LEBAK – Pemerintah Kabupaten Lebak, Banten, menjamin stok beras di wilayahnya mencukupi untuk kebutuhan konsumsi masyarakat di daerah itu. Dinas Perdagangan setempat memastikan tidak terjadi kelangkaan stok beras.
“Persediaan beras relatif aman dan mencukupi di pasaran,” kata Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Lebak Orok Sukmana, Minggu (14/1/2018).
Sukmana menyebut, tidak terjadi kelangkaan beras. Stok yang ada disebutnya mampu memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat. Hal tersebut didasarkan dari hasil pemantauan stok beras di sejumlah pasar tradisional, seperti Rangkasbitung, Muncang, Maja, Bayah, Malingping dan Cipanas stok beras mencukupinya.
Mereka para pedagang mendatangkan beras dari daerah Provinsi Jawa Barat juga Jawa Tengah. Namun harga beras di pasar itu terjadi lonjakan akibat pasokan beras lokal menghilang. Meskipun harga beras mengalami kenaikan, kondisinya dinilai masih kategori wajar. “Kami akan melakukan operasi pasar (OP) jika kenaikan beras di atas 10 persen dari harga normal,” tambahnya.
Selama ini pasokan beras lokal di sejumlah Kabupaten Lebak menghilang akibat percepatan musim tanam dan juga curah hujan tinggi. Sepanjang intensitas curah hujan tinggi tentu para penggilingan pabrik beras tidak bisa mengeringkan gabah. Kebanyakan pengeringan gabah itu dilakukan dengan cara dijemur agar terkena terik sinar matahari.
Penggilingan beras tidak memiliki mesin pengering. Namun kenaikkan beras itu dipastikan pada Februari kembali normal karena panen raya di berbagai daerah di Lebak. Selain itu Dinas Perdagangan memberikan instruksi mendadak ke sejumlah pengusaha distributor guna mencegah terjadi penimbunan bahan pangan tersebut.
“Kami bertindak tegas jika ditemukan adanya penimbunan beras dan bila perlu diproses secara hukum,” ujarnya.
Orok menyebutkan, pihaknya hingga kini belum memiliki data pasti jumlah beras yang beredar di sejumlah pasar tradisional. Akan tetapi, pihaknya menjamin persediaan beras relatif aman dan mencukupinya. Masyarakat jangan panik atas menghilangnya beras lokal karena mereka pedagang bisa mendatangkan beras dari luar daerah. “Kami menjamin beras yang beredar itu dipastikan tidak impor,” katanya.
Seorang pedagang di Pasar Rangkasbitung H Entong (50) mengaku, Dirinya kini mendatangkan beras dari luar daerah. Hal itu dilakukan karena berkurangnya produksi beras lokal akibat musim tanam dan curah hujan. “Kami terpaksa mendatangkan beras dari Jawa Barat dan Jawa Tengah hingga 20 ton setelah menghilangnya beras lokal,” ujarnya.
Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Lebak Dede Supriatna mengatakan berdasarkan data Dinas Pertanian dan Perkebunan setempat, produksi beras dari Januari sampai Desember 2017 mencapai 300.841 ton. Untuk kebutuhan konsumsi beras bagi warga Kabupaten Lebak yang berpenduduk 1,2 juta jiwa itu sekitar 11.977 ton per bulan atau 143.724 ton per tahun dengan rata-rata per kapita sebanyak 134 kilogram.
Karena itu, produksi beras di Lebak surplus sekitar 157.118 ton dan aman hingga 13 bulan ke depan. “Kami menjamin persediaan beras lokal tidak ada masalah karena surplus sampai 2019,” katanya. (Ant)