MATARAM — Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat merencanakan program budi daya ikan air tawar dengan teknologi bioflok tahun ini dengan sasaran nelayan di kota itu.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Mataram Baiq Sujihartini di Mataram, Rabu (10/11), mengatakan budi daya ikan air tawar dengan teknologi bioflok akan diberikan kepada kelompok nelayan.
“Selain ahli dalam perikanan tangkap, kami juga ingin nelayan pandai membudidayakan ikan air tawar dengan teknologi bioflok,” katanya.
Teknologi bioflok, katanya, saat ini menjadi populer karena mampu mengenjot produktivitas ikan air tawar yang tinggi, terutama untuk jenis ikan lele dan patin.
Ia menjelaskan kolam bioflok tidak membutuhkan lahan luas karena teknologi bioflok yang digunakan cukup dengan menggunakan terpal, oksigen, serta beberapa alat pelengkap sehinga satu kolam bisa menampung ribuan bibit ikan.
“Budi daya ikan air tawar dengan bioflok ini sangat mudah, tapi mampu mendongkrak produksi budi daya dengan padat tebar bisa lebih banyak sekaligus dapat mengurangi biaya produksi dan mempersingkat masa panen,” katanya.
Ia mengatakan selama ini teknologi bioflok hanya untuk budi daya lele dan patin.
Akan tetapi, katanya, dengan perkembangan teknologi budi daya ikan, bisa juga untuk ikan air tawar lainnya, seperti nila, gurami, dan karper.
“Dengan adanya bantuan program bioflok bagi nelayan ini, kami berharap ke depan nelayan bisa lebih mandiri sehingga tidak menggantungkan hidupnya dari perikanan laut,” katanya.
Pesatnya pertumbuhan ekonomi di Kota Mataram, termasuk maraknya rumah makan yang dibuka, warung lesehan, dan restoran, katanya, menjadi peluang nelayan untuk terus berinovasi di bidang perikanan, baik ikan laut maupun darat.
Oleh karena itu, katanya, direncanakan program budi daya dengan sistem bioflok tahun ini diberikan kepada tiga kelompok nelayan. Satu kelompok beranggotakan 10 orang dengan besaran anggaran sekitar Rp250 juta berupa peralatan, pakan, dan bibit.
“Dengan demikian, tahun ini kami menyasar 30 nelayan. Harapannya, 30 nelayan itu bisa berkembang menjadi puluhan kelompok budi daya ikan air tawar dengan sistem bioflok,” katanya.
Ia mengatakan untuk mengoptimalkan pelaksanaan program tersebut, sebelum bantuan diberikan para nelayan, terlebih dahulu akan diberikan pelatihan sistem pemeliharaan dan budi daya ikan dengan teknologi bioflok.
“Untuk tahap awal, bantuan kita berikan dalam bentuk peralatan, yakni kolam bioflok, bibit, dan pakan hingga panen, hasilnya dapat dikelola untuk modal budi daya lagi,” katanya (Ant).