Usaha Kue Tradisional Sundari Beromzet Puluhan Juta
LAMPUNG — Kecamatan Penengahan Lampung Selatan mempunyai lahan pertanian pisang dan singkong. Komoditas pertanian ini berlimpah menghidupkan peluang dunia usaha.
Veronica Sundari (39), warga Dusun Sumbersari, Desa Pasuruan adalah salah seorang yang memanfaatkan peluang itu. Sejak 2000 ia menekuni usaha pembuatan beragam kue tradisional dari bahan yang mudah diperoleh dari petani di wilayah tersebut.
Ibu rumah tangga ini pemilik usaha rumahan yang diberinya nama usaha rumahan Wijaya dengan harapan meski memiliki usaha rumahan namun bisa memperoleh hasil maksimal.
Sebagai pembuat kue tradisional Sundari beberapa kue yang dibuat di antaranya kue semprong, cucuk gigi, keripik pisang, keripik singkong, peyek kacang tanah, peyek teri serta beragam jenis kue lainnya.
Menurut Sundari pesanan semakin meningkat pada dua momen di mana tingkat kebutuhan kue cukup tinggi. Momen pertama ia mendpaat banyak pesanan pada saat Hari Raya Idul Fitri pada Juli lalu. begitu juga pada Desember awal ia mulai membuat pesanan untuk kebutuhan hari raya Natal 2017 dan Tahun Baru 2017.
“Konsumen sebagian besar memesan kue tradisional dari kami setelah sebelumnya pernah merasakan kue buatan kami. Sebagian konsumen lain mengenal dari grup WhatsApp yang anggotanya para ibu rumah tangga sehingga ikut meningkatkan permintaan,” ujar Sundari saat ditemui Cendana News tengah melakukan proses penggorengan keripik dari pisang tanduk dengan menggunakan tungku kayu di rumah miliknya yang sekaligus menjadi tempat usaha pembuatan kue tradisional, Selasa (5/12/2017)
Usaha rumahan pembuatan kue kue tradisional didukung oleh kelancaran distribusi oleh tingginya permintaan dari perseorangan, sejumlah toko oleh oleh sehingga proses produksi terus berjalan setiap hari dengan bantuan beberapa ibu rumah tangga lain di antaranya Tri, Wati.
Ketika pesanan dalam puncak tingginya pesanan sebanyak 5-7 wanita yang sebagian ibu rumah tangga membantu proses pembuatan kue hingga proses pengemasan.
Kesibukan bahkan dimulai dari proses pengolahan bahan hingga pengemasan saat pesanan dari sejumlah toko dan perseorangan jelang Natal ini semakin meningkat.
Lancarnya usaha rumahan ikut didukung dengan stabilnya harga bahan baku di antaranya terigu, tepung tapioka, gula pasir, vanili, margarin hingga harga gas elpiji ukuran 3 kilogram yang masih terjangkau.
Sekali produksi dengan bahan bahan yang telah disiapkan ia menyebut menghabiskan sekitar 100 kilogram terigu, 50 kilogram gula pasir dan semakin bertambah seiring banyaknya permintaan untuk pembuatan kue semprong dan peyek.
Tingginya permintaan rata rata selama hampir beberapa bulan terakhir dari perseorangan yang akan melaksanakan hajatan pernikahan, hari raya dan tahun baru membuat Sundari mencatat menghabiskan biaya produksi untuk bahan baku dan keperluan lain hingga Rp40 juta.
Meski demikian dengan lancarnya permintaan dan distribusi membuat modal yang dipergunakan tersebut cepat kembali dengan perolehan hingga Rp50 juta untuk semua jenis kue yang dibuatnya.
Salah satu keistimewaan kue kue buatannya diakui Sundari karena pemesan akan menerima kue dalam kondisi masih baru dan dirinya tak pernah menjual kue kue dalam kondisi stok lebih dari sepekan karena mengurangi kualitas rasa semua jenis kue yang dibuatnya.
Pesanan cukup dominan diakuinya berasal dari salah satu mitra penjualan kue di Kota Kalianda dan juga Bakauheni yang menyediakan oleh oleh bagi pelintas yang akan kembali ke Jakarta dan sekitarnya. Selain itu sang suami yang bekerja di Jakarta ikut menjadu distributor menyalurkan beragam kue buatannya langsung ke konsumen.
“Ada konsumen dari Jakarta yang sengaja membeli dan langsung dipaketkan untuk saudaranya yang berada di Singapura terutama jenis peyek dan keripik singkong yang masih baru dibuat langsung dikirim,” beber Sundari.
Sebagian kue hasil usaha rumahan tersebut dengan kemasan diberinya merk dagang Wijaya dijual dengan ukuran rata rata 0,5 kilogram untuk keripik singking dijual Rp20.000, keripik pisang Rp25.000, peyek kacang Rp27.500, peyek teri Rp29.000, semprong Rp25.000 untuk konsumen langsung sementara untuk toko ia memberi harga lebih miring karena akan dijual kembali.
Berdasarkan catatan pada lebaran Idul Fitri lalu ia menyebut telah memproduksi sekitar 500 kilogram kue semprong, 300 kilogram keripik pisang, 200 kilogram keripik singkong serta berbagai jenis kue lainnya.
Permintaan lebih banyak terjadi pada November hingga Desember karena tradisi banyaknya warga yang memiliki hajatan pernikahan dan menjelang hari raya Natal sebagian ibu rumah tangga yang tak sempat membuat kue memilih memesan kepadanya.
“Pesanan kaum ibu dominan kue semprong karena buatan kami renyah dan bukan stok lama sekaligus kue ini jarang orang yang bisa membuatnya sebagian besar memesan kepada kami,” ujar Sundari.
Proses pengemasan menggunakan alat press listrik, sekaligus pengolahan bahan baku masih dikerjakan secara manual membuat usaha rumahan yang semula dikerjakan sendiri mulai berkembang.
Usaha ini mempekerjakan sebagian ibu rumah tangga yang sekaligus memberdayakan kaum wanita di kampung tersebut. Sundari menyebut dengan adanya usaha tersebut ia sekaligus mengajak kaum ibu rumah tangga bisa menggunakan waktu untuk menghasilkan uang dengan memanfaatkan potensi yang ada.
Tri salah satu ibu rumah tangga yang membantu proses pembuatan kue hingga pengemasan dan distribusi menyebut kesibukan membuat kue memberi penghasilan tambahan baginya sehingga bisa dipergunakan untuk membantu ekonomi keluarga.
Menerima penghasilan dengan sistem tenaga kerja harian diakuinya cukup menguntungkan karena dirinya bisa memperoleh penghasilan bulanan dari usaha rumahan yang ada di desa tersebut.
Tri menyebut pemasukan akan tetap mengalir dan sekaligus memanfaatkan hasil pertanian sang suami yang dipergunakan sebagai bahan baku diantaranya pisang kepok dan pisang tanduk.
“Selain bekerja saya juga memaksimalkan potensi kebun yang dimiliki suami agar bisa ditanami jenis pisang untuk bahan baku keripik pisang sehingga tak pernah kesulitan bahan baku,” ujar Tri.
Pesanan sekitar 400 kilogram kue semprong dan 300 keripik pisang yang akan dikirim ke toko oleh oleh di Kalianda dan harus dikirim sebelum pekan kedua Desember terus dikebut. Selain pesanan dari toko sebelum 20 Desember puluhan ibu rumah tangga yang akan merayakan Natal juga memesan beragam kue dari usaha rumahan tersebut.
