JERUSALEM – Para pejabat Israel mengatakan negaranya siap menanggapi dengan balasan setiap serangan yang muncul dari Jalur Gaza. Pernyataan tersebut dikeluarkan sehari setelah terjadinya serangan dan serangan balasan di wilayah tersebut.
Pertikaian tersebut terjadi setelah gerilyawan yang berpusat di Jalur Gaza menembakkan sedikitnya selusin peluru mortir ke tentara di dekat pagar pemisah antara Israel dan daerah kantung Palestina tersebut. Tembakan dari Jalur Gaza itu dilaporkan sebagai pembalasan atas ditembaknya seorang warga desa Palestina oleh seorang pemukim Yahudi di Tepi Barat Sungai Jordan pada Kamis (30/11/2017) pagi.
Seorang juru bicara militer Israel mengatakan peluru mortir tersebut ditujukan ke satu pos posisi militer yang berada di sebelah pagar perbatasan. Menurut juru bicara tersebut, penembakan mortir itu tidak merenggut korban mesikupun hanya cedera. Tetapi menimbulkan kerusakan kecil pada tempat militer Israel dan tentara harus menghentikan pembangunan bangunan penting yang sedang mereka kerjakan.
Selain itu, layanan kereta antara Kota Kecil Sderot di bagian selatan dan Kota Ashkelon dihentikan untuk sementara karena khawatir mengenai serangan lain. Belum ada organisasi yang mengaku bertanggung-jawab atas serangan tersebut. Namun tak sampai satu jam kemudian, Israel menyerang Jalur Gaza dengan menggunakan tank dan pesawat udara.
“Tank IDF (Pasukan Pertahanan Israel) dan pesawat IAF (Angkatan Udara Israel) menyerang empat pos militer di bagian utara Jalur Gaza. Dua pos itu milik HAMAS, organisasi yang menguasai Jalur Gaza, dan dua lagi milik Jihad Islam, kelompok gerilyawan yang berpusat di Jalur Gaza,” kata sebuah pernyataan militer Yahudi, Jumat (1/12/2017).
Pernyataan tersebut menambahkan militer Yahudi menganggap HAMAS bertanggung-jawab atas setiap kegiatan yang bermusuhan yang dilakukan terhadap Israel dari Jalur Gaza.
Beberapa jam kemudian, satu pesawat Israel membom Jalur Gaza lagi, dan melukai tiga orang, kata Kementerian Kesehatan Palestina di Jalur Gaza. Militer Israel mengeluarkan pemberitahuan yang mengatakan pesawat itu membidik dua pos militer lagi yakni milik organisasi di bagian tengah Jalur Gaza meski tidak dirinci mengenai sasaran khusus tersebut.
Juru Bicara Militer Israel Let. Kol. Jonathan Conricus mengatakan, warga Jalur Gaza tak menerima pemberitahuan sebelum pemboman tersebut, sebab tak ada warga sipil di dekat posisi HAMAS dan Jihad Islam semua yang ada di lokasi tersebut adalah sasaran militer.
DiIa mengatakan bom mortir itu ditembakkan oleh anggota Jihad Islam tapi Israel menganggap HAMAS bertanggung-jawab. “Kami tahu secara pasti siapa yang melakukan serangan ini. Kami bahkan mengenal nama mereka, tapi kami menganggap HAMAS bertanggung-jawab atas setiap tindakan bermusuhan yang berasal dari Jalur Gaza terhadap Israel,” tandasnya.
Sementara itu, seorang warga Israel dan seorang warga Palestina dilaporkan tewas pada Kamis (30/11/2017) dalam dua kejadian terpisah di Israel dan Tepi Barat. Seorang pria Israel ditikam hingga tewas di kota Arad, Israel selatan, dalam serangan yang disebut polisi sebagai serangan teroris. “Penyelidikan terus berlanjut dan satuan polisi mencari tersangka, yang melarikan diri dari tempat kejadian itu,” kata juru bicara polisi.
Sebelumnya pada hari yang sama, seorang pemukim Israel menembak dan membunuh seorang warga Palestina di Tepi Barat, yang dikatakan tentara Israel sebagai tindakan balasan atas serangan warga Palestina, yang melempar batu, yang dibantah warga Palestina.
Militer Israel mengatakan bahwa pelaku penembakan tersebut melakukan tindakan itu sebagai pembelaan diri. Dia adalah bagian dari kelompok pemukim di dekat desa Qusrah, yang mendapat penyerangan. Warga desa setempat mengenali warga Palestina yang tewas itu sebagai Mahmoud Odeh, seorang petani berusia 48 tahun. Mereka membantah bahwa telah terjadi bentrokan apapun sebelum penembakan tersebut.
Presiden Palestina Mahmoud Abbas dalam pernyataan yang disampaikan kantor kepresidenan Palestina mengutuk peristiwa tersebut dan menyebutnya sebagai tindakan pengecut. “Merupakan bukti sebuah tindakan kejahatan yang kejam oleh pemukim terhadap warga Palestina yang tidak bersenjata,” kata Abbas dalam pernyataan tersebut.
Militer Israel mengatakan bahwa tentara tiba di tempat kejadian setelah peristiwa penembakan terjadi. Polisi Israel mengatakan bahwa mereka sedang menyelidiki kejadian tersebut.
Gelombang serangan jalanan warga Palestina, yang dimulai dua tahun lalu, sebagian besar terhenti dan jarang terjadi, namun dua peristiwa mematikan itu terjadi dalam hari yang sama. (Ant)