BANTUL – Dinas Perdagangan Kabupaten Bantul, DIY optimalisasi pengelolaan Sistem Resi Gudang (SRG) untuk upaya penyimpanan hasil pertanian petani daerah itu sebelum dijual ke pasar.
Optimalisasi dilakukan oleh Dinas Perdagangan Bantul memanfaatkan gudang produk pertanian yang ada di Niten. “Kita sudah merancang optimalisasi pengelolaan SRG (Sistem Resi Gudang) di Niten dan kita sudah menunjuk pengelola dan melakukan kontrak kerja sama untuk optimalisasi SRG Niten,” kata Kepala Dinas Perdagangan Bantul Subiyanta Hadi di Bantul, Minggu (14/1/2018).
Mereka yang ditunjuk sebagai pengelola gudang SRG milik pemerintah daerah di Niten adalah kelompok tani di bawah Koperasi Unit Desa (KUD) Tani Harjo Kecamatan Pandak. Optimalisasi gudang SRG tersebut sudah dimulai sejak November 2017 lalu.
Sesuai arahan dari Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Kementerian Perdagangan (Kemendag), pengelola SRG Niten diberi keleluasaan untuk menggandeng pihak ketiga dalam kaitannya dengan permodalan.
Subiyanta menjelaskan, dalam kontrak kerja sama antara pemda dengan kelompok tani pengelola gudang SRG Niten, pemda meminta agar pengelola proaktif mendatangi gabungan kelompok tani (gapoktan) se-Bantul agar menyimpan hasil pertanian.
“Sudah disosialisasikan ke semua gapoktan, misalnya gabah yang baru saja dipanen agar dibawa ke SRG Niten untuk kemudian proses penggilingan menjadi beras. Jadi hasil pertanian diresikan atas nama gapoktan,” katanya.
Optimalisasi pengelolaan SRG dilakukan dalam rangka peningkatan pendapatan usaha tani melalui tunda jual. Dengan program tersebut, saat panen raya petani menyimpan hasil pertanian di gudang, kemudian penjualan dilakukan saat harga komoditas pertanian tinggi.
“Resi gudang memiliki posisi penting dalam upaya meningkatkan kesejahteraan pelaku usaha tani, karena resi gudang merupakan salah satu bentuk sistem tunda jual yang menjadi alternatif dalam meningkatkan nilai tukar petani,” pungkasnya. (Ant)