China Dukung Penuh Pemilu Kamboja

BEIJING – China meyakini pemilihan umum di Kamboja yang akan digelar tahun ini akan berlangsung adil. Pernyataan tersebut menjadi bentuk dukungan yang diberikan setelah Amerika Serikat dan Uni Eropa menarik dukungannya kepada penyelengaraan pemungutan suara di Kamboja.

China adalah pemberi terbesar bantuan bagi Kamboja. China memberikan dukungannya untuk menyokong perdana menteri veteran, Hun Sen, menghadapi tentangan dari lawan politiknya yang menganggapnya telah menghancurkan demokrasi.

Tentangan diperoleh Hun Sen karena telah membubarkan partai oposisi utama di negara tersebut. Bahkan Amerika Serikat dan Uni Eropa juga menarik dukungan ke Kamboja karena kebijakan tersebut.

“China menghormati dan mendukung jalur pembangunan pilihan rakyat Kamboja dan percaya bahwa pemilihan umum pada masa depan di Kamboja dapat diawasi semua pihak, mencerminkan keadilan dan memilih partai dan pemimpin yang memuaskan rakyat Kamboja,” kata Wakil Menteri Luar Negeri China Kong Xuanyou, Jumat (5/1/2018).

Kong pada pengarahan menjelang kunjungan Perdana Menteri Li Keqiang ke Kamboja mengatakan, China menawarkan dukungan untuk pemilihan umum itu, namun tidak menentukan jenisnya. Sementara Kamboja mengatakan, China akan menyediakan berbagai perangkat untuk pemilihan yang akan digelar Juli mendatang, termasuk kebutuhan kotak suara dan bilik suara.

Amerika Serikat dan Uni Eropa membatalkan rencana dukungan mereka kepada pemilu Kamboja. Hal tersebut dilakukan setelah pengadilan Kamboja mengeluarkan perintah pembubaran terhadap Partai Penyelamatan Nasional Kamboja (CNRP) pada November 2017 atas permintaan pemerintah setempat.

Kong mengatakan bahwa China adalah sumber investasi asing terbesar Kamboja, mitra dagang terbesarnya, dan sumber mancanegara terbesarnya. Perdana Menteri Li Keqiang akan mengunjungi Kamboja pada 10-11 Januari untuk menghadiri forum regional bersama para pemimpin dari enam negara, termasuk Laos, Myanmar, Thailand dan Vietnam.

Hubungan Kamboja dan China semakin dekat saat tindakan keras pemerintah Kamboja terhadap para kritikus, kelompok masyarakat sipil dan media independen telah mendapat kritik dari pemerintah Barat dan kelompok hak asasi manusia.

Kritikus menyebut pelarangan CNRP sebagai upaya untuk mencuri start pemilihan umum dan lonceng kematian untuk demokrasi di negara yang telah mendapatkan suntikan dari donor Barat hingga miliaran dolar sejak 1993 tersebut. Bantuan dari barat tersebut untuk membangun sistem multipartai setelah berpuluh-puluh tahun peperangan.

Hun Sen, yang memerintah lebih dari 30 tahun berada di bawah ancaman oposisi pada pemilihan umum tersebut, mengatakan bahwa dia akan tetap berkuasa setidaknya dalam satu dekade lagi. Hun Sen adalah salah satu pemimpin yang berbicara di forum partai politik internasional, yang diselenggarakan Xi dan Partai Komunis China di Beijing pada Desember.

Presiden China Xi Jinping telah berjanji bahwa China tidak akan mengekspor sistem politiknya. Namun pihaknya telah memperluas jangkauan kebijakan luar negeri dan militernya di bawah pemerintahannya. (Ant)

Lihat juga...