Produksi Padi Varietas Muncul Masa Panen Gadu Petani Palas Meningkat

LAMPUNG — Sejumlah petani di Desa Palas Jaya, Kecamatan Palas, Kabupaten Lampung Selatan masih melakukan proses pemanenan padi pada masa tanam gadu (kemarau) dengan dominan petani di wilayah tersebut menanam Padi Varietas Muncul.

Barus (50), salah satu petani di wilayah tersebut menyebut menanam varietas muncul pada masa tanam gadu karena produksinya lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya. Hasilnya pada lahan seperempat hektare saja dirinya berhasil memperoleh sekitar 3 ton atau hasil sebanyak 12 ton gabah per hektare.

Penanaman pada musim gadu atau kemarau diakui oleh Barus sangat menguntungkan bagi petani di Palas karena merupakan kawasan dataran rendah dengan potensi banjir dari limpasan air Sungai Way Pisang kerap melanda wilayah tersebut terutama saat musim tanam rendeng (hujan). Sebagai petani penyewa lahan ia mengaku berani menyewa lahan seluas satu hektar selama masa tanam gadu karena resiko banjir dan hama lebih bisa diminimalisir.

“Sebagian besar petani di wilayah Palas sengaja menanam varietas padi muncul karena memperhatikan kondisi lahan serta ketahanan varietas tersebut pada penyakit namun untuk masa tanam rendeng kemungkinan kami akan menanam varitas Ciherang,” tutur Barus salah satu petani saat ditemui Cendana News tengah menunggu para pekerja melakukan panen padi pada lahan miliknya di  Kecamatan Palas, Selasa (28/11/2017)

Pada masa tanam gadu ia bahkan menyebut serangan hama terbilang cukup tminim meski ia mengaku tetap menggunakan beberapa obat kimia pengusir hama dan gulma berupa fungisida, herbisida serta pestisida.

Meski diakuinya populasi hama bisa dikendalikan dengan adanya pola tanam serentak oleh para petani di wilayah tersebut. Resiko yang minim akan serangan hama tersebut membuatnya dan sebagian petani penyewa lahan berani melakukan penanaman padi dengan sistem sewa lahan.

Sistem sewa lahan diakui Barus pada masa tanam gadu lebih mahal seharga Rp10juta perhektar sementara pada musim rendeng hanya mencapai Rp8 juta perhektar dengan memperhitungkan tingkat resiko kegagalan panen serta hasil yang diperoleh.

Pada masa tanam musim gadu dengan biaya sewa lahan Rp10 juta bagi petani yang memperoleh hasil panen sebesar 10 ton dengan harga perkilogram gabah saat ini mencapai Rp5000 per kilogram atau Rp500 ribu per kuintal, petani bisa memperoleh hasil sekitar Rp50 juta.

“Sementara hasil untuk satu hektar bisa mencapai dua belas ton sisanya dipergunakan sebagai stok untuk makan keluarga atau dijual dalam bentuk beras sementara uang penjualan bisa digunakan menutup modal, biaya sewa dan biaya operasional selama musim tanam gadu,” terang Barus.

Keuntungan menanam padi saat musim gadu untuk jenis varietas muncul pertumbuhan padi cukup berisi dengan pasokan sinar matahari yang lebih baik. Selain itu, ia memastikan tidak ada serangan hama. Sementara kebutuhan air dilakukan dengan melakukan proses pemompaan dengan mesin pompa sehingga tidak terjadi kekeringan.

Sementara pada musim rendeng yang diperkirakan akan dilakukan pada bulan Februari 2018 ia menyebut kerap kuatir akan serangan hama termasuk faktor kelembaban tinggi sekaligus kerugian jika terjadi banjir. Faktor tersebut jugalah yang diakuinya menjadi penyebab pemilik lahan menyewakan lahannya lebih rendah dibandingkan masa tanam gadu.

Masa panen pada masa tanam gadu di penghujung bulan November ini juga menjadi berkah bagi para pemilik mesin combine harvester atau pemanen padi dengan sistem sewa alat per hektare saat ini mencapai Rp2 juta dan bisa melakukan pemanenan sekitar 2 jam. Selain itu bagi Agus dan beberapa rekannya sesama kuli angkut gabah yang mengandalkan tenaga serta sepeda bisa mendapatkan upah sekitar 10.000 per karung.

“Hasilnya cukup lumayan jika satu pemilik lahan padi saya bisa membawa sepuluh karung tidak sampai sehari saya bisa mendapat seratus ribu bahkan lebih apalagi saat ini hasil panen padi petani melimpah,” beber Agus.

Keberadaan mesin pemanen padi diakuinya memang menggeser tenaga manusia namun dari sisi efesiensi waktu pemanenan bisa dilakukan lebih cepat dan masih bisa memberi pekerjaan tambahan bagi kuli angkut seperti dia dan rekan rekannya.

Dalam sekali panen mereka bisa memperoleh hasil menjadi tenaga upahan jutaan rupiah setiap pekannya dari belasan bahkan puluhan pemilik lahan padi. Kondisi cuaca yang bagus saat musim tanam gadu bahkan membuat sepeda bisa masuk ke areal persawahan dibandingkan saat musim rendeng dengan kondisi sawah banjir dan becek.

Pemanenan padi dilakukan menggunakan mesin pemanen padi (combine harvester) dengan waktu panen lebih cepat/Foto; Henk Widi.
Lihat juga...