Lahan Pertanian Jadi Spot Wisata Menarik di Sukorame

YOGYAKARTA – Sejumlah warga Dusun Sukorame, Mangunan, Dlingo, Bantul, secara kreatif mengembangkan kawasan lahan pertanian di wilayah perbukitan yang ada di dusunnya sebagai destinasi wisata.

Secara bergotong-royong, mereka menyulap kawasan lahan pertanian seluas 26 hektare menjadi lokasi spot foto yang mempesona. Secara swadaya pula, warga membuat jalan setapak menggunakan jembatan bambu sepanjang 360 meter, di atas hamparan hijau tanaman padi yang dikelilingi perbukitan.

Alhasil, kawasan persawahan yang semula tidak pernah dijamah warga luar desa itu pun langsung banyak dikunjungi wisatawan. Bahkan spot wisata itu langsung populer di sejumlah media sosial seperti instagram dan twiter.

Pengurus desa wisata Sukorame, Suyatno. -Foto: Jatmika H Kusmargana

Pengurus Desa Wisata Sukorame, Suyatno (47), mengaku sengaja membangun jembatan bambu ratusan meter di atas lahan pertanian untuk menarik wisatawan. Pasalnya, selama ini dusun Sukorame yang berada di sisi paling timur kawasan wisata Mangunan, belum memiliki destinasi wisata yang mampu menarik wisatawan.

“Selama ini kan sudah banyak dusun lain di Mangunan ini yang membuka destinasi wisata, sehingga mampu memberikan pemasukan bagi warga. Sementara kita di dusun Sukorame belum punya. Karena itu kita berinisiatif membuat spot wisata di sini. Agar kita tidak sekedar menjadi penonton saja,” katanya, Rabu (3/1/2018).

Kawasan lahan persawahan, dipilih sebagai spot wista oleh warga dusun karena memiliki keindahan tersendiri. Terlebih saat pagi hari, kawasan yang berada di tepi Jalan Raya Dlingo ini hampir selalu diselimuti kabut, sehingga sangat potensial dijadikan spot wisata kekinian yang banyak digemari kalangan remaja.

“Sesuai surat keputusan pemerintah tingkat desa, dusun Sukorame ini sudah ditetapkan sebagai desa wisata berbasis budaya dan kerajinan. Karena itu, kita memilih mengembangkan potensi budaya agraris atau pertanian yang ada di dusun ini,” ujarnya.

Mulai dibangun sejak Juli 2017 menggunakan dana swadaya masyarakat, secara resmi lokasi wisata di atas lahan persawahan ini belum dibuka. Warga bersama-sama masih berupaya membangun sejumlah infrastruktur pendukung seperti akses jalan masuk, lokasi parkir, maupun tempat beristirahat, toilet dan sebagainya.

“Karena dilakukan swadaya, kita tidak bisa membangun lokasi wisata ini dengan cepat. Untuk membuat jembatan bambu ini saja kita sudah habis sekitar Rp60-70 juta,” katanya.

Meski dibangun di atas lahan pertanian kas desa, dikatakan Suyatno, adanya sejumlah jembatan bambu tersebut tidak akan mengganggu produktivitas tanaman. Para petani penggarap lahan juga telah sepakat menjadikan kawasan tersebut sebagai lokasi wisata. Selain membangun spot foto di atas lahan persawahan, rencananya warga juga akan membuat museum tani sederhana di lokasi tersebut.

“Saya kira konsep spot wisata di atas lahan pertanian seperti ini baru ada di sini. Jadi, ini yang pertama kalinya,” pungkasnya.

Lihat juga...