Januari Momen Awal Tahun Pak Harto Dalam Pengadaan Beras
JAKARTA – Januari menjadi momen awal tahun bagi Pak Harto dalam program pengadaan beras. Dengan program yang disusun sejak awal tahun, diharapkan stock beras pada akhir Maret akan bisa lebih besar dari yang diperkirakan.
Meningkatnya produksi beras di Indonesia mendapat apresiasi dari seorang pakar di bidang pertanian dari Amerika Serikat. Apresiasi diberikan karena keberhasilan dalam penanggulangan hama secara terpadu dengan memperhatikan kelestarian lingkungan. Upaya yang dilakukan berhasil meningkatkan produksi beras, sekaligus menghemat pengeluaran anggaran baik oleh petani maupun Pemerintah.
Hal itu terkuak dalam buku ‘Jejak Langkah Pak Harto’, saat Presiden Soeharto menerima Kepala Bulog, Bustanil Arifin, di Bina Graha. Dalam pertemuan itu Kepala Negara menganjurkan kepada Kepala Bulog agar pengadaan beras mulai dilakukan mulai bulan Januari. Dengan demikian stock beras pada akhir Maret nanti bisa lebih besar dari yang diperkirakan. Untuk itu Presiden meminta supaya Bulog membeli padi dari petani secara intensif sejak panen mendatang.
Sehubungan dengan pengadaan beras, Bustanil mengatakan bahwa stock beras cukup memadai, yaitu sebanyak 900,000 ton. Menurut Bustanil Arifin stock beras lama berjumlah 750 ribu ton dan stock baru nanti akan berjumlah 700-800 ribu ton. Stock tersebut akan mencukupi sebagai stock nasional untuk tahun depan.
Menteri Pertanian Achmad Affandi menyatakan, produksi beras Indonesia diperhitungkan tetap meningkat dibandingkan produksi 1986. Sementara di beberapa negara lain produksi menurun akibat kekeringan panjang.
Setelah melapor kepada Presiden Soeharto di Bina Graha Jakarta, Mentan mengungkapkan bahwa ramalan ketiga produksi beras Indonesia pada 1987 adalah 27,2 juta ton. Jumlah tersebut jauh lebih tinggi dibanding ramalan III 1986 yang tercatat 26,7 juta ton.
Sementara itu Affandi juga mengemukakan angka tetap realisasi produksi padi tahun 1986, yaitu 27,01 juta ton, berarti meningkat dibanding dengan angka pasti tahun 1985 sebesar 26,54 juta ton dan tahun 1984 sebesar 25,93 juta ton.
Ia menjelaskan, ramalan III adalah hasil penjumlahan dari realisasi produksi beras sampai dengan bulan Agustus, ditambah angka proyeksi produksi bulan September sampai Desember. Mentan mengemukakan, akibat kekeringan yang panjang sejumlah negara penghasil beras diperkirakan akan mengalami penurunan produksi. Negara-negara tersebut diantaranya Pakistan, India, beberapa negara Afrika, bahkan Thailand-pengekspor beras utama di Asia Tenggara diperkirakan akan menurunkan ekspor berasnya dari empat menjadi dua juta ton.
Menurut Affandi, bagi petani di Indonesia kekeringan itu di samping akibat negatifnya ternyata ada hikmahnya, yaitu meningkatkan mutu beras serta meninggikan hasil rendemen dari panen beras, sehingga rata-rata harga beras yang dapat dijual petani lebih tinggi dibanding harga dasar yang ditetapkan pemerintah.
“Biasanya rendemen rata-rata 51 persen dari hasil pungutan padi di sawah, kini menjadi rata-rata 58 persen, bahkan di Jawa Tengah ada yang mencapai 61 persen,” kata Menteri Affandi.
Dalam ramalan III produksi beras itu, kata Affandi, telah dimasukkan hasil panen sebagian area Supra Insus, yaitu sampai akhir Agustus lalu telah dipanen pada area 120.000 hektar. “Jadi masih ada 160.000 hektar lagi area Supra Insus yang belum dimasukkan dalam ramalan tersebut, sehingga angka sementara nanti bisa jauh lebih tinggi dibanding ramalan ketiga tadi,” tambah Mentan.
Program Supra Insus disebutnya, sangat bermanfaat dalam upaya mempertahankan swa-sembada beras maupun meningkatkan pendapatan petani. Berdasarkan hasil panen sampai akhir Agustus, supra insus di Jabar dapat menutup penurunan produksi di propinsi-propinsi lain di Jawa.
Melihat perkembangan sampai ramalan ketiga, Mentan yakin Indonesia dapat mempertahankan tingkat swa-sembada beras. “Walaupun misalnya produksi hanya mencapai 27 juta ton, itu cukup untuk mempertahankan swasembada,” ujarnya.
APRESIASI
Meningkatnya produksi beras di Indonesia mendapat apresiasi dari seorang pakar di bidang pertanian dari Amerika Serikat. Hal ini terkait dalam penanggulangan hama secara terpadu dengan memperhatikan kelestarian lingkungan sehingga berhasil meningkatkan produksi beras di Indonesia, sekaligus menghemat pengeluaran anggaran baik oleh petani maupun Pemerintah.
Koordinator Program Penanggulangan Hama Terpadu untuk kawasan Asia Tenggara Peter Kenmore menyatakan, program penanggulangan hama secara terpadu (Integrated Pest Management/IPM) yang dilakukan di Indonesia sejak 18 bulan yang lalu (tahun 1986) telah berhasil dengan baik.
IPM dilakukan setelah disadari bahwa pemakaian pestisida secara berlebihan tidak berhasil mengatasi serangan hama yang menyerang laban pertaruan. Dengan IPM produksi beras per hektarnya di Indonesia telah meningkat, dari 6,1 ton di 1986 menjadi 7,4 ton pada panen pertama 1988.
“Pemakaian pestisida maupun kerusakan tanaman akibat serangan hama telah berkurang, sedangkan produksi beras meningkat dengan biaya yang dikeluarkan pihak petani menjadi lebih kecil,” katanya pula.
Menurut ilmuwan tersebut, penghapusan subsidi bagi pemakaian pestisida di Indonesia telah menghemat pengeluaran dana sebesar 50 juta dolar AS dan pencemaran lingkungan juga berkurang 60 persen.