Penghasilan Pabrik PCC di Solo, Rp2,7 Miliar/ Bulan

SOLO — Badan Narkotika Nasional (BNN) berhasil mengungkap sebuah rumah yang dijadikan pabrik pembuatan narkotika jenis  PCC di Solo,  Jawa Tengah.  Rumah di  jalan Setya Budi, Kampung Cinderejo RT 1 RW 4, Kelurahan Gilingan, Kecamatan Banjarsari, Solo itu digrebek BNN pada, Minggu (3/12/2017). 

Kepala BNN, Budi Waseso, merilis langsung hasil ungkap pabrik pembuatan narkoba jenis obat  kesehatan yang telah ditarik dari pasaran sejak 2013 itu.  Didampingi Wakapolda Jateng, Brigjen Pol Indrajit dan Wali Kota Solo, FX Hadi Rudyatmo, Buwas menyebutkan jika hasil yang diperoleh merupakan hasil penyelidikan selama 5 bulan.

“Mulai dari kasus Kendari, Sulawesi Tenggara, kemudian Kalimantan, hingga Jakarta. Dari situ akhirnya kita temukan di Semarang dan Solo. Setelah melakukan pengintaian, baru kemarin kita grebek pabrik PCC,” ungkapnya kepada awak media, dalam jumpa pers, Senin (4/12/2017).

Saat penggrebekan itu, petugas menemukan 50 juta lebih pil PCC. Sementara di Semarang, kata Buwas, BNN hanya mendapatkan sekitar 3 juta butir PCC. Dari dua lokasi yang berbeda itu, BNN  menangkap 11 pelaku, 2 di antaranya diduga sebagai bandar.

“Dua yang diduga sebagai bandar ini Joni dan Ronggo sebagai pemilik pabrik dan penyandang dana. Setelah tahu di grebek, Ronggo yang saat itu berada di Tasikmalaya berusaha kabur ke Singapura,” kata dia.

Hasil penyelidikan BNN, Ronggo merupakan tokoh penting dalam peredaran PCC di Indonesia. Sebab, dialah yang selama ini sering berkunjung ke India dan Cina. “Dari hasil penyelidikan paspornya, diketahui dia sering ke India dan Cina, karena bahan baku PCC ini dari dua negara itu,” jelas Buwas.

Menurut mantan Kabereskrim Mabes Polri itu, skala pabrik PCC yang ada di Solo, termasuk besar. Bahkan, dengan teknologi yang dimiliki, pabrik PCC yang berlokasi di belakang Terminal Tirtonadi Solo itu menjadi sentral peredaran PCC. Omset yang didapatkan dari produksi pil terlarang cukup besar, yakni per bulan mencapai miliaran rupiah.

“Kita prediksi kasar saja, pabrik ini bisa menghasilkan bersih Rp2,7 miliar yang diterima Joni tiap bulannya. Omset ini setelah dikurangi untuk karyawan dan lain-lain,” urai pria kelahiran Pati, Jawa Tengah itu.

Guna menyembunyikan keuangannya, lanjut dia, pelaku memasukkan uangnya ke sejumlah rekening yang dimiliki. BNN menyakini, pabrik PCC ini sudah beroperasi cukup lama, sehingga mempunyai jaringan yang cukup rapi. Yakni, mulai dari impor bahan baku dari Cina dan India, sampai dengan produksi dan pemasarannya.

Lebih lanjut, Buwas menerangkan, pabrik pembuatan pil ilegal ini memproduksi dalam dua jenis, yakni PCC dan PCC yang dibubuhi nama Zenith. “Komposisinya sama antara PCC dan Zenith ini.  Kita tidak yakin kalau pabrik ini baru beroperasi 6 bulan. Apalagi, dengan peralatan mesin sudah elektrik dan impor semua, tentu ini sudah pabrik canggih,” imbuhnya.

Pasca ditemukan pabrik PCC di Solo, BNN akan kerja sama dengan Polri untuk mengusut tuntas siapa saja yang terlibat di dalamnya. Termasuk, siapa saja yang selama ini memesan dan menggunakan PCC.

“Kita juga sasar siapa tim ahlinya. Karena ini membuat dengan menakar bahan-bahannya, tentu ada yang mengajari atau paling tidak ahlinya,” pungkasnya.

Lihat juga...