Panen Alpukat, Pebisnis di Lamsel Kirim ke Sejumlah Pasar
LAMPUNG – Komoditas perkebunan buah alpukat varietas Sipit Asia dan varietas Bana mulai memasuki masa panen secara merata tahap pertama pada awal bulan Januari 2018. Setelah beberapa bulan sebelumnya hanya ada beberapa pohon alpukat berbuah.
Syahbana Abdul Rohman (35) selaku petani sekaligus pelaku bisnis jual beli buah alpukat mengaku, meski belum memasuki panen raya, ratusan petani di wilayah Desa Kelawi sudah mulai memanen buah alpukat yang mereka miliki.
Syahbana mengaku, pada awal tahun ini dari luasan lahan sekitar 100 hektar sistem tumpangsari atau multikultur dengan jumlah pohon sekitar 5000 batang milik petani, 500 di antaranya merupakan hasil kebun yang dikelola secara monokultur.

“Kami membeli dari petani dengan sistem kiloan lalu dikumpulkan dan disortir berdasarkan grade atau ukuran. Selanjutnya dikirim ke sejumlah pasar di Cilegon, Jakarta, Serang, Tangerang hingga Semarang. Ke penjual besar selanjutnya ke pengecer,” terang Syahbana Abdul Rohman, selaku petani pekebun alpukat sekaligus pebisnis jual beli alpukat, saat ditemui di gudang pengepulan buah alpukat miliknya yang ada di Dusun Kayu Tabu Desa Kelawi Kecamatan Bakauheni, Senin (8/1/2018).
Salah satu ciri khas hasil perkebunan alpukat di wilayah Desa Kelawi oleh masyarakat dikenal dengan nama alpukat Bana. Penyebutan nama alpukat Bana diakuinya justru disematkan oleh para konsumen karena ciri khas tekstur, penampakan fisik dan cita rasa berbeda dengan alpukat pada umumnya. Buah alpukat varietas Bana dengan kualitas super merupakan hasil persilangan sambung pucuk sehingga membuat produksi buah maksimal.

Buah alpukat yang dikembangkan oleh Syahbana tersebut dalam masa panen awal tahun ini masih berkisar 1000 kilogram atau 1 ton sekali pengiriman. Jumlah pengiriman lebih banyak hingga 3 ton sekali pengiriman akan terjadi pada bulan April mendatang.
Varietas alpukat Bana yang lebih besar membuat harga alpukat tersebut lebih tinggi dengan harga Rp8.000 per kilogram di tingkat petani. Sementara di tingkat pengepul bisa mencapai Rp12.000 dan di tingkat konsumen bisa mencapai Rp15.000 hingga Rp20.000 per kilogram. Buah alpukat yang kerap disantap sebagai buah segar dan menjadi bahan baku pembuatan jus disebutnya menjadi penopang ekonomi masyarakat di wilayah Kayu Tabu.
Dengan harga kisaran Rp12.000, Syahbana menyebut, dalam sekali pengiriman ia memperoleh omzet sekitar Rp12 juta atau mendapatkan omzet sekitar Rp24 juta karena dalam sepekan melakukan dua kali pengiriman. Pada kondisi banjir atau musim panen buah pengiriman dilakukan mempergunakan mobil, sementara saat kondisi terbatas hasil panen Syahbana mengaku mengirim buah alpukat mempergunakan motor dengan jumlah pengiriman sebanyak 1,5 kuintal.
Syahbana menyebut, potensi lokal komoditas buah alpukat yang banyak dikembangkan oleh warga membuat pebisnis jual beli alpukat yang sudah menekuni usaha tersebut sejak sepuluh tahun silam mulai diikuti warga lain.
Selain berbisnis, Syahbana juga merambah ke dunia pembibitan alpukat dengan sistem sambung pucuk yang menghasilkan buah varietas Bana. Pembibitan yang dilakukan mulai dari biji tersebut diakuinya bahkan sebanyak 10.000 batang sudah ditanam petani di wilayah Lampung hingga Bengkulu.
Terbukanya peluang agro bisnis tersebut, membuat Syahbana berniat membuat eko wisata di wilayah tersebut, sekaligus memperkenalkan wisata alam di antaranya Pantai Batu Alif, Pantai Minang Rua, Hutan Lindung Kayu Tabu dan Jembat Batu.
Pengembangan tersebut diharapkan akan meningkatkan pendapatan masyarakat di sektor wisata dan perkebunan. Selain hasil utama petani Kayu Tabu dari kelapa, pisang, jagung dan hasil pertanian lain.
