Presiden Serahkan SK Pemanfaatan Hutan bagi Petani
MADIUN – Presiden Joko Widodo memberikan surat keputusan (SK) pemanfaatan hutan kawasan hutan negara oleh masyarakat yang dilindungi pemerintah dalam bentuk pengakuan dan perlindungan kemitraan kehutanan, Senin (6/11/2017) di Desa Dungus, Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun.
Sebanyak 2.890,65 hektare dibagikan kepada 1.662 KK yang mencakup Kabupaten Tulungagung, Kabupaten Madiun, dan Kabupaten Tuban. Ratusan petani ini dijanjikan bisa memanfaatkan lahan hutan selama 35 tahun.
“Panjenengan (Anda-red) jangan senang dulu harus bekerja keras, kalau ditelantarkan, langsung cabut ijinnya,” jelas Jokowi di tengah acara di hadapan para petani.
Supaya lahan bermanfaat bagi masyarakat semua, lanjutnya, biar masyarakat yang mengolah lahan tidak bingung masalah perijinan karena dengan adanya surat ijin bisa berkekuatan hukum.
“Tapi yang sudah diberi surat ijin jangan senang dulu, harus digarap betul, 6-12 bulan kedepan saya bakal cek,” ujarnya.
Masing-masing petani mendapatkan maksimal 2 hektare lahan untuk diolah, selain itu juga harus tergabung ke dalam Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH). Petani diperbolehkan menanam jagung, porang, kakao dan jeruk lemon yang merupakan produk ekspor.
“Jagung saat ini harganya sudah mulai bagus dibandingkan tahun 2015 lalu, karena jagung impor sudah tidak ada lagi,” cakapnya.
Ia berharap lahan yang sudah diberikan ini bisa dimanfaatkan betul oleh petani. Sesuai dengan tagline yang ia usung kerja, kerja, kerja, petani harus kerja keras merawat tanamannya masing-masing.
“Supaya semua sejahtera, petani harus merawat tanamannya, nanti saya cek,” terangnya.
Selain memberikan surat ijin, BUMN dan Bank BNI memberikan bantuan alat pertanian untuk tiga kelompok tani dari Madiun, Tulungagung dan Tuban berupa tiga kultivator, sembilan mesin penanam jagung, tiga mesin pemipil jagung dan delapan pompa air.
Salah satu petani, Basuki saat ditanyai Jokowi mengungkapkan, dirinya senang mendapatkan bantuan ini. Ia bercerita menanam jagung di lahan seluas 0,5 hektare.
“Satu kali panen bisa 3,6 ton pak,” tuturnya.
Gubernur Jawa Timur, Soekarwo dalam sambutannya menambahkan jika saat ini Jepang membutuhkan impor porang dari Indonesia sebanyak 60%.
“Dan kita baru bisa mengirim 40%, kurang 20% lagi ini kesempatan bagus,” pungkasnya.
