Supi Tawa, Ritual Memanggil Keris Pusaka dari Dalam Tanah

MAUMERE — Masyarakat adat Tana Ai Boganatar desa Kringa kecamatan Talibura kabupaten Sikka, Senin (20/11/2017) menggelar ritual adat Glen Mahe yang dilaksanakan lima tahun sekali sebagai ucapan syukur atas segala berkat yang diterima dari Sang Pencipta, Ina Nian Tana, Lera Wulan Reta, sang penguasa langit dan bumi.

Selama hampir sepekan ratusan warga berkumpul di tenda yang disiapkan di rumah kepala suku untuk melaksanakan serangkaian ritual adat. Pada acara puncaknya dilakukan selama 2 hari di Namang, tempat digelarnya ritual adat yang berada di puncak bukit berjarak sekitar 500 meter dari pemukiman warga.

Sehari menjelang puncak ritual, Kamis (23/11/2017) terlebih dahulu dilaksanakan Supi Tawa. Dalam ritual ini, dilakukan pemanggilan keris pusaka yang diletakan di dalam tanah di tengah hutan.

Salah seorang tetua suku yang ditemui Cendana News, Yosef Tote mengatakan, keris pusaka berbentuk belah ketupat tanpa gagang sepanjang 20 sentimeter ini awal mulanya ditemukan oleh leluhur mereka di lokasi tempat digelarnya ritual adat.

Keris ini jelas Yosef, muncul dari dalam tanah namun karena nenek mereka kaget dan berteriak. Hal tersebut menyebabkan gagang keris kembali masuk ke dalam tanah dan yang muncul hanya kerisnya saja.

Selain itu, setiap orang dilarang memegang atau menyentuhnya karena pans. Bila dipegang maka orang tersebut akan selalu emosi dan mudah marah.

“Bahkan orang yang dipukulnya, pasti akan meninggal sehingga dilarang memegang keris tersebut,” ujarnya.

Karena memiliki hawa panas, terang Yosef, maka keris pusaka ini setelah acara adat Glen Mahe selesai maka akan dikembalikan lagi ke tempat semula dengan menggelar ritual adat.

“Saat dibutuhkan maka keris tersebut bisa dipanggil kembali. Misalnya ada peperangan atau ancaman dari pihak lain yang sangat mengganggu ketentraman kampung. Selain itu, keris ini juga diyakini sebagai pelindung suku dan kampung,” ungkapnya.

Yohanes Yan Lewar yang menjabat sebagai Marang atau panglima perang adat suku Tana Ai Boganatar menjelaskan, keris Tawa Tana ini setelah dipanggil akan dibawa ke Namang dan diletakan di dalam Woga atau rumah adat.

Yosef Tote, tetua adat suku Lewar (dua kiri) bersama tetua adat lainnya membawa Keris Tawa Tana yang diyakini sebagai pelindung kampung dan segenap anak suku. Foto : Ebed de Rosary

Selama pagelaran ritual adat di Namang dan Mahe, keris tetap berada di Woga. Hal tersebut karena benda pusaka tersebut diyakini sebagai pelindung bagi segenap anak suku dan semua yang hadir dalam pagelaran ritual hingga selesai.

“Keris ini bisa menghalau segala niat jahat dari luar yang ingin mengacaukan pagelaran ritual adat yang sedang berlangsung. Juga diyakini sebagai penolak bala, menghalau segala kejahatan yang datang dari luar kampung,” paparnya.

Lihat juga...