Kiat Petani Cabai agar Panen Maksimal di Musim Hujan

YOGYAKARTA – Dalam pranata mangsa, bulan Desember hingga Januari merupakan puncak musim hujan, sehingga banyak petani di Kulon Progo memilih menanam padi dibandingkan menanam tanaman palawija seperti cabai.

Selain sangat rawan terserang hama penyakit, menanam cabai di puncak musim hujan juga beresiko tinggi mengalami gagal panen akibat tingginya curah hujan, mengingat cabai merupakan jenis tanaman yang tak tahan pada air.

Namun, seorang petani asal Kulon Progo, Edi Santosa asal Dusun Pripih, Kokap, tetap memilih menanam cabai di saat kondisi seperti sekarang karena pertimbangan harga jual yang bagus. Ia menyebut, tingginya risiko gagal penen di masa seperti sekarang membuat harga jual cabai melonjak tinggi.

“Kunci sukses petani cabai memang harus menanam cabai secara rutin. Baik saat sedang musim kemarau maupun musim hujan. Sehingga saat harga jatuh atau melambung tetap bisa menjual cabai. Umumnya petani cabai hanya menanam saat kemarau sehingga saat panen, karena bersamaan, harga jatuh,” katanya.

Agar hasil penen tetap maksimal meski kondisi musim tidak mendukung, Edi pun memiliki kiat tersendiri dalam merawat tanaman cabai miliknya. Ia mengakui, saat musim hujan seperti sekarang, banyak hama penyakit akan menyerang cabai seperti jamur daun, lalat buah, busuk akar hingga serangan hama kekek atau pathek.

“Yang paling sulit diatasi adalah hama kekek atau pathek. Karena jika sudah terserang virus tidak bisa diobati. Satu-satunya cara yang bisa dilakukan adalah mencegah virus muncul,” jelasnya.

Edi sendiri mengamati, virus pathek atau kekek muncul karena hewan yang disebut kekek emas. Saat hewan ini hinggap biasanya akan menyebarkan virus yang membuat batang membusuk, hingga akhirnya meyebar ke tanaman lain.

“Sebelum hewan itu menyerang, tanaman cabai harus rutin disemprot pestisida. Jika sudah ada tanaman yang terserang, lebih baik dicabut agar tidak menyebar ke tanaman lain,” katanya.

Petani cabai asal Kulonprogo, Edi Santosa, Foto: Jatmika H Kusmargana

Berkat kejelian dan ketelatenan Edi, lahan cabai miliknya yang seluas 850 meter persegi selama ini hampir tidak pernah terserang hama pathek, meski di musim hujan sekalipun. Yang paling penting menurutnya adalah, perbandingan rabuk /pupuk dan kondisi tanah serta penyemprotan pestisida harus sesuai.

“Harus rajin disemprot secara rutin minim tiap 2 hari sekali. Pemupukan juga harus rutin setiap seminggu sekali sampai umur 2 bulan. Sedangkan untuk penyiraman disesuaikan dengan intensitas hujan,” katanya.

Dengan menanam pada bulan Januari atau awal Desember, sekitar bulan Maret Edi akan mulai panen. Pada saat itu, tak banyak cabai diproduksi karena para petani biasanya baru mulai menanam, yakni saat intensitas hujan mulai menurun. Sehingga harga jual pun meningkat.

“Saat seperti itu harga jual cabai akan bagus. Lebih dari Rp20 ribu per kilo. Bahkan saya pernah jual hingga Rp50 ribu per kilo,” pungkasnya.

Lihat juga...