SLEMAN – Forum Komunikasi Komunitas Relawan Sleman (FKKRS), Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta menyiagakan seluruh personel guna mengantisipasi kemungkinan terjadi bencana alam pada puncak musim hujan ini.
“Potensi tanah longsor di beberapa wilayah Sleman cukup tinggi. Baik tebing bukit maupun tebing sungai,” kata Ketua Forum Komunikasi Komunitas Relawan Sleman (FKKRS) Yoga Nugroho Utomo, Selasa.
Menurut dia, pada akhir 2017 selama kurun November hingga Desember, relawan Sleman telah melakukan identifikasi dan pendataan kawasan rawan di lima kecamatan yaitu Pakem, Turi, Ngaglik, Mlati, dan Depok.
“Menghadapi puncak musim penghujan ini, titik-titik rawan tersebut terus dipantau intensif, termasuk pemantauan di wilayah Prambanan dan Gamping,” katanya.
Ia mengatakan, saat ini 51 komunitas relawan penanggulangan bencana yang ada di Sleman sudah menyiagakan relawannya untuk selalu memonitor wilayah masing masing.
“Mereka berkoordinasi dengan perangkat desa dan muspika setempat. Diharapkan, setiap kejadian darurat dapat direspon dengan cepat,” katanya.
Yoga mengatakan, peralatan dan perlengkapan pendukung penanggulangan darurat juga sudah disiagakan masing masing komunitas relawan, untuk dapat dimobilisasi setiap saat.
“Kami berharap komunikasi dan koordinasi yang solid antara relawan, perangkat desa dan kecamatan, serta dinas terkait, dapat menanggulangi kebencanaan yang dimungkinkan muncul selama masa puncak musim penghujan ini, dan meminimalisir jatuhnya korban jiwa maupun materiil,” katanya.
Kepala Bidang Logistik dan Kedaruratan BPBD Kabupaten Sleman Makwan mengatakan berdasarkan data Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Kementerian ESDM yang dikeluarkan Januari 2018 ini, di wilayah Sleman potensi gerakan tanah terdapat di 17 kecamatan.
“Dari 17 kecamatan yang masuk kategori gerakan tanah menengah terdapat di wilayah Berbah, Depok, Kalasan, Minggir, Mlati, Moyudan, Ngaglik, Ngemplak, dan Kecamatan Sleman. Adapun wilayah yang masuk kategori Menengah-Tinggi meliputi Prambanan, Pakem, Cangkringan, Tempel, Turi, Seyegan, Godean dan Gamping,” katanya.
Ia mengatakan,daerah yang memiliki potensi gerakan tanah tersebut, berada di perbatasan sungai, gawir, tebing jalan, dan lereng yang mengalami gangguan. Gerakan tanah yang lama juga bisa aktif kembali jika intensitas hujan yang turun berlangsung lama, di atas normal.
“Kami fokus pada penanganan potensi longsor seiring dengan masuknya puncak musim hujan tahun ini,” katanya.
Makwan mengatakan,masyarakat yang bermukim di sepanjang sepadan sungai terutama yang tidak berhulu ke Gunung Merapi untuk meningkatkan kewaspadaan dari potensi banjir. Alasannya, intensitas hujan yang tinggi diperkirakan tidak mampu menampung air hujan.
“Kondisi berbeda dengan sungai-sungai yang berhulu ke Merapi. Kondisi palungnya masih tinggi, tapi tetap diwaspadai,” katanya.
Ia mengatakan, potensi pohon tumbang juga harus diwaspadai saat angin kencang terjadi. “Di wilayah Sleman, potensi angin kencang dan pohon tumbang terjadi di seluruh kecamatan,” katanya. (Ant)