22 Tahun Yayasan Damandiri Turut Membangun Negeri

JAKARTA – Yayasan Dana Sejahtera Mandiri (Damandiri), pada 15 Januari 2018 genap berusia 22 tahun. Yayasan ini didirikan oleh HM. Soeharto sebagai wadah gotong-royong mewujudkan masyarakat sejahtera, mandiri dan bermartabat, utamanya bagi keluarga Prasejahtera dan Sejahtera 1.

Jauh sebelum Yayasan Damandiri resmi berdiri, Presiden Kedua RI, HM Soeharto, telah lama memikirkan cara, guna mempercepat pengentasan kemiskinan. Lalu, dibentuklah Yayasan Damandiri, melibatkan pengusaha-pengusaha besar untuk menggalang dana, yang akan digunakan untuk menjalankan program pemberdayaan masyarakat miskin. Melalui yayasan ini, terjadi semacam subsidi silang, dari yang kaya kepada yang miskin.

Diawali dengan penyaluran program Tabungan Keluarga Sejahtera (Takesra) dan Kredit Keluarga Sejahtera (Kukesra), Yayasan Damandiri membina masyarakat yang masih dalam kategori Prasejahtera dan Sejahtera 1. Kelompok masyarakat miskin dan rentan kemiskinan ini diberdayakan melalui berbagai program, yang saat itu dijalankan melalui Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera (UPPKS).

Sebanyak 11,5 juta warga miskin diberikan dana bantuan sebesar Rp2.000, saat itu setara 2 US Dolar, dalam bentuk tabungan Takesra. Dengan memiliki tabungan sebesar itu, warga penerima dapat meminjam uang di bank sebagai modal usaha dengan bunga rendah.

Berita Damandiri Klik Pemberdayaan

Seiring dengan perkembangan zaman, krisis moneter pada 1997 dan pergantian tampuk kepemimpinan pada 1998, membuat program-program pemberdayaan yang diinisiasi oleh Presiden Soeharto, lama terhenti. Namun, pada kurun 2001-2015 Yayasan Damandiri yang membawa misi sosial kemanusiaan bangkit lagi. Beragam program pemberdayaan dan bantuan modal usaha bagi warga miskin dikemas lagi sesuai zaman dan tantangannya.

Bantuan modal usaha ringan disalurkan melalui Skim Kredit Pundi dan Tabur Puja, yang diselenggarakan bekerja sama dengan lembaga keuangan, khususnya perbankan. Skim Kredit Pundi terdiri dari Kredit Pundi Rakyat, Kredit Pundi Sejahtera, dan Kredit Pundi Mandiri. Ada pun Tabur Puja adalah kredit tanpa agunan, yang diperuntukkan bagi warga Prasejahtera dan Sejahtera 1.

Tabur Puja disalurkan melalui kelompok-kelompok sebagaimana UPPKS, namun dengan berbagai penyempurnaan dan penyesuaian zaman, yakni Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya). Bantuan pinjaman usaha tanpa agunan ini dilakukan dengan sistem tanggung-renteng. Warga peminjam dibagi dalam kelompok-kelompok tabur puja, maksimal terdiri dari 100 orang per kelompok, dan masing-masing kelompok bertanggungjawab atas pinjaman anggotanya.

Ketua Yayasan Damandiri, Subiakto Tjakrawerdaya, menyalurkan secara simbolis bantuan modal usaha kepada Wakil Bupati Brebes, Jawa Tengah, Narjo, Kamis (23-11-2017)

Upaya pemberdayaan yang dilakukan Yayasan Damandiri tidak semata membangun perekonomian. Melainkan juga pendidikan, keagamaan, kesehatan dan lingkungan, yang dikenal dengan empat pilar utama pemberdayaan. Ini merupakan upaya pemberdayaan masyarakat secara menyeluruh, dengan harapan masyarakat yang sejahtera, mandiri dan bermartabat benar-benar dapat terwujud.

Tetapi, tidak mudah mewujudkan tujuan itu sebagaimana yang dicita-citakan oleh para foundhing father. Tantangan dan kendala bahkan semakin kompleks, seiring perkembangan zaman dan perubahan masyarakat di era globalisasi dunia. Kemiskinan bukan sekedar masalah ketidakmampuan secara ekonomi. Melainkan menyangkut pola pikir dan mentalitas atau mindset.

Karenanya, Yayasan Damandiri pun bergerak mengikuti zaman dan tantangannya. Dengan menyadari berbagai perubahan kultur dan sosial masyarakat pada setiap era, Yayasan Damandiri senantiasa mengubah secara adaptif dan menyempurnakan program-program pemberdayaan, agar tepat cara, tepat sasaran, tepat guna dan berhasil guna.

Dengan berbagai tantangan perubahan zaman, dan evaluasi hasil dari upaya pemberdayaan yang telah dilakukan sejak awal berdirinya yayasan, pada 2016 Yayasan Damandiri mulai mengubah paradigma pemberdayaan dan kebijakannya. Upaya pemberdayaan lebih difokuskan di tingkat desa, melalui program ‘Desa Mandiri Lestari’. Program ini dijalankan melibatkan semua unsur dan pemangku kepentingan, termasuk juga pemerintah daerah.

Desa sengaja dipilih sebagai sasaran utama, karena kondisi sosio-ekonominya yang dinilai lebih kondusif, sehingga upaya membentuk gugusan baru pembangunan berdasarkan nilai Pancasila lebih mudah dilakukan.

Desa Mandiri Lestari adalah desa yang mampu membangun dirinya, melibatkan semua pemangku kepentingan dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia yang bercirikan religiusitas, gotong-royong dan berwawasan kebangsaan.

Desa Mandiri Lestari di Desa Samiran, Selo, Boyolali, Jawa Tengah, penyangga pariwisata Gunung Merapi dan Merbabu.

Melalui program Desa Mandiri Lestari, upaya pemberdayaan masyarakat prasejahtera dan sejahtera 1 dilakukan dengan memberikan bantuan langsung dan tidak langsung. Bantuan langsung diberikan kepada warga yang benar-benar miskin tak memiliki sumber daya yang memungkinkannya untuk bangkit dari kemiskinan, dengan memberikan program bedah rumah dan membuatkannya warung beserta dagangannya. Dengan cara ini, warga yang benar-benar tak berdaya diharapkan mampu berdaya dan lepas dari kemiskinan.

Sementara, bantuan tidak langsung diberikan melalui berbagai kegiatan yang mampu mengangkat harkat dan martabat warga, seperti pelatihan usaha kecil dan pemberian bantuan modal usaha serta pendampingan. Sejauh ini, Yayasan Damandiri telah memberikan bantuan tidak langsung berupa kredit modal kerja, mulai dari Rp2 juta hingga Rp50 juta, kepada 167.000 nasabah aktif, yang disalurkan melalui Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dan Koperasi.

Di bidang pelatihan dan pendampingan, Yayasan Damandiri telah memberikan pelatihan kepada 464 guru pendidikan anak usia dini (PAUD), sebagai salah satu bagian dari upaya pemberdayaan secara menyeluruh melalui pendidikan, guna menyiapkan generasi penerus. Selain itu, juga pelatihan sistem pertanian organik yang diberikan kepada 48 perwakilan petani muda dari berbagai daerah di Tanah Air, yang diharapkan para peserta pelatihan mampu menularkannya kepada petani lain di daerahnya masing-masing.

Juga pelatihan manajemen koperasi kepada 162 peserta, pelatihan peningkatan kemampuan usaha homestay kepada 64 peserta dan pelatihan bahan olahan kepada 150 peserta. Berbagai pelatihan ini diberikan, agar upaya mewujudkan kemandirian dapat terwujud. Pelatihan koperasi diharapkan mampu meningkatkan kemampuan warga dalam mengelola keuangan, dan pelatihan kemampuan usaha homestay dan usaha kecil lainnya diberikan, agar masyarakat miskin benar-benar mengembangkan dirinya.

Hingga Oktober 2017, setidaknya Yayasan Damandiri telah mencanangkan delapan Desa Mandiri Lestari yang tersebar di berbagai daerah di DIY, Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat dan bahkan Nusa Tenggara Barat.

Melalui program Desa Mandiri Lestari, ini, berbagai potensi desa dikembangkan dengan pembangunan yang tepat sasaran, terintegrasi sesuai potensinya. Desa dengan potensi obyek wisata, akan didukung dengan pengembangan objek wisata dan pengelolaannya, dan memberikan bantuan dana pembangunan homestay dengan memanfaatkan rumah-rumah warga. Juga membantunya dari segi pemasaran, melalui promosi wisata secara online sehingga mampu menembus pasar dunia.

Beberapa Desa Mandiri Mandiri Lestari dengan potensi obyek wisata, antara lain terdapat di Dusun Kemusuk, Desa Argomulyo, Kecamatan, Sedayu, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Di dusun ini terdapat obyek wisata Memorial Jenderal Besar HM Soeharto, wisata alam kurst tubing dan kulier khas serta produk jamu gendhong tradisional yang telah dikemas modern. Di Dusun Kemusuk ini, Yayasan Damandri membangun 10 unit homestay dan1 unit Warung Damandiri.

Desa Mandiri Lestari dengan obyek wisata sebagai potensi ekonomi, juga terdapat di Desa Tamanmartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Desa ini merupakan kawasan penyangga pariwisata Candi Prambanan, namun masih banyak masyarakatnya yang hidup di garis kemiskinan. Di Jawa Tengah, Desa Mandiri Lestari juga mengembangkan potensi obyek wisata alam Desa Samiran di Kecamatan Selo, Boyolali, yang merupakan penyangga pariwisata Gunung Merapi dan Merbabu.

Sejauh ini, melalui program Desa Mandiri Lestari, Yayasan Damandiri telah membangun 40 unit rumah bedah rumah dan warung, 32 homestay, 3 Warung Damandiri, 6 Gedung PAUD, Rumah Kemas dan 6 koperasi serba usaha, serta 6 demplot pertanian sebagai upaya peningkatan kemampuan petani dalam menjalankan sistem pertanian organik.

Meninjau salah satu warga penerima bedah rumah dan warung di Desa Trirenggo, Bantul, Senin (30-10-2017).

Upaya pemberdayaan Desa Mandiri Lestari dengan melibatkan pemerintah daerah, juga kalangan akademisi perguruan tinggi sebagai pendamping, ini pun pada akhirnya mendapatkan apresiasi dari sejumlah kepala daerah setempat.

Wakil Bupati Sleman, Sri Muslimatun, mengatakan, program Desa Mandiri Lestari tersebut selaras dengan program pemerintah Kabupaten Sleman, sehingga sangat membantu sekali dalam mempercepat upaya pengentasan kemiskinan di wilayahnya. Hal demikian dikatakan saat menerima kunjungan jajaran pimpinan Yayasan Damandiri, yang diketuai oleh Subiakto Tjakrawerdaya di Rumah Dinas Bupati Sleman, pada Selasa (30/10/2017). Kedatangan jajaran pimpinan Yayasan Damandiri itu guna sosialisasi program Desa Mandiri Lestari yang saat itu hendak dicanangkan di wilayah Kabupaten Sleman.

Sri Muslimatun juga mengatakan, jika Kabupaten Sleman tengah menargetkan menurunkan angka kemiskinan dari 10,69 persen menjadi sekitar 8 persen pada 2021, mendatang. Salah satu caranya dengan memberdayakan masyarakat dengan memaksimalkan kearifan lokal yang dimiliki setiap desa.

“Sama seperti Yayasan Damandiri, kita juga memulai upaya pengentasan kemiskinan dari tingkat desa. Yakni, dengan membangun desa-desa wisata sesuai potensi yang dimiliki. Baik itu pertanian, perikanan, budaya, dan sebagainya. Dengan tambahan kawasan wisata yang ramai, maka UMKM juga akan terangkat”, katanya.

Sementara, Ketua Yayasan Damandiri, Subiakto Tjakrawerdaya, menyatakan, desa penerima program Desa Mandiri Lestari ditargetkan mampu terangkat dari kemiskinan dalam waktu tiga tahun. Melalui program ini, pihaknya ingin menjadikan setiap desa penerima program sebagai desa yang modern, namun tetap berbasis kearifan lokal dengan koperasi sebagai pilar ekonominya.

Ketua Yayasan Damandiri, Subiakto Tjakrawerdaya, saat menyosialisasikan Desa Mandiri Lestari di Kantor Dinas Bupati Sleman, Selasa (30-10-2017). Kedatangan diterima oleh Wakil Bupati Sleman, Sri Muslimatun.

“Dengan demikian, desa ini akan mampu menjadi desa yang memiliki kreativitas dan inovasi, namun tetap menjunjung tinggi kearifan lokal yang dimiliki. Baik itu tradisi atau budaya seperti gotong-royong hingga potensi alam maupun sumber daya manusianya yang ada”, kata Subiakto Tjakrawerdaya, sembari mengimbuhkan, jika dalam upaya tersebut, Yayasan Damandiri membutuhkan dukungan pemerintah daerah setempat, karena bagaimana pun pihaknya mengakui memiliki keterbatasan.

Desa Mandiri Lestari diharapkan mampu menyasar semua desa yang ada di Tanah Air, dan Yayasan Damandiri pun akan terus berkomiten membangun desa berdasarkan Pancasila, agar masyarakatnya sejahtera, mandiri dan bermartabat.

“Desa ini masyarakatnya semua harus sejahtera. Maka, kita harus membuka lapangan kerja sebanyak-banyaknya, sehingga mereka memiliki sumber penghasilan dan mampu meningkatkan penghasilannya. Kita ingin mengolah semua sumber daya yang ada untuk meningkatkan kesejahteraan warga desa”, demikian Subiakto Tjakrawerdaya, saat pencananganan Desa Mandiri Lestari Desa Trirenggo, Bantul, Yogyakarta, di balai desa setempat, pada Rabu (1/3/2017), yang dihadiri oleh salah satu putri Presiden Soeharto, Siti Hediati Haryadi, Titiek Soeharto.

Ketua Dewan Pembina Yayasan Damandiri, M Bob Hasan, didampingi Wakil Bupati Sleman, Sri Muslimatun, saat meninjau stand UKM dalam peluncuran Desa Mandiri Lestari Tamanmartani, Minggu (5-3-2017).
Lihat juga...