Iqra, Karya Visual Eksperimentatif
JAKARTA – Apa yang terlintas di benak kita ketika mendengar kata “Iqra”? Tentu ingatan kita langsung tertuju pada wahyu pertama Nabi Muhammad SAW, yang diperintah iqra, bacalah! Lalu, bagaimana dengan pameran bertajuk “Iqra: Bacalah Exhibition”? Sebuah pameran yang digelar Himpunan Mahasiswa Desain Grafis Institut Kesenian Jakarta (IKJ) yang menyajikan tawaran bacaan melalui karya-karya eksperimentatif, baik secara tema maupun teknis.
Pameran yang berlangsung 19 – 27 Januari 2018 ini menghadirkan 21 karya dengan berbagai medium, seperti visual mapping, cat di atas kain, mixed media, miced wood, instalasi, cetak digital di atas kertas, comic on paper, tirta di atas kertas, hingga akrilik di atas multiplex. Melalui pameran ini, para pengunjung diajak untuk membaca dan kemudian merenungkan karya-karya eksperimentatif yang dipamerkan.
Nisrina, salah seorang pengunjung, tampak sedang memperhatikan ‘Bebek’ karya Rhema Ophelia yang menyajikan deskripsi keterangan karya ‘Hati-hati dengan wajah yang manis. Apa gunanya manis, kalau hanya mampu berisik’.
“Karya lukisan Rhema ini unik dan menggelitik, “ ucap Nisrina mengawali komentar kepada Cendana News, di Galeri Cipta III, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jalan Cikini Raya No.73, Jakarta Pusat, beberapa waktu yang lalu.
Lebih lanjut, dara yang masih berstatus mahasiswa itu menerangkan, “Uniknya memakai obyek bebek, dimana ada seekor bebek yang seperti sedang menunjukkan kecantikannya, tapi bebek-bebek lainnya hanya mampu berisik.”
Nisrina menyampaikan, bahwa melalui lukisan itu mengingatkan publik untuk memperhatikan, mengapresiasi dan menghargai karya orang lain. “Kalau ada yang sedang menunjukkan karya, baiknya kita memperhatikan, mengapresiasi dan menghargai karya tersebut dengan baik. Bukannya berisik sendiri,“ ungkapnya.
Ada sebuah karya yang paling menarik perhatian Nisrina, yaitu ‘Sajadah’ karya Rizki Pasadana.
“Selama ini kita melihat desain sajadah hanya yang itu-itu saja, gambarnya masjid, tapi kali ini dibuat desain eksperimentatif. Sungguh kreatif, “ bebernya memuji.
Karya Rizki ini menyajikan deskripsi keterangan karya yang dipamerkan: ‘Akankah dirimu sepenuh berserah diri, mengimani dan mengamini ada-Nya, ketika beribadah di atas sajadah ini?’
“Karyanya, meski eksperimentatif, semacam percobaan, tapi tetap komunikatif. Kita tak perlu berkerut dahi untuk mengerti karyanya, “ tutur Nisrina sembari tersenyum.
Sebuah karya yang dipamerkan dan dengan demikian sudah dilepas ke publik tentu akan menjadi “milik” publik. “Sebuah karya yang baik adalah karya yang mampu berbicara sendiri pada publik yang mengapresiasi, “ tegasnya.
Nisrina berharap, banyak pameran yang menghadirkan karya-karya seperti ini yang baginya bisa menjadi tontonan sekaligus juga bisa menjadi tuntunan.
“Semoga banyak pameran yang seperti ini, jadi kita datang jauh-jauh tidak sia-sia tapi ada manfaatnya, tontonan pameran sekaligus juga bisa menjadi tuntunan, karya-karya eksperimentatif yang edukatif, mendidik,“ tandasnya.
