Harga Tinggi, Petani Sayur Solo Kesulitan Panen

SOLO — Nasib kurang beruntung tengah dihadapi petani sayur yang ada di Solo, Jawa Tengah. Pasalnya, di tengah harga sayur di pasaran masih tinggi, petani justru kesulitan untuk mempertahankan hasil panenan tetap bagus.

Hal inilah yang dialami salah satu petani sayur asal Tawangmangu, Karanganyar, Suyatmi. Kondisi hujan yang terus menerus terjadi membuat tanaman sayur yang dimiliki cepat membusuk. Tak hanya itu, tanaman sayur yang memasuki masa panen juga mudah terserang hama, seperti ulat.

“Sayuran banyak yang rusak, karena diserang ulat. Untuk panen maksimal sangat sulit, apalagi musim hujan seperti ini,” kata Suyatmi kepada Cendana News, Senin (22/1/2018).

Warga Berjo, Tawangmangu ini melanjutkan, meski berbagai usaha dilakukan petani untuk mengusir hama, namun kualitas sayur yang didapatkan tak kunjung baik. Hal ini karena kondisi musim hujan sangat mempengaruhi kualitas tanaman sayur.

“Sudah berulang kali di sepmrot pakai pestisida, tapi tetap saja ada. Padahal petani juga berusaha membunuh hama ulat dengan manual, tapi hasilnya juga tidak maksimal,” ungkap Suyatmi.

Kondisi cuaca yang kurang bersahabat ini membuat petani sayur, banyak yang merugi. Sebab, banyaknya hasil panen tidak sebanding dengan biaya selama perawatan yang dilakukan oleh petani.

“Hasil panen yang bisa dijual hanya sedikit. Banyak yang rusak,” papar dia.

Sulitnya panen sayur di tingkat petani juga berimbas dengan harga di pasaran. Harga sayur di pasar tradisional terbilang cukup tinggi jika dibandingkan dengan harga normal. Misalnya, sayur bunga kol, saaat ini harganya dapat mencapai Rp20.000 perkilogram, sementara harga normalnya dibawah Rp10.000.

“Cuaca seperti ini kondisi sayur banyak jelekknya. Karena banyaknya hujan membuat sayur mudah busuk,” jelas Tugiyem, pedagang sayur di Pasar Gede, Solo.

Pedagang asal Tawangmangu, Karanganyar itu juga menyebutkan, kenaikan harga sayur juga terjadi pada komuditas lainnya. Seperti harga wortel, yang semula Rp 5.000 naik menjadi Rp 10.000, Sawi juga naik 100 persen, dari semula Rp 5 ribu naik menjadi Rp 10 ribu per kilogram. Mentimun naik dari Rp 2500 menjadi Rp 6.000 per kilogram, Tomat dari Rp 10.000 naik menjadi Rp 15.000.

“Cuaca seperti ini justru merugikan pedagang, karena sayur mudah busuk. Kalau tidak habis dijual setiap hari harus membuang,” tutupnya.

Kondisi tanaman sayur milik petani di Tawangmangu Karanganyar karena hujan yang masih tinggi-Foto; Harun Alrosid.
Lihat juga...