Pembudidaya Rumput Laut Sokong Bisnis Kuliner di Lamsel
LAMPUNG — Masyarakat di Dusun Sukabandar Desa Legundi Kecamatan Ketapang terus mengembangkan rumput laut. Didukung daerah pesisir, pembudidaya secara berkelanjutan ikut mendukung bisnis kuliner hingga dunia kecantikan.
Umini (40) salah satu pembudidaya rumput laut di Desa Ruguk Kecamatan Ketapang menyebutkan, daerah pesisir dimanfaatkan sebagai lokasi budidaya rumput laut diantaranya Desa Ruguk, Sumur, Tridharmayoga, Legundi serta wilayah Desa Ketapang Laut.
Salah satu jenis yang ditanam yakni rumput laut alam jenis Spinosum (Sp) yang memiliki masa panen lebih kurang 25 hari mempergunakan jalur tambang berjarak lima puluh meter dari tepi pantai.
Umini menyebut tingkat permintaan akan rumput laut memiliki dua pangsa pasar di antaranya pangsa pasar industri dan pangsa pasar konsumsi penyokong usaha kuliner di wilayah Lampung Selatan.
“Kami sengaja menanam rumput laut dengan pola waktu tanam berbeda agar masa panen bisa berkesinambungan sekaligus dengan permintaan yang berbeda sehingga stok barang tidak pernah kosong,” terang Umini saat ditemui Cendana News, Sabtu (6/1/2018).
Meski di daerah tersebut mengembangkan dua jenis rumput laut, namun jenis spinosum diakui Umini lebih diminati karena mudah memperoleh bibit dan tingkat ketahanan cukup tinggi pada wilayah perairan pantai Timur Lampung.
Disebutkan, dalam sekali panen, ia bisa mendapat 4 hingga 7 ton rumput laut dari ratusan jalur tambang di padang. Dalam sebulan permintaan akan bahan baku pembuatan es rumput laut bisa mencapai 4 kuintal dengan harga per kilogram rumput laut kering siap olah seharga Rp3.000. Peningkatan bahkan disebutnya terjadi saat liburan sekolah, Natal 2017 dan Tahun Baru 2018 dengan semakin meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan ke destinasi wisata.
“Selain saat liburan yang bisa meningkatkan permintaan akan rumput laut, saat bulan suci Ramadhan kami juga menerima banyak permintaan,” terang Umini.
Permintaan yang tinggi diakui juga oleh pembudidaya rumput laut jenis spinosum lain bernama Ahmad (50). Meski memiliki jalur dalam jumlah terbatas, 100 jalur masing masing sepanjang 40 meter dirinya masih bisa memenuhi kebutuhan untuk industri pembuatan agar-agar.
Masa panen yang cepat diakuinya cukup memberikan keuntungan bagi pembudidaya sekaligus warga di sekitar pantai yang bisa bekerja sebagai buruh tanam dan panen rumput laut.
Para pekerja yang sebagian besar merupakan wanita bertugas memanen dan mengikat bibit, sementara para pekerja laki laki mengambil rumput laut di jalur dengan perahu sekaligus melakukan penyulaman pelampung dan tanaman yang rusak.
“Budidaya rumput laut selain memaksimalkan potensi laut yang ada, ikut mendukung industri makanan dan kosmetik juga menciptakan lapangan kerja sehingga harus terus berkelanjutan,” beber Ahmad.

Indah, salah satu pemilik usaha kuliner mengaku membeli bahan baku dari pembudidaya yang sudah kerap menyetor rumput laut kepadanya. Jenis rumput laut spinosum selain bisa dipergunakan sebagai bahan pembuat es campur juga dikreasikan dalam menu lawaran rumput laut.
“Bahan baku rumput laut yang melimpah tentunya akan membuat kreativitas pemilik usaha kuliner sehingga variasi minuman lebih beragam,” terang Indah.