Warga Jogja Gelar Aksi ‘Mubeng Beteng’

YOGYAKARTA – Sejumlah warga terdiri dari gabungan elemen umat Islam di DIY menggelar aksi budaya ‘mubeng beteng’ atau mengelilingi benteng Kraton Yogyakarta, Senin (4/12/2017) malam.

Mengenakan tutup kepala dan busana berwarna putih-putih, mereka nampak membawa sejumlah atribut mulai dari obor, bendera merah putih, hingga spanduk berisi tulisan penolakan perubahan Paugeran Kraton Yogyakarta.

Koordinator Panitia, Musthofa W. Hasyim. –Foto: Jatmika H Kusmargana

Memulai start di halaman Masjid Gede Kauman, massa aksi berjalan kaki diiring tetabuhan bunyi drumband khas bregodo Kraton mengelilingi kompleks Kraton dengan arah berlawanan jarum jam, secara bersama-sama.

Koordinator Panitia, Musthofa W. Hasyim, mengatakan aksi budaya ini digelar sebagai bentuk protes warga atas adanya pihak internal Kraton yang ingin mengubah Paugeran Kraton Mataram Islam Kasultanan Yogyakarta.

Sekaligus juga untuk mengingatkan pihak Kraton, agar tetap menjaga paugeran Kasultanan Yogyakarta sesuai perjanjian awal yang menjadi landasan pendirian kerajaan Mataram Islam di tanah Jawa.

“Melalui kegiatan ini, kita ingin mengingatkan pihak Kraton agar tidak mengubah paugeran yang sudah ada, sebagaimana perjanjian para leluhur kerajaan Mataram Islam dulu,” katanya.

Berdasarkan catatan sejarah pendirian kerajaan Mataram Islam, kata Musthofa, tidak pernah ada raja perempuan. Hal itu sesuai dengan perjanjan awal, bahwa Raja Mataram harus bisa dipasangkan secara budaya dengan Kanjeng Ratu Kidul.

“Kalau rajanya perempuan kan tidak match. Jadi, tidak mungkin raja Mataram Islam seorang perempuan,” katanya.

Diikuti ratusan warga, baik itu tokoh masyarakat, budayawan, hingga agamawan, kegiatan ini diklaim mendapat dukungan dari MUI DIY. Bahkan direncanakan acara akan dilepas langsung oleh Ketua MUI DIY, KH. Thoha Abdurrahman, meski hingga acara dimulai yang bersangkutan belum juga hadir.

“Kita mendapatkan dukungan dari MUI DIY. Rencananya kita akan gelar kegiatan ini secara rutin tiap Senin Pon atau Selasa Wage. Ini juga untuk memperingati hari kelahiran Sultan. Masyarakat umum diperbolehkan mengikuti acara budaya ini,” katanya.

Lihat juga...