Kopi Robusta Gangga Lombok Dilirik Korea Selatan
MATARAM — Salah satu kopi unggulan yang dihasilkan petani kopi di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) adalah kopi jenis robusta asal Desa Gangga, Kabupaten Lombok Utara.
“NTB memiliki banyak ragam kopi dengan citarasa yang unik dan menarik. Banyak negara yang melirik kopi yang dihasilkan masyarakat di berbagai daerah di NTB. Salah satunya saat ini yang berhasil menyita perhatian Korea Selatan, yakni Kopi Gangga milik UKM Berkat Alam,” kata Kepala Seksi Ekspor Dinas Perdagangan NTB Rachmat Wira Putra di Mataram, Rabu (17/1/2018).
Ia menuturkan, Korea Selatan termasuk negara cukup selektif dalam membeli biji kopi. Hal ini dikarenakan mereka menginginkan produk kopi robusta yang terbaik dan kopi jenis robusta asal Gangga Lombok Utara dinilai memiliki kualitas baik, makanya diminati.
Menurutnya, NTB memiliki banyak ragam kopi yang ditawarkan, tapi kelemahannya terletak pada petani kopi itu sendiri. Petani kurang memperhatikan kualitas kopi hasil petikan pada saat panen, tidak melakukan pemilihan biji kopi terbaik, itu kemudian yang menyebabkan kualitas kopi kurang bagus.
“Kopi ini dipastikan akan ekspor ke negeri Gingseng sekitar Mei 2018 ini akan dilakukan pengiriman,” ujar Rachmat
Peluang ini yang kemudian ditangkap oleh UKM Berkat Alam Lombok Utara. UKM ini memiliki banyak binaan yang melakukan sortir terhadap biji kopi. Sampel biji kopi yang disortir sudah dikirim ke Korea. Negeri ginseng ini mengaku suka dan akan melakukan impor biji kopi tersebut.
Selain Korea, Afrika dan Mesir juga tertarik untuk melakukan impor kopi NTB. Namun baik Afrika maupun Mesir tidak menginginkan kopi robusta. Kedua negara ini ingin mengimpor kopi NTB jenis arabika. NTB memiliki kopi jenis ini namun belum banyak dibudidayakan.
“Kalau Asia sukanya kopi robusta, sementara Eropa, Australia, dan Afrika lebih condong ke arabika,” jelasnya.
Meski begitu, sudah ada UKM yang sanggup mengekspor kopi arabika tersebut, yakni UKM Kopi Rinjani. Namun untuk mengekspor kopi memerlukan ijin khusus. Hal ini yang masih belum bisa dipenuhi UKM tersebut. Sehingga mereka belum bisa melakukan pengiriman.
“Potensi kopi kita besar di tahun ini dan perlu ditingkatkan,” akunya.
Ia menambahkan, ada beberapa hal yang harus diperhatikan UKM pengekspor. Di antaranya standarisasi produk dari negara tujuan. Saat ini standar kopi NTB dianggap masih belum bisa memenuhi pasar luar negeri.
Karena itu kualitas baik dari segi produk hingga kemasan harus menjadi perhatian utama. Kalau sudah memiliki kualitas yang bagus, maka ada harapan ekspor pada tahun ini. Terlebih lagi potensi kopi di perkebunan kopi di NTB mencapai 10 ribu ton per tahunnya.
Hj. Nurwardani, pemilik UKM Rinjani Lombok, mengungkapkan, pihaknya memang mendapatkan tawaran untuk melakukan ekspor kopi ke Mesir.
Kopinya dinilai sudah memiliki kemasan layak dan bagus sesuai standar ekspor. Hingga saat ini dirinya masih mengurus keperluan ekspor ke negeri piramida itu.
“Kita sedang mengurus perijinan dan lainnya bersama instansi terkait” terangnya.