LSI: Lima Partai Lama Terancam tak Lolos PT
JAKARTA – Pemilu 2019 sudah di depan mata, namun partai lama yang pada Pemilu 2014 lalu berhasil menempatkan kader-kadernya sebagai wakil rakyat di parlemen mesti lebih massif untuk mendulang suara pemilu ke depan. Pasalnya, ada partai yang belum aman lolos parliamentary threshold (PT).
Hasil survei terbaru Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA, menunjukkan Partai Nasdem, PKS, PPP, PAN, dan Hanura belum aman lolos PT. Sementara PKB dan Demokrat aman dan berada di posisi partai papan tengah. Sedangkan PDI-P bersama Golkar dan Partai Gerindra berada di rangking partai papan atas.
Elektabilitas PDI-P berada di angka 22.2 %, Partai Golkar sebesar 15.5 %, dan Partai Gerindra 11.4%, menjadi partai papan atas. Disusul Partai Demokrat dengan elektabilitas 6.2% dan PKB 6.0% sebagai partai papan menengah.
Sementara itu elektabilitas Partai Nasdem sebanyak 4.2%, PKS 3,8%, PPP 3.5%, PAN 2.0%, dan Hanura 0.7%. Sedangkan partai baru, seperti Perindo elektabilitasnya 3.0%, PSI 0.3%, PBB 0,3%, PKPI 0.2%.
Hasil survei nasional tersebut dilakukan pada 7-14 Januari 2018. Adapun metode penelitian multistage random sampling dengan jumlah responden 1.200 orang. Sementara wawancara dilakukan secara tatap muka menggunakan kuesioner, dilengapi diskusi kelompok terarah (FGD) dan analisis media massa. Margin of error survei ini adalah 2,9 persen.
Peneliti LSI, Rully Akbar, saat merilis hasil surveinya di kantor LSI, Graha Dua Rajawali, Jl Pemuda, Rawamangun, Jakarta Timur, Rabu (24/1/2018), menyebut perolehan suara saat ini PPP, PKS, PAN, dan Hanura masih di bawah 4%. Hanya Nasdem yang 4,2%, itupun juga karena margin of error survei 2,9%, masih dibilang tidak aman, karena bisa jadi suaranya turun ke bawah 2,9%.
“Dari lima partai ini, istilahnya masih ngeri-ngeri sedap untuk bisa lolos parliamentary threshold, karena di Pemilu 2019 PT-nya adalah 4%. Ini bukan angka yang kecil bagi partai-partai lama untuk bisa kembali masuk ke gelanggang arena,” imbuhnya.
Rully melanjutkan, yang menjadi perhatian sekarang adalah PAN dan Hanura. PAN konsisten rata-rata di angka 2%. Bahkan Hanura masih terpuruk di 0.7%. “Bisa jadi karana faktor sempat terjadi adanya konflik di internal Hanura antara kubu Manhattan dan Ambhara,” imbuhnya.
Menurut Rully, jika PAN dan Hanura ingin masuk lolos parliamentary threshold 4% di Pemilu 2019, maka harus memunculkan isu yang fresh dan menarik. Selain itu, juga harus ada figur yang diasosiasikan dengan partai, dan juga ada figur yang kuat agar tidak terlempar dari parlemen.
“Bisa jadi ke depan Hanura ada kenaikan dengan adanya islah. Karena (dari hasil penelitian) sebelumnya yang memperburuk suara Hanura adalah faktor konflik,” sebutnya.
Sementara terkait Demokrat dan PKB, dua partai yang pernah menjadi partai besar di era kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dua periode, Rully menjelaskan, PKB waktu itu menjadi partai papan tengah yang mengagetkan karena menggaet figur-figur besar.
“Kita lihat Partai Demokrat berada di posisi 6.2%, dan PKB 6.0%. Dari survei sebelumnya PKB dan Demokrat saling menyalip. Ini masih masuk di margin of error karena selisihnya hanya nol koma,” paparnya.
Jadi, kata Rully, bisa dibilang PKB dan Demokrat menjadi penentu salah satu penopang partai tiga besar atau partai papan atas (PDI-P, Golkar, Gerindra), untuk mencalonkan presiden ke depan.
Menurut Rully, persaingan antara PKB dan Demokrat cukup sengit. PKB diuntungkan isu Islam yang sedang seksi. Semenjak Pilkada DKI lalu, kata Rully, isu mengenai Islam sangat seksi sekali dan ini bisa diambil keuntungan oleh PKB sebagai salah satu partai yang basis pemilih tradisionalnya adalah pemilih muslim terutama di Nahdlatul Ulama.
“Demokrat juga bisa memenangkan posisi ini, kalau menemukan isu baru yang menggugah pemilih, maka akan melewati PKB. Saat ini Demorat sedang gencar-gencarnya mencalonkan AHY, bisa jadi capres ataupun cawapres ke depan,” tutur Rully.
Dua figur, yakni AHY dan Cak Imin, jika bersaing sebagai cawapres maka juga sama-sama menjadi penopang elektabilitas kedua partai ini. Sama-sama akan menaikan rating partai.
“Jadi faktor figur di kedua partai ini, Demokrat tidak lagi mengedepankan SBY, tetapi sekarang ada putra utamanya yaitu AHY. Dan, PKB masih menggunakan Muhaimin Iskandar sebagai salah satu faktor pendobrak elektabilitas. Kita lihat ke depan bagaimana persaingan antar partai papan tengah, Demoklrat dan PKB ini,” ujar Rully.
Dari hasil survei LSI Denny JA ini, Rully berharap dapat menjadi bahan refleksi partai untuk bisa kembali membangkitkan kinerjanya, supaya bisa berada di partai papan tengah maupun bisa lolos parliamentary threshold atau berada di partai papan atas untuk bisa menentukan siapa menjadi presiden ke depan.