Bermodal Vespa, Klinik Kopi Arman Jadi Tren di Samarinda
SAMARINDA — Berawal dari kesukaan akan ngopi, timbulah inspirasi untuk menciptakan tempat ngopi sendiri. Begitulah Bang Arman sapaan akrab laki-laki berusia 30 tahunan ini memulai usaha kopinya sendiri pada 2010.
Dengan menggunakan motor vespa dan modal yang sesuai isi kantong, Arman berjualan kopi sejak 2010 silam. Siapa sangka Klinik Kopi yang ada di Jalan Juanda Kota Samarinda, Provinsi Kalimantan Timur menjadi salah satu tempat tujuan para pecinta kopi di Kota Samarinda. Belakangan tren ngopi menjadi meningkat di kota-kota besar.
“Awalnya sih iseng ya, karena saya suka ngopi akhirnya bikin kecil-kecilan dan ternyata peminatnya banyak,” katanya saat ditemui Selasa, (5/12/2017).
Meskipun banyak tempat ngopi lain Bang Arman tidak ambil pusing karena menurutnya warung kopi miliknya menawarkan konsep yang berbeda. Mulai dari teknik pembuatan kopi dengan cara manual brewing dan campuran kopi Arabica dan Robusta yang di blend secara tepat.
“Untuk kopi kita kirim dari Makassar, dengan campuran Arabica dan Robusta sesuai takaran kita sehingga menghasilkan cita rasa kopi yang maksimal” lanjutnya.
Cara pembayarannya pun tidak akan ditemui di tempat lain, di klinik kopi disediakan kaleng bekas biskuit bertuliskan “bayar di sini” pelanggan dipersilahkan membayar dan mengangsul sendiri sesuai dengan kopi yang dipesan. Arman percaya kepada setiap pelanggannya sehingga dirinya tidak takut dengan manipulasi pelanggan.
“Di sini saya tidak hanya ingin membangun sebuah warung kopi tapi juga keluarga” sambungnya.
Saat ditanya mengapa memilih nama Klinik Kopi pun sama dengan situasi yang dulu dialaminya. Jika dalam sehari tidak minum kopi dirinya bisa merasa pusing sehingga jika sedang merasa pusing masyarakat tidak melulu harus minum obat tapi dengan minum kopi tentu saja rasa pusing itu bisa hilang.
Klinik Kopi buka sejak pukul 12 siang hingga 4 subuh. Pun demikian dirinya tidak perlu merogoh kocek yang besar untuk promosi tempat usahanya. Ia hanya memaksimalkan media sosial dan dari mulut ke mulut, karena menurutnya konsumennya adalah pelanggan yang loyal. Mempekerjakan 9 orang yang sudah dianggap keluarga, dalam seminggu Klinik Kopi bisa menghabiskan sekitar 10 kilogram kopi.
Ditanya soal omzet per bulan Arman enggan menjawab. “Pokoknya cukup lah untuk gaji pegawai dan biaya operasional, meskipun banyak suka dukanya tapi dibawa happy saja” ujarnya.
Selain kopi ada juga “Parjo” yaitu campuran teh hijau susu juga “Koboy”, yaitu campuran teh hitam dan susu. Semua menu dibandrol dengan harga yang terjangkau yaitu 10 ribu rupiah.
Tempat ini pun seringkali menjadi pilihan alternatif ngopi murah kaum muda dan komunitas. Melihat minat masyarakat samarinda yang tinggi terhadap warung kopinya dirinya berniat untuk membesarkan usahanya di kemudian hari.
“Yah, pasti ada niat untuk membesarkan nantinya mau Klinik Kopi ini jadi tren sehingga jika ada orang yang datang ke Samarinda dia harus ke Klinik Kopi,” tutupnya.