Asyiknya Belajar Tari Papua di TMII
JAKARTA – Sekelompok anak muda berpakaian adat tradisional Papua menggerakan tubuh dan kepalan tangan seirama dengan langkah kaki, Gerakan dilakukan mengikuti irama musik yang terdengar.
Hentakan kaki yang teratur, disusul nyanyian khas Papua, dan alunan alat musik perkusi dan tipa yang dibawakan. Terdengar saling bersahutan membentuk satu komposisi yang sangat perkusif. Para anak muda tersebut penari yang sedang berlatih tari di diklat seni budaya Anjungan Papua Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Minggu (7/1/2018) sore.
Salah satu peserta pelatihan Yohanes Niceforus Dopa Tobil, telah mengikuti latihan tari di Anjungan Papua sejak kelas 3 SD. Siswa kelas 1 SMPN 237 Jakarta ini mengaku senang bisa berlatih tari Papua. Baginya, menjadi kebanggaan tersendiri bisa mempromosikan budaya Indonesia, khusus tarian Papua hingga bisa terkenal.
“Pastinya asyik ya belajar tari Papua ini, selain banyak teman. Saya pernah tampil di istana negara menyambut presiden Afganistan dan Ukrania, tampil di Tabur Ramadhan, dan acara seni TMII. Bangga bisa membawa Indonesia lewat tari Papua,” kata Yofan kepada CendanaNews ditemui di sela-sela latihan tari di Anjungan Papua TMII, Jakarta, Minggu (7/1/2018) sore.

Penangggungjawab Anjungan Papua TMII, Sergius Wabiser mengatakan, ada puluhan orang yang berlatih tari Papua. Mereka mulai siswa TK, SD, SMP, SMA hingga mahasiswa. Latihan digelar setiap hari Minggu pukul 15.00-17.00 WIB. Kegiatan tidak hanya diikuti warga Papua, tapi juga dari berbagai daerah, dari Jakarta, Jawa, Minang, Palembang, dan lainnya.
“Kami mengedukasi mereka lewat tari, diharapkan mereka lebih mencintai budaya bangsanya ketimbang budaya luar negeri,” kata Sergius kepada CendanaNews.
Pelatihan dilakukan dengan mengajarkan sejumlah tari dari Papua, seperti tari Musyoh, yaitu tarian sakral asal yang unsur gerakanya mencerminkan masyarakat Papua yang lincah dan energik. Begitu juga tari Yospan dengan gerakannya yang sangat energik, seperti loncat-loncat, jalan-jalan, dan memutar. Ada juga tari Cendarawasih dan tari Perkusi.
Peserta juga diajarkan mengenal alat musik khas Papua seperti perkusi dan tipa. Alat musik ini kerap disajikan saat menari. Sehingga mereka juga dituntut untuk bisa memainkan alat musik tersebut agar tercipta panorama seni yang indah mampu memukau penonton.
Seperti instrumen perkusi biasanya digunakan sebagai pengiring tarian tadisional Papua. Alat perkusi ada labu kering yang diisi dengan manik-manik atau batu kerikil yang disebut kalabasa. Alat ini cukup dimainkan dengan cara menggoyang-goyangkan agar bunyi perkusi menjadi padu dengan bas.
Begitu juga alat musik tipa yakni alat musik gendang khas tradisional di daerah pesisir tanah Papua. Tipa ini memiliki spesifikasi masing-masing hal tersebut bisa dilihat lewat ukiran yang menghiasi alat musik tersebut.
“Tifa mirip dengan gendang, dimainkan dengan cara dipukul pula. Terbuat dari batang kayu yang dihilangkan isinya. Salah satu ujungnya ditutupi menggunakan kulit binatang seperti kulit rusa,” ujarnya.
Dalam pelestarian seni budaya bangsa khususnya Papua, Sergius berharap pemerintah dan pihak swasta bisa memberikan bantuan. Budaya adalah ujung tombak kemajuan sebuah bangsa yang tak bisa diabaikan. Maka, loyalitas setiap elemen bangsa juga diperlukan untuk membangun jiwa seni para generasi muda Indonesia agar mencintai budayanya sendiri.
“Belajar seni budaya, tari Papua misalnya. Ini bisa menumbuhkan kepercayaan diri anak karena mereka selalu loyalitas tampil di berbagai acara seni. Jadi tugas kami adalah membangun jiwa generasi muda cinta budayanya sendiri,” pungkas Sergius.