Tiga Tahun Terakhir, Kasus HIV/AIDS di Riau, Turun

PEKANBARU – Dinas Kesehatan Provinsi Riau, mencatat jumlah warga setempat yang mengidap penyakit HIV dan AIDS dalam kurun waktu 10 tahun mencapai 4.400 jiwa.

“Dalam 10 tahun penderita HIV/Aids Riau terakumulasi 4.400 jiwa,” kata Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau, Mimi Yuliani Nazir, usai aksi turun ke jalan membagikan bunga dan menempel stiker ‘Saya Berani, Saya Sehat’ sempena hari HIV/Aids se-dunia di Pekanbaru, Jumat (1/12/2017).

Mimi menjelaskan, jumlah tersebut memang tidak merata terdata di tiap tahunnya, yang pasti di pencatatan lima tahun pertama, trend kasusnya meningkat. Namun, seiring waktu memasuki lima tahun kedua, menurun.

“Bahkan, tiga tahun terakhir ini kasus HIV/Aids di Riau angkanya turun,” ujar Mimi.

Mimi membandingkan angka temuan HIV/Aids di 2016 jumlahnya ada 572 penderita, namun hingga Oktober 2017 baru ada 280 kasus. “Ini artinya ada penurunan hampir separuhnya,” imbuh dia.

Penurunan jumlah kasus ini, sebut Mimi, bisa oleh dua faktor, pertama memang benar penderitanya yang menurun, artinya warga mulai sadar dan menjaga perbuatan yang menyebabkan tertular HIV/Aids.

Kedua, bisa karena masyarakat yang mulai enggan memeriksakan diri ke klinik Voluntary Counseling and Testing atau konsel AIDS dan test (VCT), sehingga tidak terjaring atau terdatanya penderita baru.

“Kita tidak menampik orang belakangan makin enggan memeriksakan diri ke klinik VCT, karena adanya stikma di masyarakat, bahwa HIV/Aids itu penyakit kutukan yang tidak bisa disembuhkan,” tutur Mimi.

Padahal, pendapat itu salah, karena walau virus HIV/Aids tidak dapat dimusnahkan dari tubuh penderita, namun dengan obat-obatan yang tersedia kini bisa ditekan pertumbuhannya.

Apalagi, jika rutin dikonsumsi seumur hidup oleh penderita usianya justru bisa lebih panjang dan tetap mampu beraktivitas seperti orang normal.

“Pemahaman inilah yang terus perlu disosialisasikan ke masyarakat, bahwa penderita HIV/Aids bisa hidup normal, dan orangnya tidak perlu dikucilkan dan ditakuti,” tutur Mimi.

Ia menambahkan, selama ini upaya Dinkes memberikan penyuluhan edukasi, bahwa HIV/Aids itu sama dengan penyakit lainnya, terus dilakukan hingga pelosok kabupaten/kota.

“Fasilitas layanan pemeriksaan dan obat juga kita siapkan klinik VCT yang tersedia di semua Rumah Sakit kabupaten/kota. Bahkan, di Pekanbaru hampir semua Puskesmas melayani,” tegasnya.

Dia menambahkan, Dinkes bekerja sama dengan stakeholder terkait seperti Dinas Sosial dan Satpol PP mendatangi beberapa pusat kegiatan khusus atau kunci yang menjadi lokasi berjangkitnya HIV/Aids seperti tempat hiburan malam, panti pijat dan sebagainya untuk pemeriksaan sekaligus penyuluhan. (Ant)

Lihat juga...