Nigeria Mulai Evakuasi Besar-besaran Warganya Dari Libya
TRIPOLI – Nigeria memulai proses evakuasi ribuan warganya dari Libya, Sabtu (6/1/2018). Menteri Luar Negeri Nigeria Geoffrey Onyema menyebut, proses evakuasi akan terus berlanjut sampai semua yang ingin pulang dapat kembali ke rumah.
Warga Nigeria baru-baru ini menjadi kelompok bangsa terbesar di antara migran Afrika yang bepergian ke Libya dan mencoba menyeberang dari sana ke Italia melalui laut.
Gejolak mulai muncul sejak faksi-faksi bersenjata lokal dan patroli pantai Libya mulai menghalangi lebih banyak migran meninggalkan Libya pada Juli tahun lalu. Upaya penghalangan dilakukan semenjak sejumlah besar warga Nigeria telah terjebak di Libya sering menghadapi kondisi sosial yang mengerikan dan pelecehan, termasuk kerja paksa.
Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) dalam beberapa bulan terakhir mempercepat program pengembalian sukarela untuk memulangkan para migran dari sejumlah negara. Nigeria sekarang bergabung dengan Niger dalam mengatur pengembalian warga secara bilateral.
“Tujuan utama, dan kami sangat fokus pada tujuan itu, adalah agar warga Nigeria ini kembali ke rumah secepat mungkin. Presiden kami telah menyediakan semua sumber daya yang diperlukan untuk memulangkan semua orang Nigeria di sini. Kami memiliki dua pesawat yang telah tiba dan atas izin Tuhan kami berharap bisa mengevakuasi sampai 800 orang Nigeria hari ini, “kata Menteri Luar Negeri Nigeria Geoffrey Onyema saat berkunjung ke Tripoli, Minggu (7/1/2018).
Oyema menyebut, Nigeria telah memperkirakan akan menerbangkan sekira 5.500 migran. Namun situasi di lapangan membuat jumlah sebenarnya sulit dipastikan. Faktor penyulit yang muncul diantaranya, adanya migran yang berada dalam kendali pemerintah, namun ada pula yang yang berada di penampungan yang berada daerah di luar jangkauan pemerintah.
Sementara upaya memfasilitasi pemulangan sukarela juga bisa dipersulit karena kurangnya akses. Penjahat yang terlibat dalam penyelundupan dan perdagangan migran disebut-sebut juga memiliki kepentingan agar mereka seharusnya tidak dipulangkan, karena para migran adalah mewakili aset ekonomi untuk mereka.
Libya telah mengalami gejolak sejak sebuah pemberontakan pada 2011, setelah pemerintahan dan faksi bersenjata saling bersaing untuk mendapatkan kekuasaan.
Onyema diterima oleh pemerintah pusat yang memang begitu diakui secara internasional di Tripoli karena telah berjuang untuk menegakkan kewenangannya di lapangan. IOM menyebut, kurang dari separuh jumlah migran yang sampai ke Eropa melalui laut pada 2017 dari pada 2016. Sebagian besar disebabkan oleh penurunan jumlah migran yang melintas dari Libya. (Ant)