang untuk mengalirkan air ke lahan sawah miliknya, Rabu (31/1/2018).

Hingga padi varietas Muncul miliknya berumur sekitar dua bulan dirinya menyebut telah mengeluarkan uang sebesar Rp500 ribu. Bahkan berdasarkan perhitungannya hingga menjelang panen ditambah dengan biaya operasional lain dirinya bisa mengeluarkan biaya sekitar Rp2 juta per hektare. Biaya tersebut diakuinya belum termasuk pembelian pupuk yang bisa menghabiskan biaya sekitar Rp1 juta.

Hujan yang belum cukup deras di wilayah tersebut mengakibatkan petani melakukan pembersihan gulma jenis berupa rumput mempergunakan sabit akibat kurangnya pasokan air. Padahal sistem “matun” mempergunakan tenaga kerja para wanita tersebut lebih mudah dilakukan mempergunakan jasa buruh matun.

Suripto menyebut tidak mempergunakan herbisida untuk membersihkan rumput sebagai upaya penghematan saat menanam padi varietas muncul yang bisa dipanen 120 hari tersebut.

“Kami berharap hujan segera turun agar lahan sawah kami teraliri air terutama nanti menjelang masa padi berisi agar produksi padi tidak menurun,” ungkap Suripto.

Petani lain bernama Suminah (56) pemilik lahan sawah satu hektare tersebut mengaku mengeluarkan biaya ekstra untuk buruh tanam dengan total Rp1 juta sekali musim tanam tersebut belum termasuk biaya penyaluran air mempergunakan mesin sedot.

Selama ini Suminah dan petani lain mengaku mengalirkan air dari Sungai Way Gelam yang mengalami penurunan debit air semenjak Desember akibat sebagian warga memanfaatkan air untuk proses pengolahan lahan sawah di wilayah tersebut.

“Pada musim curah hujan merata lahan pertanian sawah yang kami garap tidak pernah kesulitan air bahkan kerap kebanjiran karena limpasan air Sungai Way Gelam,” beber Suminah.

Kekurangan air untuk lahan pertanian juga dialami oleh Ridho petani di Desa Sinar Pasemah yang memanfaatkan air Sungai Way Sekampung dari sejumlah saluran irigasi yang dikenal dengan jalur.

Proses pemanfaatan air sungai melalui jalur tersebut diakui Ridho dalam musim tanam Oktober-Maret membutuhkan biaya yang cukup tinggi untuk penyediaan kebutuhan air melalui sistem pompanisasi.

Ia menyebut kondisi berbalik terjadi pada tahun sebelumnya dengan curah hujan yang tinggi berimbas pada areal lahan persawahan di wilayah tersebut, yang harus mengalami kebanjiran akibat meluapnya air dari jalur jalur saluran irigasi di wilayah tersebut.

Meski mengeluarkan biaya ekstra untuk proses pengairan menggunakan jasa mesin pompa, Ridho berharap panen padi varietas muncul yang akan dipanen bulan Maret hingga April hasilnya cukup melimpah.

Suminah dibantu sang anak membersihkan rumput di lahan sawah yang mengalami kekurangan air -Foto: Henk Widi.
Lihat juga...